Sejarah Arti Status Quo di Kompleks Masjid Al-Aqsa

Merdeka.com - Merdeka.com - Kekerasan pasukan Israel di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem baru-baru ini membuat Yordania berada pada posisi yang sulit berkaitan dengan kewajibannya sebagai kustodian atau pemelihara tempat suci tersebut.

Polisi Israel menyerang jemaah Palestina di Al-Aqsa, menyebabkan sekitar 200 orang terluka. Yordania merasa seperti tidak punya banyak pilihan selain mengecam kekerasan tersebut.

Kota tua, tempat masjid Al-Aqsa berada, berlokasi di Yerusalem timur yang diduduki Israel. Bagi orang Yahudi, Al-Aqsa disebut Bukit Bait Suci dan Muslim menyebutnya Haram al-Sharif, tempat suci ketiga dalam Islam.

Kekerasan yang terjadi dalam bulan Ramadan ini menjadi ujian bagi status quo Al-Aqsa yang telah berlangsung selama satu abad. Palestina dan Yordania menuduh Israel melanggar aturan yang telah berlangsung sejak lama dengan mengizinkan orang Yahudi dalam jumlah besar mengunjungi Al-Aqsa didampingi polisi.

Mantan Menteri Luar Negeri Yordania dan mantan Dubes Yordania pertama untuk Israel, Marwan Muasher mengatakan kustodian ini penting bagi Yordania karena berakar pada sejarah dan berfungsi sebagai sumber legitimasi.

Sejak 1967, ketika Israel merebut Yerusalem Timur dari Yordania, ditetapkan 'status quo' atas Al-Aqsa, di mana orang-orang Yahudi tidak boleh berdoa di kompleks Masjid Al-Aqsa dan hanya Muslim yang boleh beribadah di tempat suci ini.

Yahudi atau non-Muslim lainnya dizinkan masuk hanya untuk wisata atau kunjungan biasa.

Israel secara resmi mengakui "peran khusus" Yordania di tempat suci tersebut sebagaimana yang disepakati dalam perjanjian damai tahun 1994.

Namun demikian, Yordania tidak bisa mengendalikan pergerakan di dalam dan di sekitar Al-Aqsa. Yerusalem timur berada di bawah kendali Israel dan Yordania tidak memiliki pengaruh di lapangan. Aktivitas warga Israel di dalam dan di sekitar kompleks masjid Al-Aqsa, termasuk sejumlah penggalian arkeologi dan kunjungan orang Yahudi memicu protes diplomatik dari Yordania, namun tak ada dampaknya.

"Pengaruh Yordania bersifat diplomatik dan legal di bawah perjanjian damai, tetapi tidak memiliki pengaruh di lapangan," jelas Muasher kepada CNN, dikutip Kamis (28/4).

Mulai terkikis

Beberapa ahli memperingatkan peran Yordania sebagai kustodian ini mulai terkikis dan hanya simbolis, seperti disampaikan Amer Al Sabaileh dari Stimson Center, Washington, DC.

"Karena masjid itu berada di wilayah yang diduduki, di aman Israel memutuskan dan mengendalikan segalanya, dan itu sumber masalahnya," jelasnya.

Menurutnya, model kustodian itu perlu diubah sebelum menjadi masalah bagi Yordania.

Ketika sejumlah negara Arab menormalisasi hubungannya dengan Israel pada 2020, pemerintah Yordania khawatir pemegang kustodian itu dialihkan ke Arab Saudi. Yordania lalu mendorong Riyadh untuk menegaskan peran Amman sebagai pelindung situs tersebut.

Menurut Muasher, pada akhirnya satu-satunya jalan ke depan adalah Israel menyelesaikan masalahnya dengan Palestina di Yerusalem.

"Apa yang kita lihat dalam beberapa minggu terakhir di Yerusalem, tidak peduli berapa banyak kesepakatan yang dibuat Israel dengan dunia Arab, jika mereka tidak bisa berdamai dengan orang-orang Palestina yang tinggal di antara mereka, maka perdamaian tidak akan terjadi." [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel