Sederet Transformasi Digital BEI untuk Pasar Modal Indonesia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Merespons perkembangan teknologi, Bursa Efek Indonesia (BEI) turut melakukan sejumlah transformasi.

Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko BEI, Fithri Hadi mengatakan, Bursa senantiasa mengotomatisasi proses bisnis dalam ekosistem pasar modal menjadi semakin terintegrasi, efisien, memiliki jangkauan lebih luas serta dengan biaya yang rendah.

“Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia terdiri dari 17 ribu pulau. Teknologi remote adalah pilihan terbaik untuk meningkatkan risiko kita dengan biaya rendah,” kata dia dalam The 7th Indonesian Finance Association (IFA) International Conference, Rabu (6/10/2021).

Di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan kerjasama dengan sejumlah institusi, BEI telah meluncurkan banyak transformasi yang didorong oleh teknologi digital.

Pertama, yakni terkait pembukaan rekening. Bursa telah melakukan banyak diskusi dengan OJK, KSEI, dan pihak terkait lainnya, seperti Perusahaan Efek, Bank, Dukcapil dan penyedia tanda tangan digital untuk mendukung pembukaan akun jarak jauh tanpa tatap muka.

“Sehingga paperless dan tanpa tanda tangan basah, memungkinkan investor dapat membuka akun dari jarak jauh dengan mudah dan juga menghemat waktu. Dari sebelumnya 14 hari, menjadi hanya satu hari untuk membuka akun,” kata dia.

Selain itu, pembukaan rekening lewat skema ini juga lebih murah. Langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah di masa pandemi yang memeberlakukan pembatasan sosial. Melarang masyarakat mengadakan pertemuan untuk membendung penyebaran virus covid-19.

Kedua. Bursa juga mengotomatisasi proses IPO meluncurkan e-IPO. Sebuah platform elektronik untuk mendukung penawaran umum perdana kepada publik. Sehingga masyarakat luas dapat membeli saham di pasar primer dengan mudah saat IPO, hanya dari smartphone.

Fithri mengatakan, sebelumnya akses di pasar primer dibatasi oleh lokasi dan terbatasnya jumlah investor ritel.

“Semoga dengan adanya platform ini, partisipasi investor ritel semakin besar,” imbuhnya.

Sediakan Platform Online

Layar komputer menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (9/9/2021). IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup menguat 42,2 poin atau 0,7 persen ke posisi 6.068,22 dipicu aksi beli oleh investor asing. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Layar komputer menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (9/9/2021). IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup menguat 42,2 poin atau 0,7 persen ke posisi 6.068,22 dipicu aksi beli oleh investor asing. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ketiga. lanjut Fithri. Bursa juga menyediakan platform online untuk memfasilitasi pertemuan pemegang saham, yakni Easy.KSEI.

Platform tersebut dilengkapi dengan fitur pemungutan suara jarak jauh. Investor Ritel dapat mengikuti rapat pemegang saham dari mana saja. Tidak lagi dibatasi oleh lokasi ruang pertemuan.

"Kemudian kita juga, Transform public exposure dari fisik publik diekspos menjadi digital. Jadi semua orang dapat mendengar paparan publik dari perusahaan yang terdaftar untuk memutuskan apakah akan membeli atau menjual saham di pasar,” ia menambahkan.

Bursa juga mendukung inisiatif OJK untuk mengelola model bisnis baru, yaknni Equity crowdfunding yang mendukung penggalangan dana untuk Usaha Kecil dan Menengah. Terakhir, Bursa memiliki e-Registration dan e-Reporting yang memudahkan keterbukaan informasi dari emiten kepada publik.

“Ini paperless, lebih cepat, dan diharapkan dapat membawa lebih banyak tanda dari investor sebelum mereka membeli atau menjual saham di pasar,” pungkasnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel