Sederet Kontroversi di Balik Piala Dunia Qatar 2022

Merdeka.com - Merdeka.com - Piala Dunia 2022 yang berlangsung di Qatar kali ini mengundang banyak kontroversi.

Sebagai negara Arab pertama yang menggelar Piala Dunia, Qatar berharap ada 1,5 juta penggemar bola mengunjungi negara itu.

Badan Sepak bola dunia FIFA mengirimkan surat resmi kepada 32 negara peserta Piala Dunia berisi pesan agar mereka "hanya fokus pada sepak bola". Sepak bola jangan sampai dikaitkan dengan persoalan ideologi dan persaingan politik.

Sebagai balasan, 10 badan sepak bola Eropa mengatakan "hak asasi adalah universal dan berlaku di mana saja."

Bagaimana pekerja asing diperlakukan di Qatar?

Sekitar 30.000 pekerja asing dari India, Bangladesh, Nepal, dan Filipina membangun berbagai fasilitas untuk Piala Dunia, termasuk stadion, hotel, jalan. Sebanyak 85 persen dari populasi Qatar adalah pekerja asing dan 15 persen sisanya warga lokal.

Pada Februari 2021, harian the Guardian mengatakan 6.500 pekerja meninggal di Qatar sejak negara itu terpilih jadi tuan rumah pada 2010. Data itu diperoleh dari sejumlah kedutaan yang ada di Qatar.

Namun pemerintah Qatar mengatakan angka itu keliru karena menghitung jumlah pekerja asing yang sudah lama tinggal di Qatar dan tidak bekerja dalam proyek Piala Dunia.

Data resmi Qatar menyebut antara 2014 sampai 2020 ada 37 kematian pekerja di lokasi pembangunan stadion Piala Dunia, hanya tiga di antaranya yang "terkait dengan pekerjaan".

Namun Organisasi Buruh Internasional (ILO) mengatakan angka itu terlalu rendah. ILO menuturkan, Qatar tidak menghitung pekerja yang meninggal karena serangan jantung dan masalah pernapasan akibat pekerjaan. Para pekerja asing itu kerap bekerja dalam cuaca panas.

ILO menyebut ada 50 pekerja asing dan lebih dari 500 lainnya luka parah di Qatar pada 2021, Sementara 37.600 lainnya menderita luka sedang atau rigan.

Mengapa Qatar bisa terpilih jadi tuan rumah Piala Dunia?

sederet kontroversi di balik piala dunia qatar 2022
sederet kontroversi di balik piala dunia qatar 2022

Pada 2010 Qatar meraup mayoritas suara dari 22 anggota eksekutif FIFA mengalahkan Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, dan Australia.

Qatar kemudian dituding menyuap para pejabat FIFA senilai USD 3,7 juta atau Rp 53 miliar untuk memuluskan langkah mereka menjadi tuan rumah. Tapi tuduhan itu dibantah setelah dua tahun penyelidikan.

Saat itu Ketua FIFA Sepp Blater mendukung Qatar untuk menjadi tuan rumah tapi kini Blater mengatakan menjadikan Qatar sebagai tuan rumah adalah "sebuah kesalahan".

Bagaimana persiapan Qatar untuk Piala Dunia?

Qatar menyiapkan delapan stadion, tujuh di antaranya dibangun khusus untuk Piala Dunia.

Sebanyak 100 hotel juga dibangun. Begitu pula dengan kereta, jalan, dan perluasan bandara Hamad.

Qatar bahkan membangun kota baru di sekitar stadion Lusail, tempat akan digelarnya partai final.

Apakah alkohol dibolehkan selama Piala Dunia Qatar?

Dua hari sebelum dimulainya Piala Dunia, Qatar mengumumkan tidak akan mengizinkan penjualan bir di stadion. Itu bisa dikatakan pengumuman yang terjadi di detik-detik terakhir sebelum turnamen ini digelar.

Alkohol hanya dibolehkan di zona penonton di luar stadion dan di sejumlah bar di hotel mewah.

Qatar juga menyiapkan lokasi bagi penonton bola yang mabuk untuk dipulihkan.

Minuman tanpa alkohol tetap dijual di dalam stadion.

Seberapa panas di Qatar?

Selama November sampai Desember, suhu di Qatar biasanya berkisar 25 derajat Celcius.

Piala Dunia biasanya digelar di bulan Juni dan Juli. Jika digelar di bulan itu maka suhu di Qatar bisa mencapai 40 derajat Celcius.

Qatar awalnya mengusulkan Piala Dunia dilangsungkan di dalam stadion tertutup berpendingin udara, tapi rencana itu ditolak. [pan]