SBY Kembali Curhat, Singgung Sahabat yang Sangat Melukainya

Bayu Nugraha, Anwar Sadat
·Bacaan 2 menit

VIVA – Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY, kembali menuangkan curahan hatinya melalui sebuah tulisan. Kali ini SBY menggunakan penulisan yang cukup puitis dan menceritakan kegundahan hati yang dialaminya.

"Malam itu Cikeas bagai kota mati. Atau seperti dusun kecil yang terbentang di kaki bukit yang sunyi. Suasana sungguh mencekam, hening dan sepi. Ketika kubuka jendela di dekat sajadah mendiang istriku, yang sedikit lusuh namun menyimpan kenangan yang teramat dalam, yang kini menjadi teman setiaku ketika aku bersujud ke pangkuan Illahi, di kejauhan kupandangi langit yang pekat kehitaman. Tak ada cahaya rembulan atau gemerlapnya bintang bintang," kata SBY mengawali tulisannya yang diterima awak media Kamis 18 Maret 2021.

SBY dalam tulisan ini, SBY menceritakan suasana Cikeas yang gelap sehabis hujan di sore hari. "Tinggal derak pohon dan dedaunan yang terdengar lirih berdesir. pertanda angin malam masih menyapa dan menghampiri," ujar SBY.

Dalam keheningan malam itu, SBY memikirkan berbagai macam ujian dan cobaan yang dilalui. Bahkan SBY juga menyinggung adanya perlakuan dari sosok yang ia anggap sebagai sahabat tetapi justru melukainya.

"Di keheningan malam itulah, aku berkontemplasi untuk mencari hikmah dari cobaan baru yang kualami. Dalam kekuatan iman yang kumiliki, aku bertanya kepada Sang Pencipta, juga mengadu, mengapa cobaan ini mesti datang seperti ini. Perbuatan dan perlakuan sejumlah "sahabat" yang sangat melukaiku. Juga melukai orang-orang yang setia, yang mencintai dan berjuang di sebuah perserikatan partai politik, yang selama 20 tahun aku juga ikut bersamanya," kata SBY.

Menurut SBY, peristiwa yang menimpanya saat ini sungguh tak pernah dibayangkan. Partai yang diperjuangkannya selama puluhan tahun tersebut kini tengah dihantam badai yang dahsyat.

"Sesuatu yang tak pernah kubayangkan bahwa itu bakal terjadi. Sesuatu yang menabrak akal sehat, etika dan budi pekerti. Juga bertentangan dengan sifat keperwiraan dan kekesatriaan," ujarnya.

Pria kelahiran pacitan ini pun mengalami apa yang disebut percakapan bathin mengenai apa yang saat ini dialaminya dan bagaimana langkah yang seharusnya dilakukan. Pada akhirnya SBY meyakini kebenaran dan keadilan pasti akan datang kapanpun itu.

"Aku dilahirkan untuk mencintai kedamaian. Bukan pertentangan dan kekerasan. Namun, bagaimanapun aku lebih mencintai kebenaran dan keadilan. Jika kebenaran dan keadilan tegak, damailah hati kita. Damailah negara kita. Damailah dunia kita," ujar SBY.

SBY juga berdoa, "Ya Allah, kabulkanlah permintaanku akan hadirnya kedamaian, kebenaran dan keadilan di negeri tercinta ini. KepadaMu aku berserah diri, dan kepadaMu aku memohon pertolongan," ujarnya.

Baca juga: Prahara Demokrat, AD/ART 2020 yang Istimewakan Kewenangan SBY Dikritik