"Saya Terjebak di Langkan, Menyaksikan Orang-Orang Meregang Nyawa"

Merdeka.com - Merdeka.com - Para penyintas dari tragedi pesta Halloween di Kora Selatan mengungkapkan kengerian melihat teman-teman mereka dan pengunjung lainnya meregang nyawa di gang sempit, ketika suara musik dansa berdentum di malam hari.

Sedikitnya 153 orang tewas ketika kerumunan orang terjebak di distrik Itaewon, Seoul, saat merayakan pesta Halloween pada Sabtu (29/10) malam.

"Orang-orang mulai terdorong dari belakang, seperti ombak, tidak ada yang bisa kamu lakukan," kata Nuhyil Ahammed kepada BBC pada Minggu sore.

"Saya tidak bisa tidur semalam. Saya masih melihat orang-orang meregang nyawa di depanku," lanjutnya.

Pria 32 tahun itu mengatakan dia terjebak dalam kerumunan dan tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan diri maupun menyelamatkan orang lain.

Sejumlah video insiden itu tersebar di media sosial. Beberapa video menunjukkan, sebagian besar remaja atau mereka yang berusia 20 tahunan, berjejalan di gang sempit sampai mereka tidak bisa bergerak.

Mereka lalu mulai terdorong ke berbagai arah. Beberapa orang jatuh ke tanah. Sejumlah orang lainnya tak bisa bernapas.

Diperkirakan 100.000 orang hadir dalam pesta Halloween tersebut, yang dirayakan pertama kalinya dalam tiga tahun sejak pandemi Covid.

Selain menelan ratusan korban jiwa, sedikitnya 82 orang terluka dalam tragedi tersebut.

Menteri Dalam Negeri Korea Selatan, Lee Sang-min mengatakan beberapa korban belum bisa teridentifikasi karena mereka masih berusia di bawah 17 tahun dan tidak memiliki KTP.

Presiden Korea Selatan, Yoon Suk-yeol telah meminta dilakukan investigasi untuk memastikan penyebab insiden tersebut dan mengumumkan hari berkabung nasional sampai 5 November.

Ahmammed, pendatang dari India yang tinggal di Seoul mengatakan dia datang bersama teman-temannya ke Itaewon. Dia ikut masuk ke gang sempit itu karena itu merupakan lokasi tongkrongan populer kawula muda yang suka pesta. Tapi segera setelah dia terjebak dalam kerumunan, dia tahu ada hal yang salah.

Dia juga sempat jatuh tapi bisa menepi di gang tersebut. Dia juga berhasil memanjat ke sebuah langkan, serambi yang agak tinggi di gang sempit tersebut.

"Orang-orang meregang nyawa, berteriak, terinjak, jatuh, banyak sekali orang," kata Ahammed.

"Saya di tangga itu hanya melihat semuanya terjadi. Mereka tidak tahu harus ngapain dan tidak ada yang bisa kami lakukan."

Dia merasa sangat putus asa melihat orang-orang mengembuskan napas terakhir mereka. Dia mengkhawatirkan teman-temannya dan berusaha menelepon mereka tapi tidak ada jawaban. Beberapa jam kemudian dia dapat informasi teman-temannya bisa keluar dari kerumunan.

Dia tidak tahu apa yang terjadi sampai massa yang berjejalan itu bisa terurai dan ambulans tiba.

"Mereka mulai menarik mayat-mayat dari bawah," ujarnya.

"Ada satu laki-laki, dia tahu temannya itu sudah meninggal tapi dia tetap memberikan dia napas buatan selama 30 menit."

Lalu di dekat anak muda itu ada beberapa orang yang merias wajah mereka seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Namun setelah itu, ambulans dipenuhi korban luka yang harus dibawa ke rumah sakit.

Beberapa jam kemudian, mayat-maya yang masih mengenakan kostum Halloween berjejer di sepanjang jalan ditutupi selimut. Sejumlah orang memasukkan mayat-mayat ke dalam ambulans. Warga dan ratusan petugas kedaruratan berusaha memberikan pertolongan pertama bagi korban yang masih pingsan. [pan]