Saya Punya Anak Perempuan, Masa Jual Anak Gadis?

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Terbukti menjual dua gadis sebegai pekerja seks, Alok Kustianik (42), warga Majalaya, Bandung, divonis tiga tahun penjara oleh majelis hakim yang diketuai Gusti Ngurah Oka Diputra, di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya,Rabu (7/12/2011).

Usai persidangan ibu empat anak ini menangis sesunggukan dan membantah telah menjual anak gadis orang. Alok berdalih datang ke Surabaya diajak ngelencer tetangganya. “Saya punya anak perempuan masa saya menjual anak gadis. Saya tidak tahu kalau diajak mengantar Keke kerja di lokalisasi (Moroseneng),” ujar Alok.

Meski menolak dakwaan, Alok tidak akan mengajukan banding. Dia khawatir di Pengadilan Tinggi (PT) hukumannya akan lebih berat. “Dua anak saya masih sekolah SD dan SMP, sekarang diasuh tetangga karena anak pertama saya baru melahirkan. Saya pengen cepat keluar,” katanya.

Pengakuan Alok ini berkebalikan dengan putusan majelis hakim yang memastikan terdakwa melanggar pasal 2 ayat 1 UU No 21 tahun 2007 tentang tindak pidana penjualan orang alias traficking terhadap Lia dan Keke.

Perkara ini bermula ketika dua korban berkenalan dengan Astri, teman terdakwa yang kini buron. Mereka dijanjikan kerja di restoran Jakarta dengan gaji Rp 500 ribu per bulan. Astri lalu mengajak kedua korban ke rumah terdakwa Alok di Kampung Kebonsawo, Desa Sarimahik, Kecamatan Ciparai, Kabupaten Bandung.

Di rumah tersebut, sudah ada empat laki-laki Deden, Deki, Bejo dan Ujang. Tidak lama kemudian dua korban itu berangkat bersama Alok dan Deden (menantu Alok). Namun tujuannya bukan ke Jakarta melainkan ke lokalaisasi Dolly Surabaya.

Tidak laku di jual Dolly, Alok dan Dede menawarkan dua gadis itu ke mucikari Martin di lokalisasi Moroseneng. Kedua korban dijual dengan harga Rp 2 juta. “Perbuatan terdakwa telah merusak masa depan korbannya,” terang hakim Oka.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.