Sejarah Kapal Selam Indonesia, Sempat Jadi Armada Terbesar di Asia Tenggara

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia tengah diselimuti duka atas hilangnya kapal selam KRI Nanggala 402. Kabar terbaru, TNI Angkatan Laut (AL) telah menemukan serpihan kapal selam KRI Nanggala 402 di perairan Bali. Tentunya banyak pihak yang turut berduka cita dan mendoakan agar kapal dan para awak segera ditemukan.

Tahukah Anda, ternyata Angkatan Laut Republik Indonesia yang merupakan cikal bakal TNI Angkatan Laut pernah mengalami masa kejayaan di era 1966. bahkan kekuatan angkatan laut Indonesia di masa itu terbesar di Asia Tenggara.

Dikutip dari buku “Kapal Selam Indonesia” yang ditulis oleh Indroyono Soesilo dan Budiman pada tahun 2008 menceritakan sejarah keandalan Angkatan Laut Indonesia dalam beroperasi melumpuhkan musuh-musuhnya di lautan.

Ketika itu, Indonesia memiliki kapal selam jenis Whiskey Class buatan Uni Soviet, dua kapal induk untuk kapal selam yaitu KRI Ratulangi dan KRI Thamrin, dua kapal penangkap torpedo (KPT), dan satu kapal penyelamat.

Kehadiran armada perang tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki kekuatan angkatan laut terbesar di Asia Tenggara. Sayangnya, predikat itu kian memudar seiring dengan menyusulnya jumlah kapal selam yang ada saat ini.

Bisa dibilang, keperkasaan Angkatan Laut Indonesia itu tak terlepas dari lobi hebat yang dilakukan Presiden Pertama RI, Soekarno.

Bayangkan, dengan kondisi ekonomi yang terbatas, ditambah dengan hiruk-pikuknya suasana politik ketika itu, Indonesia mampu meyakinkan Uni Soviet untuk pengadaan kapal selam jenis Whiskey-Class yang tergolong memiliki teknologi canggih.

Di sisi lain, seluruh armada perang tersebut merupakan pinjaman lunak Uni Sovyet kepada Indonesia guna membantu operasi militer merebut Irian Barat. Bahkan untuk menunjang pengoperasian kapal selam, Uni Soviet juga membangun Sionbankasel (Stasiun Bantu Kapal Selam) yang digunakan mengisi baterai-baterai kapal selam. Seluruh bantuan itu mencapai USD 1 miliar kala itu.

Tentunya, dengan kehadiran 12 kapal selam, dua kapal induk kapal selam, dua kapal penangkap torpedo, dan satu kapal penyelamat dalam komando jenis kapal selam itu, menjadikan Angkatan Laut RI kian berwibawa.

Berikut kapal perang dalam komando jenis kapal selam yang pernah dimiliki Indonesia, diantaranya kapal selam RI Tjakra (TJK) 401, RI Nanggala (NGL) 402, RI Nagabanda (NBD) 403, RI Trisula (TSL) 404, RI Tjandrasa (TNS) 405, RI Nagarangsang (NRS) 406, RI Hendradjala (HAD) 407, RI Alugoro (AGR) 408, RI Widjajadanu (WDU) 409, RI Pasopati (PST) 410, RI Tjudamani (TDN) 411, RI Bramastra (BMA) 412.

Lalu ada kapal induk untuk kapal selam, yakni RI Ratulangi (RLI) 4101, RI Thamrin (THA) 4102, RI Buaja (BJA) 4103, RI Binjawak (BNK) 4104, RI Rantekambola (RKB) 4105.

Belanda Menyerah

Foto tak bertanggal yang dirilis 21 April 2021 menunjukkan kapal selam KRI Nanggala 402 berangkat dari pangkalan angkatan laut di Surabaya. Ada sebanyak 53 kru yang ikut dalam pelatihan di Kapal selam KRI Nanggala-402 dari jajaran Armada II Surabaya tersebut. (Handout/Indonesia Military/AFP)
Foto tak bertanggal yang dirilis 21 April 2021 menunjukkan kapal selam KRI Nanggala 402 berangkat dari pangkalan angkatan laut di Surabaya. Ada sebanyak 53 kru yang ikut dalam pelatihan di Kapal selam KRI Nanggala-402 dari jajaran Armada II Surabaya tersebut. (Handout/Indonesia Military/AFP)

Bahkan dengan kemampuan Angkatan Laut RI membuat Belanda menyerah. Atas prestasi itu, tentu saja, kita layak berbangga. Betapa tidak, pada saat itulah Angkatan Laut RI menjadi angkatan laut terbesar di Asia Tenggara.

Tentunya, kehadiran kapal-kapal selam RI, saat Operasi Trikora, sukses mengepung Irian Barat, mengadakan operasi pengintaian dan menyusupkan pasukan komando ke daratan Irian. Sukses ini membuat Belanda mengurungkan niat berperang terbuka dengan Indonesia.

Terbukti, kita ditakuti beberapa negara. Pasukan Belanda akhirnya menyerah dan memilih mengembalikan Irian Barat ke tangan Indonesia

Bahkan jika ada yang berani sembarangan melewati perairan Nusantara tanpa izin. Betapa kapal induk Inggris, HMS Victorious, harus siaga penuh saat melewati Selat Lombok pada 1964, namun tetap saja bisa dicegat olch kapal selam Indonesia. Mereka tak berani sembarangan karena dibayang-bayangi terus sampai meninggalkan perairan Nusantara.

Di lain kesempatan, kapal selam Indonesia, dengan mudah, bisa menyusup ke perairan pantai utara Australia. Lalu, berikutnya bisa masuk ke pelabuhan Singapura. Kapal-kapal selam itu bisa leluasa berkeliaran di perairan tersebut tanpa terdeteksi.

Kapal selam tersebut juga unjuk kebolehan di antara kapal-kapal niaga yang sedang sandar di sana untuk kemudian menghilang lagi ke dasar laut.

Tak terbayangkan pula, kapal selam-kapal selam Indonesia generasi 1960-an juga telah dilengkapi peluru kendali, mirip rudal Polaris, seperti yang dimiliki kapal-kapal selam modern Angkatan Laut Amerika Serikat. Kondisi seperti ini tentu membuat negara lain lebih berhati-hati jika harus berurusan dengan Indonesia.

Keandalan kapal selam Indonesia generasi Whiskey-Class itu lalu dilanjutkan generasi berikutnya, 209-Class buatan Jerman Barat. Kapal selam yang benar-benar baru ini lebih modern dan nyaman dari generasi sebelumnya. Ruang kabin sudah dipasangi penyejuk udara (AC) sehingga para awak kapal tidak lagi kepanasan seperti ketika mengoperasikan Whiskey-Class.

Lebih hebat lagi, senjata torpedo yang dipanggul kapal selam 209-Class adalah buatan PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) Bandung (kini PT Dirgantara Indonesia) sebagai karya unggul putra-putri Indonesia. Hasil uji coba memperlihatkan bahwa tingkat akurasi torpedo SUT (Surface Underwater Target) buatan Indonesia mencapai 100 persen.

Riset Laut

Penulis menyebut, tidak hanya di dunia militer, ternyata Indonesia juga merupakan sebagian kecil bangsa di dunia yang telah melaksanakan riset dasar laut dan riset laut dalam (deep sea) dengan menggunakan kapal selam riset Jepang, Shinkai 6500.

Terdapat enam ilmuwan Indonesia dan mitranya ilmuwan Jepang menyelam pada kedalaman lebih dari 2.000 meter di Palung Jawa pada Oktober 2002.

Para ilmuwan itu mencari jawaban ilmiah terhadap Patahan Sumatera, tentang endapan gas methana di dasar laut, serta keberadaan biota laut dalam yang hidup di wilayah tanpa cahaya sinar matahari itu. Merekalah ilmuwan pionir yang berhasil mendeteksi gempa Jawa Selatan (2006), dan pascatsunami Aceh (2004).

Demikian penulis mengatakan, keberadaan kapal selam diharapkan bisa menambah kewibawaan Indonesia. Lebih dari itu, kehadirannya sekaligus bisa menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menangkal ancaman dari luar.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: