Sedikitnya 32 tewas dalam kecelakaan kapal ferry di Bangladesh

Dhaka (AFP) - Setidaknya 32 orang tewas setelah sebuah kapal feri terbalik dan tenggelam Senin di ibukota Bangladesh, Dhaka, menyusul sebuah tabrakan, kata tim penyelamat, yang menemukan satu orang selamat dalam "keajaiban" beberapa jam kemudian.

Selusin orang awalnya terdaftar sebagai orang hilang.

Kapal Morning Bird ditabrak dari belakang oleh kapal feri lainnya sekitar pukul 9:30 pagi waktu setempat (10.30 WIB) saat jam sibuk pagi hari, ketika pelabuhan sungai terbesar di negara itu penuh dengan kapal.

"Kami telah menemukan 32 mayat ... Kami menemukan feri sedalam lebih dari 50 kaki (15 meter) di sungai," kata A. Zahidul Islam, seorang penyelam pada unit pemadam kebakaran, kepada AFP.

"Menurut saya kami telah menemukan sebagian besar mayat. Sisanya hanya dapat ditemukan jika feri dapat diangkat ... sepertinya kapal itu terjebak dalam lumpur di dasar sungai."

Lebih dari 12 jam kemudian, satu penumpang yang tenggelam ditemukan dalam keadaan hidup.

Tim penyelamat berusaha mengangkat kapal tersebut ketika mereka melihat pria berusia 35 tahun itu, Suman Bapary, mengambang di sungai, kata juru bicara pemadam kebakaran Kamrul Islam kepada AFP.

"Dia berada di kapal yang tenggelam ... selama 13 jam ini. Kami tidak tahu bagaimana. Tapi itu keajaiban," kata Islam.

Juru bicara panglima Penjaga Pantai Hayet Ibne Siddique mengatakan sebelumnya bahwa setidaknya 50 orang diyakini telah naik kapal yang berkapasitas 150 penumpang ini.

Kapal feri itu berangkat dari distrik Munshiganj pusat. Kapal itu tenggelam saat akan berlabuh di Sadarghat, pelabuhan sungai utama Dhaka yang digunakan oleh ratusan kapal untuk melakukan perjalanan ke selatan negara itu.

Kepala Otoritas Transportasi Air Darat Bangladesh, Komodor Golam Sadeqk, mengatakan kepada AFP bahwa kapal satu-dek itu "tidak terlalu penuh" dan tenggelam "karena kecerobohan"

Dia mengatakan kapal sudah diizinkan mengangkut penumpang sampai September.

Saksi mata mengatakan kepada stasiun televisi lokal banyak penumpang yang tampaknya terjebak di kabin feri.

Korban tewas dimasukkan ke dalam kantong mayat sebelum diletakkan berjajar di depan pelabuhan. Kapal lain akan tiba untuk mengangkat kapal yang rusak dari air, kata Siddique.

Masud Hossain mengatakan dia berada di atas kapal dengan dua pamannya ketika kecelakaan itu terjadi.

"Butuh waktu tidak lebih dari lima menit untuk tenggelam," kata dia kepada surat kabar lokal Daily Star, menambahkan bahwa mayat salah satu pamannya telah ditemukan, tetapi yang lain masih hilang.

"Saya pikir saya akan mati hari ini ... entah bagaimana saya berhasil membuka jendela kabin (di feri) dan keluar."

Orang yang selamat lainnya mengatakan kepada wartawan bahwa "mereka yang berada di atap feri melompat dan selamat".

"Tetapi mereka yang berada di dalam geladak terjebak dan mungkin mereka semua mati."

Para kerabat berkumpul di Sadarghat untuk mencari anggota keluarga mereka, meskipun ada kekhawatiran terkait jaga jarak sosial virus corona.

"Saya masih tidak tahu apa yang terjadi pada mereka," kata seorang pria, mencari sepupunya dan kerabat lainnya, kepada wartawan.

Kecelakaan kapal sering terjadi di Bangladesh yang dilintasi oleh lebih dari 230 sungai.

Negara Asia Selatan itu sangat bergantung pada feri untuk transportasi tetapi memiliki catatan keselamatan yang buruk.

Para ahli menyalahkan kapal yang tidak terawat baik, lemahnya standar keselamatan di galangan kapal dan terlalu penuh sebagai faktor di balik banyak terjadi kecelakaan.

Pada Februari 2015, setidaknya 78 orang tewas ketika sebuah kapal yang penuh sesak bertabrakan dengan sebuah kapal barang di sungai Bangladesh tengah.

Jumlah kecelakaan telah menurun tajam dalam beberapa tahun terakhir karena pihak berwenang menindak kapal yang tidak layak berlayar.

sa-sam/grk/it