Sejarah Asal-usul Hari Guru Nasional

Donny Adhiyasa, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVA – Setiap tanggal 25 November di Tanah Air, diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Peringatan Hari Guru Nasional merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap para guru yang telah membimbing dan menjadi pilar penting pendidikan bangsa Indonesia.

Namun pernahkah kita tahu, kenapa tanggal 25 November dipilih sebagai Hari Guru Nasional? Hari Guru Nasional berkaitan erat dengan sejarah asal-usul Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang diawali oleh terbentuknya Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada tahun 1912.

Dilansir dari laman resmi PGRI, PGHB ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para guru bantu, guru desa, kepala sekolah dan pemilik sekolah.

PGHB ini dibentuk untuk memperjuangkan nasib para anggotanya yang memiliki latar pendidikan berbeda-beda. Beriringan dengan perkembangan organisasi guru, maka munculah organisasi-organisasi guru lainnya.

Kemudian pada tahun 1932, dengan penuh kesadaran, 32 organisasi guru yang berbeda-beda latar belakang, paham dan golongan sepakat bersatu mengubah nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) jadi Persatuan Guru Indonesia (PGI).

Namun, pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup dan Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas.

Seratus hari setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, tepatnya tanggal 23-25 November 1945 berlangsung Kongres Guru Indonesia di Surakarta. Kongres berlangsung di Gedung Somaharsana (Pasar Pon), Van Deventer School, Sekolah Guru Puteri (sekarang SMP Negeri 3 Surakarta).

Sejak kongres Guru Indonesia (kongres ke-1 PGRI), semua guru Indonesia menyatakan dirinya bersatu dalam satu wadah PGRI.

Kemudian pada tahun 1994, Pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan hari lahir PGRI tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional dan selalu diperingati setiap tahunnya.

Penetapan tersebut merupakan wujud penghormatan kepada para guru dan PGRI yang tetap setia dalam pengabdiannya sebagai organisasi profesi yang bersifat unitaristik, independen dan nonpartisan di saat rona serta dinamika politik yang sangat dinamis.

Memasuki abad ke-21 yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi di segala bidang, terjadi perubahan cara dan banyak inovasi bermunculan. PGRI perlu mengubah mindset pengurus dan anggota agar cepat beradaptasi dalam struktur, kultur, substansi, dan sumberdaya berjalan efektif.