SD Negeri di Solo Cuma Dapat 1 Siswa Baru, Ini Langkah Gibran

Merdeka.com - Merdeka.com - Sistem zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) secara daring membuat sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Solo sepi peminat. Salah satunya adalah SDN Sriwedari No 197 yang hanya mendapat 1 siswa, padahal kapasitas ruang kelas tersedia 28 kursi.

Tak hanya SDN Sriwedari No 197 yang terkena imbas sistem zonasi. Menurutdata ppdb.surakarta.go.id, sedikitnya ada 28 SD yang masih kekurangan siswa. Bahkan beberapa sekolah jumlah peserta didik baru kurang dari 10 orang.

Kondisi ini di antaranya terjadi di SDN Ketelan No 12 yang hanya mendapatkan 4 siswa, SDN Cinderejo 9 siswa, SDN Kabangan No 55 9 siswa dan SDN Dawung Tengah 7 siswa, SDN Dukuhan Kerten 15 orang dari dua rombongan belajar (rombel) yang disediakan, dan lainnya.

Terjadi sejak Sistem Zonasi

Kepala Sekolah SDN Sriwedari 197 Bambang Suryo Riyadi mengemukakan, pada awalnya ada 3 siswa yang mendaftar di sekolahnya. Namun 2 pendaftar di antaranya memilih SDN Sriwedari sebagai opsi kedua.

"Ada 2 siswa lainnya yang daftar sebenarnya. Mereka itu bukan ditolak, tapi mereka SDN Sriwedari hanya menjadi pilihan kedua. Yang satu masuk di SD Tumenggungan, dan yang satunya masuk SD Mangkubumen," ujarnya.

Bambang mengakui sejak diterapkannya sistem zonasi, jumlah peserta didik baru di sekolahnya terus mengalami penurunan. Tahun lalu, lanjut dia, ada 5 peserta didik baru. Yang naik ke kelas 2 hanya ada 4 siswa, sedangkan 1 siswa harus tinggal kelas. Jadi ada 2 siswa di kelas 1.

Jumlah Warga Sekitar Berkurang

Bambang pun mengungkapkan penyebab sekolahnya sepi peminat. Menurut dia, lingkungan sekitar SDN banyak ditinggalkan warganya. Kawasan itu sudah beralih fungsi menjadi perhotelan, perkantoran dan lapangan.

“Jadi di sini penduduknya sudah banyak berkurang. Dulu banyak, tapi setelah dibangun GOR Sritek Arena, banyak yang pindah," katanya.

Selain sistem zonasi, persaingan dengan sekolah swasta juga menjadi salah satu faktor penyebab sepinya peminat SDN Sriwedari. Apalagi sekolah swasta lebih awal membuka pendaftaran.

"Jadi untuk swasta bisa milih siswa, kalau negeri sisa dari swasta," keluhnya.

Mirip Les Privat

Jika dilihat dari sistem yang berlaku, zonasi SDN Sriwedari meliputi Kelurahan Panularan, Penumping, Kemlayan dan Sriwedari. Menyikapi hal tersebut Bambang mengaku sistem pembelajaran yang dilakukan hanya tampak seperti les privat.

"Pembelajarannya seperti les, seperti privat. Mau gimana lagi, muridnya juga sedikit, untuk persaingan juga tidak ada," jelasnya.

Kendati demikian, pembelajaran tetap berlangsung seperti biasa. Jam masuk siswa dimulai pukul 7.30 WIB dan berakhir pukul 10.45 WIB.

Ke depan akan ada wacana regrouping antara SDN Sriwedari dengan SD Panularan. Namun hingga sekarang belum dapat terealisasi.

Penggabungan Sekolah

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka tak mengelak jika ada beberapa sekolah yang kekurangan peserta didik baru. Pihaknya pun merencanakan penggabungan atau regrouping.

"Solusinya untuk SD yang sepi peminat ya regrouping. Ada beberapa nanti ya akan segera kami tindak lanjuti," katanya.

Namun demikian, proses penggabungan tidak serta merta bisa dilakukan. Menurut dia, ada tahapan yang harus diselesaikan.

"Regrouping SD yang sepi peminat nanti mulai tahun 2023 ya, tenang aja," tandasnya. [yan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel