Sederet Manfaat Perusahaan Melepas Saham ke Publik

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pasar modal menjadi salah satu opsi yang kerap dipertimbangkan selain dari perbankan bagi perusahaan yang membutuhkan pendanaan.

Pasar modal secara umum merupakan sarana bertemunya perusahaan maupun institusi lain (misalnya pemerintah) yang membutuhkan dana dari masyarakat untuk pengembangan usaha, ekspansi, penambahan modal kerja dan lain-lain, dengan masyarakat yang hendak investasikan dana mereka.

Untuk mendapatkan pendanaan, perusahaan atau institusi tersebut menerbitkan saham atau surat utang. Kemudian masyarakat pemodal (investor) dapat mendanai perusahaan maupun institusi tersebut dengan membeli instrumen tersebut di pasar modal baik secara langsung, maupun dalam bentuk reksa dana.

"Ini merupakan sumber pendanaan jangka panjang. Dalam hal ini para emiten atau perusahaan yang go public mencari pendanaan lewat pasar modal. Kemudian pemerintah juga biayai pertumbuhan ekonomi melalui penerbitan obligasi,” ujar Juru Bicara OJK Sekar Putih Djarot dalam Literasi Investasi OJK - Cerdas Investasi di Pasar Modal, Selasa (24/8/2021).

Selain itu, perusahan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai dapat membenahi tata kelola perusahaan. Hal ini karena perusahaan yang tercatat di Bursa secara otomatis menjadi perusahaan terbuka yang perkembangannya dapat ditinjau langsung oleh publik.

"Pasar modal juga sebagai tempat penyebaran kepemilikan perusahaan. Jika sebelumnya kepemilikannya dalam lingkup keluarga, kemudian dimiliki masyarakat umum dan dikelola oleh manajemen yang lebih profesional,” kata Sekar.

Selain itu, bagi perusahaan atau pihak yang ingin mengembangkan usahanya, dapat memperoleh manfaat ekonomi dengan menjual sahamnya.

"Ini merupakan sarana investasi bagi investor dan mendukung perusahaan lebih sehat karena go publik dituntut untuk memenuhi prinsip keterbukaan dalam segala hal. Sehingga meningkatkan governance tata kelola perusahaan,” pungkas Sekar.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Penghimpunan Dana dari Pasar Modal

Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, penghimpunan dana dari pasar modal mencapai Rp 119,24 triliun hingga 13 Agustus 2021 yang berasal dari 93 penawaran umum.

Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal I OJK, Djustini Septiana menuturkan, OJK telah mengeluarkan surat pernyataan efektif atas pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum untuk 93 emisi dengan nilai penawaran umum mencapai Rp 119,24 triliun sepanjang 2021.

Komposisi penghimpunan dana itu antara lain 25 IPO senilai Rp 28,40 triliun, 17 PUT senilai Rp 35,76 triliun, 3 EBUS senilai Rp 4,50 triliun. Kemudian 18 PUB EBUS Tahap I dan 30 PUB EBUS Tahap II masing-masing sebesar Rp 15,53 triliun dan Rp 35,05 triliun.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) per 13 Agustus 2021 naik 2,68 persen di posisi 6.139,49 dari posisi 5.979,07 per 30 Desember 2021.

Sejalan dengan itu, kapitalisasi pasar naik 6,16 persen senilai Rp 7.398,14 triliun dari posisi per 30 Desember sebesar Rp 6.968,94 triliun. Total NAB reksa dana sedikit turun yaitu 4,26 persen dari Rp 573,54 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp 549,07 triliun hingga 13 Agustus 2021.

Di sisi lain, total penyelenggara securities crowdfunding (SCF) yang dapat izin dari OJK bertambah menjadi lima pihak setelah diterbitkannya POJK 57/2020 tentang SCF.

Di samping itu, jumlah penerbit atau pelaku UMKM yang memanfaatkan equity crowdfunding juga mengalami pertumbuhan 27,1 persen, atau menjadi 164 penerbit dibandingkan akhir 2020 sebanyak 129 penerbit.

Pada saat bersamaan, pemodal SCF juga tumbuh 54,53 persen, menjadi 34.525 dari sebelumnya 22.341. Jumlah dana yang berhasil dihimpun juga mengalami peningkatan 64 persen ytd menjadi Rp 313,55 miliar.

"Berbagai indikator yang bergerak cukup positif tersebut, khususnya perkembangan investor di pasar modal Indonesia saat ini cukup memberikan optimisme atas perkembangan pasar modal indonesia di 2021. Ditambah lagi adanya sentimen positif masuknya perusahaan unicorn terkemuka di Indonesia pada beberapa tahun ini dan ke depan,” ujar dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel