Sedikitnya 22 tentara Turki terbunuh di Idlib Suriah

Ankara (AFP) - Sedikitnya 22 tentara Turki terbunuh di provinsi barat laut Suriah, Idlib, setelah serangan udara Kamis dituding dilakukan Damaskus pada saat kekerasan di wilayah yang sudah kacau itu meningkat.

Beberapa tentara terluka dan dibawa ke Turki untuk dirawat, kata Rahmi Dogan, gubernur Hatay di Turki, yang berlokasi di perbatasan dengan Suriah, dalam pidato yang disiarkan televisi pada Jumat pagi.

Pukulan besar itu terjadi setelah ketegangan meningkat selama berminggu-minggu antara pendukung pemberontak, Ankara, dan sekutu Damaskus, Moskow.

Turki telah mendesak rezim Suriah untuk menarik pasukannya dari pos pengamatan Turki di Idlib, sementara Moskow menuduh Ankara membantu "teroris" di Suriah.

Di bawah kesepakatan 2018 dengan Rusia, yang dimaksudkan untuk menciptakan ketenangan di Idlib, Turki memiliki 12 pos pengamatan di wilayah tersebut tetapi beberapa di antaranya mendapat serangan dari pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan segera mengadakan pertemuan darurat di Ankara setelah serangan di Idlib. Pertemuan dihadiri oleh menteri pertahanan dan menteri luar negeri serta kepala badan intelijen dan komandan militer.

Dengan serangan terbaru itu, berarti sudah 42 personel keamanan Turki yang terbunuh di Idlib.

Akses ke Twitter, Instagram dan media sosial lainnya tampaknya ada pembatasan setelah para pengguna di Turki melaporkan bahwa mereka tidak dapat menggunakan situs-situs tersebut.

Kelompok-kelompok milisi dan pemberontak dulungan Turki pada Kamis memasuki kembali Saraqeb, kota persimpangan jalan utama di Idlib yang mereka lepas sebelumnya pada Februari, membalikkan salah satu pencapaian utama serangan pemerintah yang menghancurkan.

Namun, serangan balasan bisa berumur pendek ketika pasukan Suriah yang didukung Rusia terus menggerogoti bagian lain kubu pemberontak, merebut 20 lokasi ketika Damaskus mengabaikan permintaan internasional untuk gencatan senjata.

Tujuh warga sipil, termasuk tiga anak-anak, tewas dalam pengeboman Idlib oleh rezim dan Rusia, menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia. Serangan itu menambah lebih dari 400 kematian warga sipil sejak Desember.

Dewan Keamanan PBB, yang di dalamnya Moskow secara sistematis memveto inisiatif gencatan senjata, kembali bersidang pada Kamis di tengah peningkatan kekhawatiran bahwa Idlib mengalami darurat kemanusiaan terburuk dalam perang, yang berlangsung selama sembilan tahun itu.

Kantor berita negara SANA melaporkan ada "bentrokan sengit" antara tentara dan "kelompok-kelompok teroris di front Saraqeb".

Seorang koresponden AFP menemani para pemberontak ke Saraqeb. Di sana, melihat kota itu bagai kota hantu, sepi dari penduduk dan bangunan-bangunan hancur karena pengeboman.

Serangan balasan itu untuk sementara membalikkan salah satu pencapaian utama yang dibuat oleh pemerintah sejak pasukannya melancarkan serangan ke kantong terakhir negara itu pada Desember.

Pemerintah yang kekurangan dana sangat ingin sepenuhnya mengamankan M5, jalan raya yang menghubungkan empat kota utama Suriah dan melewati Saraqeb.

Observatorium Suriah mengatakan serangan udara dilakukan oleh sekutu pemerintah Suriah Rusia, yang mendapat kecaman keras dari Barat atas begitu banyaknya warga sipil yang tewas akibat operasi pengeboman yang dilancarkannya.

Media pemerintah menuduh "teroris" melakukan pengeboman mobil dan serangan bunuh diri lainnya terhadap pasukan pemerintah yang berusaha merebut kembali kota.

Tentara disebut-sebut telah menimbulkan kekalahan besar terhadap para penyerang, meskipun mereka mendapat dukungan militer yang dituding diterima dari negara tetangga, Turki.

Sudah sekitar 950.0000 warga sipil mengungsikan diri dari serangan pemerintah. Keadaan itu menimbulkan kekhawatiran di Ankara akan gelombang baru pengungsian.

Turki telah menampung jumlah pengungsi Suriah terbesar di dunia dengan sekitar 3,6 juta orang, menempatkan beban yang semakin tidak populer pada layanan publik.

Sedikitnya setengah juta dari mereka yang terlantar sejak Desember adalah anak-anak, puluhan ribu di antaranya tidur di ruang terbuka di musim dingin yang keras di Suriah utara.

Presiden Turki pada Rabu bersumpah bahwa Ankara tidak akan mengambil "langkah mundur sedikit pun" dalam perselisihan dengan Damaskus dan Moskow soal Idlib.

Erdogan memperingatkan pemerintah Suriah untuk "menghentikan serangannya sesegera mungkin" serta mundur pada akhir bulan.

Dalam pemaparan di depan Dewan Keamanan pada Kamis, direktur eksekutif UNICEF Henrietta Fore kembali mendesak agar gencatan senjata diterapkan.

"Jutaan anak-anak Suriah menangis malam ini - karena kelaparan dan kedinginan ... dari luka dan rasa sakit ... dari rasa takut, kehilangan dan kesedihan," katanya.

"Kita harus membantu mereka" dan keluarga mereka. "Kita harus memberi tahu mereka bahwa kita memilih perdamaian. Sejarah akan menghakimi kita dengan keras - jika kita tidak melakukannya."

PBB telah berulang kali memperingatkan bahwa pertempuran di Idlib berpotensi menciptakan krisis kemanusiaan paling serius sejak perang saudara mulai muncul pada 2011.

"Ketika Dewan Keamanan PBB bertemu hari ini, sangat mendesak bagi anggota Dewan untuk mengesahkan resolusi yang menyerukan gencatan senjata di Idlib," kata David Miliband, ketua Komite Penyelamatan Internasional.

Pada Selasa, beberapa sekolah dilanda tembakan artileri pemerintah. Kejadian itu mendorong pemerintahan, yang didominasi kelompok militan, di Idlib untuk sementara waktu menutup sekolah pada hari berikutnya.

Sembilan dari 15 anggota Dewan Keamanan pada Rabu mendesak Sekretaris Jenderal Antonio Guterres meningkatkan keterlibatannya dalam upaya untuk memulihkan perdamaian di Idlib.

Veto Rusia, yang sering kali didukung oleh China, telah secara kronis melumpuhkan aksi PBB di Suriah.

Di Suriah selatan pada Kamis, seorang warga Suriah yang terkait dengan gerakan Syiah Lebanon, Hizbullah, tewas dalam serangan lintas-batas pesawat tak berawak Israel yang menargetkan mobilnya di sebuah desa dekat Dataran Tinggi Golan yang dicaplok, kata Observatorium.