Sehari Tidak Ada Kasus Baru, Kapan Australia Bebas COVID-19?

Renne R.A Kawilarang, ABC Indonesia
·Bacaan 4 menit

Untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir, Australia tidak mengalami kasus baru COVID-19 pada hari Minggu (01/11). Meski berlangsung singkat, namun kondisi ini memicu harapan, bisakah negara ini menghentikan penularan virus untuk selamanya?

Meski sudah enam hari berturut-turut tidak ditemukan kasus baru serta tidak ada kematian terkait COVID-19 di negara bagian Victoria, namun di New South Wales (NSW) kasus baru kembali terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Jumlah kasus baru sudah sangat rendah dalam beberapa bulan, sehingga kini muncul pertanyaan mungkinkah Australia mencapai nol kasus dan menghilangkan penularan untuk seterusnya?

Menekan vs Mengeliminasi

Australia tidak memilih strategi eliminasi untuk menghilangkan virus ini. Tolok ukur yang digunakan untuk strategi seperti itu yakni bila tercapai 28 hari tanpa kasus baru.

Sebaliknya, Australia memilih untuk mengatasi epidemi dengan strategi "menekan penularan secara agresif".

Tujuannya, seperti yang digariskan oleh Pemerintah Federal, adalah agar tidak ada penularan dalam masyarakat - dengan peringatan bahwa kasus baru dan risiko pandemi akan tetap muncul.

Keberhasilan strategi "menekan penularan" bergantung pada penemuan kasus baru yang lebih awal serta penghentian penularan virus.

Tantangan untuk menangani COVID-19 muncul karena virus ini dapat menyebar tanpa terdeteksi. Kita dapat menularkan virus bahkan jika tidak memiliki gejala apapun.

Menurut pakar epidemiologi penyakit menular Profesor James McCaw, strategi eliminasi akan sia-sia saja apabila pandemi masih terus terjadi di negara lain.

Street market in Wuhan
Street market in Wuhan

Strategi eliminasi virus corona di suatu negara akan sulit tercapai apabila pandemi masih terjadi di negara lain. (Reuters: Aly Song)

"Meskipun mungkin untuk menghilangkan virus dari populasi, namun kita tidak pernah bisa menghilangkan risiko yang ditimbulkannya apabila virus ini terus menular di negara lain," katanya.

Profesor McCaw yang juga penasehat pada Komite Perlindungan Kesehatan Australia mengatakan bahkan sistem karantina penuh bukanlah jaminan untuk mencegah COVID-19.

"Sistem karantina hotel 14 hari adalah praktek terbaik dunia. Sekitar 99 persen orang tidak lagi tertular setelah 14 hari," katanya.

"Tapi jika ada ratusan ribu orang yang datang ke negara ini, 1 persen (yang tertular) masih cukup banyak," tambahnya.

Pakar epidemiologi lainnya Dr Meru Sheel dari Universitas ANU di Canberra mengatakan sebelum ada vaksin COVID-19, strategi "menekan penularan" merupakan pendekatan yang paling realistis.

"Saya kira dalam situasi saat ini strategi eliminasi itu tidak memungkinkan," kata Dr Sheel.

"Selandia Baru yang akan menjalankan strategi eliminasi, dalam beberapa bulan mengalami kasus baru," katanya.

Tujuan sama, pendekatan berbeda

Profesor Tony Blakely termasuk salah seorang pakar kesehatan masyarakat yang mendorong Australia untuk menerapkan strategi eliminasi pada bulan Juli lalu, ketika terjadi gelombang kedua di Victoria.

Para pendukung strategi eliminasi berpendapat bahwa lockdown yang lebih ketat dalam jangka pendek sangat diperlukan.

Profesor Blakely ketika itu mengatakan munculnya kembali virus ini sesekali, seperti yang terjadi di Selandia Baru, bukan berarti strategi eliminasi itu sia-sia.

"Eliminasi pada dasarnya bertujuan untuk menghilangkan penularan dalam komunitas. Bila muncul lagi, kita tangani dan eliminasi lagi," ujarnya.

Police wearing face masks walk in front of a public housing block.
Police wearing face masks walk in front of a public housing block.

Pendukung strategi eliminasi COVID-19 mendorong diterapkannya lockdown yang lebih ketat untuk menghilangkan virus dari populasi. (AAP: David Crosling)

Kini Profesor Blakely mengaku telah berubah pikiran dan menyadari bahwa strategi "menekan penularan secara agresif" merupakan cara terbaik.

"Dalam konteks Australia, karena jumlah penduduk, perbatasan negara yang berbeda, dan faktor politik, lebih baik memakai pendekatan yang lebih lunak daripada Selandia Baru," katanya.

Perbedaan kedua strategi, katanya, terletak pada seberapa intensif dan seberapa lama penerapan langkah-langkah tersebut.

Australia adalah salah satu dari sedikit negara termasuk China, Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, Fiji, dan Selandia Baru yang berupaya menjalankan salah satu strategi menekan.

Meskipun tak memilih strategi eliminasi, sebagian besar negara bagian di Australia berhasil mencapai periode tanpa penularan kasus secara lokal selama beberapa bulan.

Direktur Epidemiologi Doherty Institute, Profesor Jodie McVernon mengatakan kemampuan Australia untuk menekan laju infeksi virus corona mengejutkan para ahli kesehatan masyarakat.

"Sejak awal, kita ingin meratakan kurva dan menjaga jumlah kasus supaya berada dalam kapasitas kesehatan yang kita miliki," kata Prof McVernon.

Profesor McVernon mengatakan Victoria dan NSW akan selalu mengalami kesulitan karena kepadatan populasi serta kedatangan internasional yang lebih tinggi.

Dia mengatakan pengalaman kedua negara bagian ini menunjukkan mengapa menekan penularan secara agresif menjadi pendekatan yang tepat.

"NSW menjadi model di mana masyarakat dan ekonomi relatif masih terbuka tapi penularan virus tetap terkendali," kata Profesor McVernon.

Sementara Profesor Blakely mengatakan kemungkinan Victoria atau NSW untuk mencapai eliminasi COVID-19 tidak sampai 50 persen, sehingga langkah lockdown lebih lanjut menjadi tidak proporsional.

"Jika Victoria tidak dibuka, hasil dari eliminasi akan meningkat. Begitu pula dengan biaya sosial dan ekonominya," katanya.

"Dengan membuka lockdown, virus akan lebih mudah menyebar. Tapi bukan berarti tidak mungkin mengeliminasi virus," jelasnya.

Dengan menekan penularan secara agresif, Profesor McCaw mengatakan Australia masih akan terus mengalami kasus baru sebelum ada vaksin.

Keempat pakar epidemiologi ini sepakat bahwa pelacakan kontak untuk setiap kasus COVID-19 di Australia kini telah berjalan baik.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News.