SBY Setuju Cara Jokowi Soal Konflik di Myanmar

Dusep Malik, Anwar Sadat
·Bacaan 1 menit

VIVA – Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), turut menyoroti peristiwa kudeta yang terjadi di Myanmar. Dalam mengatasi kekisruhan yang terjadi di Myanmar, SBY mengaku setuju dengan apa yang diusulkan oleh Presiden Jokowi, yaitu melaksanakan Pertemuan Tingkat Tinggi atau High Level Meeting.

SBY mengungkapkan hal tersebut melalui akun media sosial twitter yang dimilikinya. Cuitan tersebut diberi tanda *SBY* yang berarti dituliskan langsung oleh Presiden RI ke-6 tersebut.

"Sebagai mantan Presiden, saya dukung usulan Presiden Jokowi agar dilaksanakan ASEAN High Level Meeting (HLM) untuk isu Myanmar," kata SBY yang dikutip Sabtu, 20 Maret 2021.

Menurut SBY, usulan tersebut dinilai sangat tepat untuk merespons kondisi di Myanmar yang saat ini semakin mengkhawatirkan. SBY mengatakan, Indonesia adalah negara yang memiliki tradisi menciptakan perdamaian dan penjaga kedamaian.

Setelah pertemuan tingkat tinggi dilakukan, SBY menyarankan agar diiringi dengan ASEAN Summit atau pertemuan antara pemimpin-pemimpin negara di ASEAN. Itu berguna agar hasil dari pertemuan tingkat tinggi lebih maksimal.

"Inisiatif ini tepat, sesuai tradisi Indonesia sebagai peacemaker & peacekeeper di dunia. Setelah HLM tentu dilanjutkan dengan ASEAN Summit agar lebih powerful," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan Presiden Jokowi mengamati kondisi Myanmar yang menurutnya makin memprihatinkan. Kekerasan bahkan menelan nyawa demi nyawa warga sipil terjadi setelah kudeta militer dan penangkapan Aung San Suu Kyi, pemimpin dari hasil pemilu.

Bahkan baru-baru ini, terjadi pembatasan akses internet dan penghentian surat kabar di negara tersebut.

"Atas nama pribadi dan seluruh rakyat Indonesia saya menyampaikan duka cita dan simpati yang dalam kepada korban dan keluarga korban akibat penggunaan kekerasan di Myanmar. Dan Indonesia mendesak agar penggunaan kekerasan di Myanmar segera dihentikan sehingga tidak ada lagi korban berjatuhan," kata Jokowi dalam keterangannya dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Jumat 19 Maret 2021.