Seaglider Sudah Tiga Kali Masuk Perairan RI, Ini yang Perlu Diwaspadai

Dedy Priatmojo, Irfan
·Bacaan 3 menit

VIVA – Temuan seaglider atau drone bawah laut oleh nelayan di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu harus diwaspadai sebagai adanya upaya penyusupan atau operasi pengintaian di perairan Indonesia.

Seaglider yang ditemukan nelayan itu teridentifikasi terbuat dari alumunium dengan dua sayap 50 sentimeter (cm), panjang bodi 225 cm, propeller 18 cm di bawah, panjang antena belakang 93 cm.

Alat tersebut banyak digunakan untuk survei bawah laut atau untuk mencari data oseanografi di laut. Bisa digunakan untuk kepentingan pertahanan atau industri, seperti pertambangan atau perikanan.

Namun yang patut diwaspadai, seaglider juga bisa digunakan untuk melakukan perekaman situasi sumber daya alam bawah laut Indonesia dan posisi kekuatan penjagaan TNI AL di perairan wilayah Indonesia.

Pengamat politik dan pertahanan-keamanan dari Universitas Muhammadiyah Makassar, Arqam Azikin, mengatakan temuan seaglider di perairan Indonesia ini bukan yang pertama kali terjadi. Sehingga patut diwaspadai keberadaan alat tersebut di perairan nasional sebagai upaya pengintaian.

"Ini sudah kejadian ketiga kalinya ditemukan hal serupa di wilayah perairan kita. Maka segenap pasukan elit AL agar meningkatkan kewaspadaan dalam menangkal ancaman pertahanan negara di lokasi strategis yang rawan operasi pengintaian di wilayah laut dari pihak mana pun," ujar Arqam melalui keterangannya, Selasa, 5 Januari 2021.

Menurutnya, sebagai bangsa yang besar, semestinya Indonesia meningkatkan kewaspadaan, khususnya TNI dalam menjaga kedaulatan negara pada dimensi kekuatan pertahanan dan keamanan negara.

Arqam menyarankan kepada Menteri Pertahanan Prabowo Subianto agar segera menghadap ke Komisi I DPR RI untuk menjelaskan agar polemik drone bawah laut ini tidak menyebar di lapisan masyarakat.

"Sebaiknya ke depan, cukup satu pintu penjelasan dari Kemhan RI. Bisa Menteri Pertahanan atau Wakil Menteri Pertahanan, karena kejadian tersebut terkait pertahanan negara, merupakan ranah tupoksi Kemhan RI. Sambil perlu menindaklanjuti temuan benda tersebut dengan koordinasi Menhan, Panglima TNI, KASAL, agar bergerak cepat menyelidiki dan mengkaji sebagai bagian mempersiapkan antisipasi jangka panjang," tuturnya.

Arqam menegaskan, kemunculan drone bawah laut ini dapat menjadi ancaman wilayah laut yang mengarah kepada ancaman militer dan ancaman non-militer dalam mempengaruhi wibawa kedaulatan negara di mata dunia internasional.

Dia menyebut, sandi pesan yang berada di dalam rangkaian alatnya bisa dicocokkan beberapa benda yang mirip yang diduga milik China atau Amerika Serikat. Sebab, Amerika mempunyai pemantau satelit di wilayah timur Indonesia, dan China memiliki kepentingan pada gejolak di laut China Selatan dengan USA.

"Benda milik lembaga dari luar negara kita mesti diselidik secara mendalam dengan beberapa pertanyaan, mengapa bisa masuk ke perairan Selayar? Apakah pernah terdeteksi oleh radar TNI AL? Bila tidak terdeteksi radar keamanan wilayah laut kita, berarti sudah menunjukkan kerawanan dan bahaya bagi penyusupan mata-mata dengan memakai drone bawah laut dalam memasuki perairan kita," terang Arqam.

Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono mengungkapkan bahwa benda asing yang ditemukan oleh nelayan di perairan Selayar, Sulawesi Selatan, merupakan seaglider. Hal itu sekaligus menampik dugaan benda itu merupakan sebuah drone.

"Hari ini saya akan menyampaikan tentang alat atau seaglider yang kemarin ditemukan nelayan dari Desa Majapahit, Selayar," ucap Yudo, Senin, 4 Januari 2021.

Yudo Margono memberikan gambaran seaglider tersebut, di mana alat tersebut biasa digunakan untuk keperluan survei maupun juga data oseanografi.

Yudo menambahkan, data oseanografi yang diperoleh seaglider saat menyelam di lautan tersebut juga bisa diakses secara jarak jauh. "Ini bisa diakses melalui website oleh semua yang bisa mengakses data," ungkap Yudo. (ase)