Sejarah Ketupat Identik dengan Perayaan Hari Raya Idul Fitri

Syahdan Nurdin, delala
·Bacaan 1 menit

VIVA – Seperti diketahui, ketupat merupakan sajian khas di momen Lebaran atau identik dengan Hari Raya Idul Fitri. Ketupat pun semakin nikmat disantap bersama hidangan pelengkap lainnya, mulai dari opor ayam, rendang daging, dan sebagainya. Tahukah kamu? Tradisi makan ketupat dipopulerkan oleh seorang Wali Songo, yakni Sunan Kalijaga.

Kata ‘ketupat’ atau ‘kupat’ merupakan singkatan dari Ngaku Lepat yang artinya mengakui kesalahan dan Laku Papat yang berarti 4 tindakan.

Adapun mengakui kesalahan ditandai dengan adanya tradisi sungkeman (bersimpuh di hadapan orangtua sambil meminta maaf atas kesalahan yang mungkin pernah dilakukan).

Sedangkan laku papat atau 4 tindakan adalah mencerminkan 4 kegiatan yang dilakukan dalam perayaan Idul Fitri, yaitu lebaran, luberan, leburan, dan laburan.

Dimulai dari kata lebaran yang berasal dari kata lebar yang berarti bahwa adanya pintu pengampunan yang terbuka lebar. Selain itu, lebaran juga dapat diartikan sebagai waktu yang menandakan telah berakhirnya bulan suci Ramadhan.

Lalu, luberan artinya melimpah yang dijadikan sebagai simbol ajaran sedekah. Ini dihubungkan dengan kewajiban umat muslim saat menjelang Hari Raya Idulfitri adalah dengan membayar zakat fitrah.

Selanjutnya, leburan itu artinya habis atau melebur yang bermakna bahwa perayaan Idulfitri adalah kesempatan di mana manusia kembali menjadi fitrah. Pasalnya, pada saat Lebaran, biasanya umat Muslim akan saling bermaafan untuk meleburkan kesalahan dan dosa.

Terakhir adalah kata laburan yang berasal dari kata labur atau kapur. Kapur di sini maksudnya adalah zat yang biasanya berguna untuk menjernihkan air atau memutihkan dinding. Kata laburan mengandung makna bahwa manusia sebaiknya senantiasa menjaga kesucian lahir dan batinnya.