Sederet Ucapan Kontroversi Effendi Simbolon hingga Berujung Minta Maaf ke TNI

Merdeka.com - Merdeka.com - Anggota Komisi I DPR RI Effendi Simbolon melontarkan sederet ucapan menyinggung institusi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Berbagai pihak TNI kemudian mengecam pernyataan politisi PDIP ini. Hingga akhirnya Effendi menyampaikan permintaan maaf atas pernyataannya tersebut.

Dalam rapat antara Komisi I DPR RI dengan TNI di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (12/9), Effendi menyebut TNI seperti gerombolan yang tidak punya kepatuhan. Bahkan, dia membandingkan TNI dengan organisasi masyarakat (ormas).

"Ini TNI kayak gerombolan ini. Lebih-lebih Ormas, jadinya. Tidak ada kepatuhan," kata Effendi dalam video.

Pernyataan tersebut dilontarkan Effendi mengomentari isu ketidakharmonisan antara Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa dengan Kasad Jenderal Dudung Abdurrachman sebelumnya.

Berbagai pihak TNI mengecam ucapan Effendi tersebut. Salah satunya Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Muhammad Saleh Mustafa. Dia mengatakan, jajaran Kodam patuh kepada kepada Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa.

Adapun dari ucapan TNI seperti gerombolan, anggota DPR RI fraksi PDIP ini dilaporkan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Pelapor ialah Ketua Umum DPP GMPPK Bernard D Namang.

"Salah satu kata yang kalimat yang tidak enak didengar yang membisa-bisa mengartikan lain adalah pernyataan beliau mengenai tentang TNI kayak gerombolan itu betul-betul sangat miris dan tidak enak didengar lah dalam suasana yang masih kurang kondusif," ujarnya saat membuat laporan, Selasa (13/8).

Dia mendorong Effendi meminta maaf kepada TNI karena telah menyerang kesatuan institusi hingga prajurit di bawah. Menurut Bernard, pernyataan Effendi telah melanggar etik sebagai anggota DPR RI.

Sebelumnya, Effendi juga yang pertama kali mengangkat isu disharmonisasi antara Panglima TNI dan Kasad. Kabar tersebut disinggung Effendi dalam rapat Komisi I DPR terkait Rapat Pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) 2023 dan isu lainnya dengan Menhan, panglima TNI, dan para kepala staf di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (5/9).

"Ini semua menjadi rahasia umum pak, rahasia umum Jenderal Andika. Di mana ada Jenderal Andika, tidak ada Kasad. Jenderal Andika membuat Super Shield, tidak ada Kasad di situ," ucap Effendi.

Dia mengungkapkan, berdasarkan catatan miliknya, putra Dudung gagal lulus dari Akmul karena faktor usia dan tinggi badan.

Keduanya, lanjut Effendi, memiliki ego yang dapat merusak tatanan hubungan antara senior dan junior di TNI.

"Ego bapak berdua itu merusak tatanan hubungan junior dan senior, pak. Dengan segala hormat saya, pak, saya dekat dengan Pak Andika, saya dekat dengan Pak Dudung," kata dia.

Terkait tudingan tersebut, Andika dan Dudung telah membantah.

Hari ini (14/8), Effendi menyampaikan permintaan maaf terkait ucapannya yang telah memicu kemarahan prajurit TNI. Dia juga turut menyampaikan permintaan maaf kepada pihak yang sempat dia singgung, yakni Panglima TNI dan Kasad.

"Dari lubuk hati terdalam saya mohon maaf atas perkataan saya yang menyinggung dan menyakiti prajurit siapapun dia perwira, tamtama, dan para pihak yang tidak nyaman atas perkataan yang dinilai lain," ujar dia di Gedung DPR, Rabu (14/9).

"Dan kepada Panglima TNI, saya mohon maaf. Kasad, Kasal, Kasau yang mungkin merasa kurang nyaman, saya mohon maaf," sambungnya.

Effendi mengatakan, sebenarnya tidak berniat membuat tersinggung atas ucapannya menyebut TNI sebagai gerombolan dan membandingi dengan ormas. Menurutnya, saat itu dia sedang memberikan gambaran bilamana prajurit TNI tidak patuh dan terjadi disharmoni.

"Sejujurnya saya tidak pernah mestigmakan TNI gerombolan tapi lebih kepada kalau tidak ada kepatuhan dan harmoni, seperti gerombolan ormas," jelasnya.

Reporter Magang: Michelle Kurniawan [eko]