Sedimentasi dapat kurangi produksi listrik di PLTA Lamajan

Budi Suyanto

Manajer Sipil dan Lingkungan Saguling PLN, Novy Heryanto menyebut sedimentasi yang terjadi di aliran Sungai Cisangkuy dapat menyebabkan berkurangnya produksi listrik di Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Lamajan, Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Menurutnya sedimentasi tersebut sudah terjadi sejak sekitar tahun 2000. Dan hal tersebut bukan hanya terjadi di PLTA Lamajan, melainkan di sejumlah PLTA lain yang mengandalkan energi dari aliran sungai, maupun aliran waduk.

"Dengan tingginya sedimentasi itu mengakibatkan volume air berkurang, nantinya akan berpengaruh dengan daya di PLTA," kata Novy, di Bandung Jumat.

Baca juga: Konstruksi pembangunan PLTA Jatigede capai 70 persen

Di PLTA Lamajan sendiri, menurutnya produksi listrik hampir berkurang setengahnya akibat sedimentasi tersebut. Apalagi hal tersebut sangat dirasakan saat musim kemarau yang mengakibatkan kekeringan.

"Contohnya pas kekeringan kita hanya beroperasi 6 jam dari yang biasanya 12 jam, otomatis listrik juga berkurang sekitar 50 persen," kata dia.

Dengan demikian, ia berharap seluruh pihak dapat menangani hambatan produksi listrik yang diakibatkan sedimentasi tersebut. Menurutnya, para pemangku kebijakan dan dinas terkait bisa melakukan reboisasi dan juga penanganan sedimentasi tersebut.

Baca juga: Moeldoko sebut PLTA Sungai Kayan dukung listrik calon ibu kota baru

Apalagi, kata dia, pemerintah saat ini juga sedang mendorong perkembangan produksi energi baru terbarukan (EBT). Yakni energi dari produksi tenaga air, angin dan surya.

"Jadi sekarang kita sedang menggali potensi EBT, yang populer itu panel surya ya, itu harapannya di rumah tangga juga sudah dipakai," kata dia.

Senada dengan Novy, General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jawa Barat, Agung Nugraha menyebut bahwa pemerintah semakin ingin beralih ke EBT. Karena menurutnya, dalam satu abad kedepan energi fosil akan habis.

"Kita tidak takut konsumsi listrik (masyarakat) berkurang karena kita juga sadar bahwa nantinya energi fosil sudah mau habis, jadi kita harus juga berpindah ke EBT," kata Agung.