Sederet Upaya Bukit Asam Realisasikan Proyek Energi Hijau

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berencana mengembangkan proyek energi baru dan terbarukan (proyek EBT), seperti gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Baru-baru ini, PT Bukit Asam Tbk bersama dengan PT Pertamina dan Air Products & Chemicals, Inc. (APCI) memastikan proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) terus berlanjut.

Kepastian berlanjutnya proyek gasifikasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Amandemen Perjanjian Kerja Sama Pengembangan DME antara Pertamina, PT Bukit Asam Tbk dengan APCI yang berlangsung di Los Angeles, Amerika Serikat dan Jakarta, Indonesia pada 11 Mei 2021.

Selain itu, PTBA juga berencana untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan teknologi rendah emisi.

"Supaya produk batu bara kita tetap green. yang pertama adalah PLTU yang kita bangun itu kita upayakan menggunakan teknologi rendah emisi. Sehingga bisa serap emisi karbon yang dihasilkan dari pembakaran batu bara," kata Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Suryo Eko Hadianto dalam diskusi virtual, Senin (7/6/2021).

"Ada kok teknologinya, bisa serap sekitar 92 persen. jadi sisanya hanya 10 persen-an,” ia menambahkan.

Sebagai wujud tanggung jawab Perseroan atas isu lingkungan, PT Bukit Asam Tbk juga akan masuk pada Energi Baru Terbarukan (EBT), salah satunya dengan PLTS. Perseroan memiliki lahan pasca tambang banyak. Suryo mengatakan lahan tersebut bisa ditanami dengan sawit.

"Itu bisa ditanami sawit. Sehingga kita bisa masuk ke biodisel. Kita juga melakukan upaya perbaikan lingkungan dengan tanam pohon untuk serap emisi karbon dari udara. Seingga kegiatan penambanagn tidak akan berdampak merusak lingkungan tapi menciptakan lingkungan baru yang lebih baik,” ujar dia.

Bangun PLTS

PLTS.
PLTS.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berencana segera mulai proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada 2021.

Namun, biaya pembangunan PLTS ini secara keseluruhan lebih mahal dibandingkan PLTU karena butuh lahan yang luas untuk operasionalnya.

"PLTS itu membutuhkan lahan. Biaya yang mahal itu ada di lahan. Untuk satu hektar lahan itu menghasilkan ekuivalen sekitar 1 megawatt,” ujar Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk, Suryo Eko Hadianto, dalam diskusi virtual, Senin, 7 Juni 2021.

Namun, dengan catatan jika PLTS itu bekerja selama 24 jam penuh. Sementara matahari hanya ada di siang hari. Suryo memperkirakan PLTS hanya bisa efektif 20-25 persen. Dengan presentasi itu, ekuivalen yang didapat berkisar seperempat megawatt tiap satu hektarnya.

Kabar baiknya, PTBA akan menggunakan lahan bekas tambang untuk merealisasikan proyek ini. Dengan demikian, PTBA sudah terbantu dari sisi permodalan dalam hal pengadaan lahan.

"Bagi PTBA, lahan sudah punya. Lahan tadinya dibebaskan untuk tambang. sekarang sudah ditambang, sudah selesai beberapa lahan. itu kita jadikan modal gratisan untuk masuk PLTS. Sehingga PLTS hasilkan listrik yang beban biayanya relatif murah. Jadi kompetitif,” beber Suryo.

Adapun PTBA berencana membangun PLTS di beberapa area bekas tambang. Antara lain ada di Sawahlunto Sumatera Barat dengan luas hingga ribuan hektar. Kemudian juga di Tanjung Enim, Perseroan memiliki IUP dengan luas hingga 93 ribu hektar. Kemudian juga ada di Kalimantan Timur.

"Di Kalimantan Timur kita punya area bekas tambang yang cukup besar. Jadi kompetitifnya kita nggak perlu bebasin lahan. Kita sudah punya modal membuat PLTS murah,” pungkas Suryo.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel