Sederet Fakta Menarik Telinga, Semakin Besar saat Tua hingga Jaga Keseimbangan

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta Telinga bukan hanya organ pendengaran, melainkan sistem dengan bagian-bagian kompleks yang selain membuat manusia bisa mendengar, bahkan berjalan.

Berikut ini beberapa fakta menarik tentang telinga kita, dilansir dari Livescience.

1. Ukuran telinga orang tua lebih besar daripada saat ia masih remaja

Menurut sebuah penelitian di jurnal Plastic and Reconstructive Surgery, biasanya telinga pria lebih besar dari wanita. Mereka menemukan rata-rata telinga memiliki panjang sekitar 2,5 inci (6,3 cm), dan rata-rata cuping telinga memiliki panjang 0,74 inci (1,88 cm) dan lebar 0,77 inci (1,96 cm). Mereka juga mencatat bahwa telinga memang menjadi lebih besar seiring bertambahnya usia.

Misalnya, para peneliti di Jerman melaporkan pada tahun 2007 dalam Anthropologischer Anzeiger: Journal of Biological and Clinical Anthropology bahwa ukuran telinga wanita lebih kecil daripada telinga pria. Sedangkan panjang telinga maksimum untuk wanita berusia 20 tahun dalam penelitian ini adalah 2,4 inci (6,1 cm), untuk wanita yang berusia lebih dari 70 tahun mencapai 2,8 inci (7,2 cm). Untuk pria dalam penelitian tersebut ketika berusia 20 tahun memiliki panjang 2,6 inci (6,5 cm) dan 3 inci (7,8 cm) untuk yang berusia diatas 70 tahun.

Studi lain di Texas Tech University mengkonfirmasi pengamatan ini. Studi tersebut menemukan bahwa seiring bertambahnya usia, lingkar telinga meningkat rata-rata 0,51 milimeter per tahun, kemungkinan karena perubahan kolagen yang menua. Korelasi antara usia dan lingkar telinga dapat dimasukkan ke dalam persamaan: Lingkar telinga dalam mm = 88,1 + (0,51 x usia subjek). Sebaliknya, usia seseorang dapat dihitung dengan ukuran telinga seseorang, menggunakan persamaan: Usia subjek = 1,96 x (Lingkar telinga dalam mm - 88,1)

2. Memiliki fungsi sistem yang kompleks

Ilustrasi telinga (Sumber: Unshplash)
Ilustrasi telinga (Sumber: Unshplash)

Telinga memiliki tiga bagian utama: telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Mereka semua memiliki fitur yang berbeda, tetapi masing-masing berperan penting untuk memfasilitasi pendengaran dan keseimbangan.

Jika digambarkan, saat telinga bekerja, telinga luar yang juga disebut daun telinga atau pinna (lingkaran tulang rawan dan kulit yang menempel di bagian luar kepala) berperan seperti megafon. Berdasarkan Nebraska Medicine, gelombang suara disalurkan melalui telinga luar dan disalurkan ke saluran pendengaran (bagian dari lubang telinga yang dapat terlihat dengan mudah saat melihat telinga dari dekat) eksternal.

Setelah gelombang suara melewati saluran pendengaran dan mencapai membran timpani, yang lebih dikenal sebagai gendang telinga, bagaikan drum yang dipukul oleh stik drum, lembaran tipis jaringan ikat bergetar saat gelombang suara menghantamnya.

Kemudian getaran yang melewati membran timpani, masuk ke telinga tengah, disebut juga rongga timpani. Dilansir dari Encyclopedia Britannica, rongga timpani dilapisi dengan mukosa dan diisi dengan udara dan ossicles pendengaran, yang merupakan tiga tulang kecil yang disebut malleus (palu), incus (landasan), dan stapes (sanggurdi).

Menurut National Library of Medicine (NLM), saat tulang bergetar, stapes mendorong struktur yang disebut jendela oval masuk dan keluar. Tindakan ini diteruskan ke telinga bagian dalam dan koklea, struktur berbentuk spiral berisi cairan yang berisi organ spiral Corti, yang merupakan organ reseptor untuk pendengaran. Sel rambut kecil di organ ini menerjemahkan getaran menjadi impuls listrik yang dibawa ke otak oleh saraf sensorik.

3. Membantu keseimbangan

Tabung Eustachius, atau tabung faringotimpani, menyamakan tekanan udara di telinga tengah dengan tekanan udara di atmosfer. Proses ini membantu manusia mempertahankan keseimbangannya.

Kompleks vestibular, di telinga bagian dalam, juga penting untuk diseimbangkan karena mengandung reseptor yang mengatur keseimbangan. Telinga bagian dalam terhubung ke saraf vestibulocochlear, yang membawa informasi suara dan keseimbangan ke otak.

4. Merupakan organ halus yang artinya bisa juga rusak

Telinga bisa dirusak oleh cedera fisik, bakteri atau bahkan perubahan lingkungan. Misalnya infeksi telinga yang merupakan penyakit paling umum pada bayi dan anak kecil. Contoh lainnya penyakit Meniere, yaitu penyakit telinga bagian dalam yang mungkin disebabkan oleh masalah cairan di dalam telinga. Selain itu ada barotrauma telinga yang merupakan cedera pada telinga akibat perubahan barometrik atau tekanan air, yang biasanya terjadi selama penerbangan di pesawat terbang, saat bepergian ke tempat tinggi, atau menyelam sangat dalam. Biasanya dapat diperbaiki dengan meletupkan telinga dengan menguap, mengunyak permen karet atau mencoba meniup sambil menutup hidung dan mulut.

Kotoran telinga, disebut juga cerumen memiliki sifat antibakteri dan juga melumasi serta melindungi telinga. Jika jumlahnya normal seharusnya tidak mengganggu, meskipun terkadang lilin dapat menumpuk dan harus dibuang.

5. Kehilangan pendengaran tidak hanya dialami lansia

Ilustrasi telinga (Pixabay)
Ilustrasi telinga (Pixabay)

Meski dulu usia selalu menjadi prediktor terbesar untuk mendeteksi gangguan pendengaran pada mereka yang berusia 20-69 tahun. Namun faktanya pendengaran memang biasanya menurun seiring bertambahnya usia secara alami, meskipun kerusakan pada telinga dapat menyebabkan gangguan pendengaran pada usia yang sangat muda.

Seorang ahli otolaringologi bersertifikat yang berbasis di Chicago dan pendiri MDHearingAid, Dr. Sreekant Cherukuri mengatakan, "Kami melihat semakin banyak pasien dengan gangguan pendengaran yang signifikan sejak akhir masa remaja. Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh kebisingan adalah masalah yang berkembang di negara ini. Kami terhubung ke ponsel dan pemutar musik, sering kali selama berjam-jam setiap hari. Saat telinga kita terpapar oleh suara yang berbahaya, sel-sel halus di telinga bagian dalam menjadi rusak. Sayangnya, kerusakan bersifat kumulatif dari waktu ke waktu."

6. Tips Menjaga kesehatan telinga

Setelah pendengaran hilang, tidak mungkin untuk memperbaikinya secara alami. Kebanyakan pasien dengan gangguan pendengaran membutuhkan pembedahan atau alat bantu dengar . "Kabar baiknya adalah ini 100 persen dapat dicegah," kata Cherukuri. Ia merekomendasikan aturan 60-60 saat menggunakan earbud atau headphone, maksudnya volumenya tidak boleh lebih dari 60 persen daru volume penuh selama tidak lebih dari 60 menit setiap kali pemakaian.

Orang yang berpartisipasi dalam aktivitas atau hobi yang berisik, seperti acara olahraga, konser musik, olahraga menembak, mengendarai sepeda motor, atau memotong rumput, juga harus mengenakan penutup telinga atau headphone peredam bising atau peredam bising untuk membantu melindungi telinga.

American Academy of Otolaryngology menyarankan untuk membersihkan telinga luar dengan kain. Kemudian, taruh beberapa tetes minyak mineral, baby oil, gliserin, atau tetes komersial di telinga untuk melembutkan kotoran dan membantunya keluar dari telinga. Beberapa tetes hidrogen peroksida atau karbamid peroksida juga dapat membantu. Jangan pernah memasukkan apapun ke dalam telinga.

Infografis Tarik Ulur Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan

Infografis Tarik Ulur Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Tarik Ulur Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan. (Liputan6.com/Trieyasni)

Simak Video Berikut Ini: