Sebabkan Kematian dalam 3 Jam, Waspadai Dua Penyakit pada Aorta

Ichsan Suhendra, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Aorta merupakan bagian terbesar dari pembuluh darah arteri yang memanjang dari jantung hingga ke perut bawah. Biasanya, ada dua penyakit aorta yang sering ditemukan, yaitu aneurisme aorta dan diseksi aorta.

Aneurisme aorta merupakan kondisi kesehatan di mana terdapat penonjolan yang abnormal pada dinding dan aorta. Sedangkan diseksi aorta adalah sobekan di lapisan dalam pembuluh darah besar yang keluar dari jantung (aorta).

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, aneurisme aorta menyebabkan 9.923 kematian pada 2018 dan sekitar 58 persen kematian karena aneurisme aorta atau diseksi aorta terjadi pada pria.

Baca juga: Studi: Perempuan Belum Menikah Lebih Berisiko Terkena Hipertensi?

Sedangkan NCBI (National Center for Biotechnology Information), melaporkan bahwa insiden terjadinya diseksi aorta adalah 5-30 kasus per satu juta orang, dengan rentang usia 40-70 tahun.

Spesialis intervensi kardiologi dan vaskular, dr. Suko Adiarto, Sp.JP(K), PhD FIHA, FICA, FAsCC, mengatakan, robeknya aorta bisa terjadi secara tiba-tiba (akut) dan tidak menimbulkan gejala. Tetapi, bila dalam dua hingga tiga jam tidak segera dioperasi, penderita akan meninggal.

"Diseksi aorta dan aneurisma aorta tidak dapat dibedakan berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik, sehingga pemeriksaan penunjang seperti CT scan sangat diperlukan. Kecepatan dan ketepatan dokter spesialis jantung dalam mendiagnosis diseksi aorta, menentukan keselamatan pasien," ujarnya saat memperkenalkan Tindakan Bental Surgery di Heartology Cardiovascular Center, Brawijaya Hospital Saharjo, Kamis 12 November 2020.

Dokter Suko lebih jauh menjelaskan, faktor penyebab terjadinya diseksi aorta, antara lain riwayat keluarga, hipertensi, naiknya tekanan darah secara mendadak, riwayat aneurisme aorta, artherosklerosis, ataupun kelainan genetic (sindroma Marfan).

"Berdasar kondisinya, ada dua jenis aorta yang robek, tipe A dan tipe B. Yang paling berbahaya dan mematikan adalah tipe A, sebab bagian aorta yang robek ada pada pangkalnya yang menempel ke serambi jantung atau yang disebut dengan aorta asendens," lanjutnya.

Menurut Suko, penanganannya pun harus melalui operasi. Berbeda dengan tipe B, yang umumnya bisa diatasi dengan obat atau dengan intervensi endovaskular.

"Pada tipe yang lebih complicated mungkin memerlukan kombinasi berupa bedah dan endovascular yang dapat dilakukan di OK/Cathlab Hybrid, yang tersedia di Heartology Cardiology Vascular," tutup dr. Suko Adiarto.