Segmen Korporasi Bakal Sumbang Pertumbuhan Kredit BCA pada 2021

·Bacaan 1 menit
Pekerja tengah melintas di bawah papan pergerakan IHSG usai penutupan perdagangan pasar modal 2017 di BEI, Jakarta, Jumat (29/12). Perdagangan saham di penghujung tahun ini ditutup langsung Presiden Joko Widodo (Jokowi). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) prediksi kredit meningkat hingga 6 persen pada 2021 karena pemulihan ekonomi mulai terjadi sepanjang 2021.

Hal itu diungkapkan Direktur Keuangan BCA, Vera Eve Lim saat konfrensi pers secara virtual, Senin (8/2/2021). "Tahun lalu year on year kurang lebih turun 2,1 persen, dari situ tahun ini kita estimasi pertumbuhan kredit sekitar 4 hingga 6 persen," kata Vera.

Vera juga menyebut, apa yang dilakukan pemerintah saat ini sangat mendukung pemulihan ekonomi di Indonesia. Perseroan yakin hal ini mampu memberikan dampak positif secara keseluruhan.

Selain itu, Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja yakin, pertumbuhan kredit pada 2021 akan disumbang oleh kredit korporasi, karena mampu tumbuh hingga 7,7 persen secara year on year pada 2020.

Ia menyakini, pertumbuhan yang dihasilkan bisa lebih besar berkat pemulihan ekonomi yang sesang terjadi saat ini. Meski demikian kredit konsumer masih tergantung pada seberapa besar pemulihan terjadi.

"Kalau kita lihat dari tahun 2020 masih kredit korporasi. Ada permintaan yang cukup besar di sana. Tapi di akhir tahun ada yang melakukan repayment, PLN, beberapa BPD, termasuk BTN," ujar Jahja.

Pembiayaan

Dari sisi pembiayaan, kredit korporasi meningkat 7,7 persen YoY menjadi Rp255,1 triliun. Sementara itu, kredit komersial dan UKM menurun 7,9 persen YoY menjadi Rp186,8 triliun.

Pada portofolio kredit konsumer, KPR turun 3,7 persen YoY menjadi Rp90,2 triliun, KKB terkontraksi 22,6 persen YoY menjadi Rp36,9 triliun, dan saldo outstanding kartu kredit turun 20,6 persen YoY menjadi Rp11,2 triliun.

Secara total, kredit konsumer terkontraksi 10,8 persen YoY menjadi Rp141,2 triliun. Penurunan outstanding tersebut disebabkan oleh tingkat pelunasan (repayment) yang lebih tinggi dibandingkan pemberian fasilitas kredit baru.

Dari total portofolio kredit, sekitar 21,6 persen atau Rp127,2 triliun merupakan portofolio kredit keuangan berkelanjutan dalam rangka mendukung implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG).

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini