Sejarah Mencatat, AS dan Korut Pernah Kompak Hadapi Musuh yang Sama

Merdeka.com - Merdeka.com - Selama ini diketahui bahwa Korea Utara dan Amerika Serikat (AS) saling bermusuhan, yang dimulai sejak Perang Korea. Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un juga kerap mengancam akan menyerang daratan AS dengan rudal nuklir jarak jauh.

Namun ternyata 15 tahun lalu, kedua negara ini pernah bersatu untuk melawan musuh yang sama yaitu perompak.

Pada 29 Oktober 2007, para perompak Somalia menyerang kapal dkargo Korea Utara, Dai Hong Dan dan meminta tebusan sebesar USD15.000. Korea Utara meminta bantuan. Kebetulan kapal penghancur atau penyerang Angkatan Laut AS sedang melakukan operasi anti perompak di lepas pantai Somalia dan menerima pesan AS tersebut.

Kapal penghancur USS James E Williams lalu meluncurkan helikopter SH-60B untuk mengecek situasi dan melalui radio meminta para perompak menyerahkan diri.

Di dalam kapal AS itu, ada seorang anggota yang bisa berbahasa Korea. Roy Park merupakan keturunan Korea-Amerika, dia memfasilitas komunikasi antara Dai Hong Dan dan orang Amerika.

Setelah para perompak melempar senjatanya ke laut, Roy Park menaiki kapal Korea Utara bersama seorang tenaga medis. Tiga awak kapal Korea Utara terluka parah dan dibawa ke kapal USS James E. Williams untuk perawatan lebih lanjut. Satu perompak Somalia tewas dalam pertarungan dengan kru kapal Korea Utara.

Insiden itu tampaknya memiliki dampak besar pada Roy Park secara pribadi. Walaupun orang-orang Korea Utara itu memakai lencana Kim Il Sung dan Kim Jong Il di dada mereka dan foto para pemimpin Korea Utara terpasang di dinding kapal, Park mengatakan kepada Voice of Amerika (VOA), dia menyadari orang Korea Utara itu tidak ada beda dengan dirinya. Cara mereka menatap dan berbicara mengingatkan Roy Park akan keluarga Koreanya.

Park mengatakan Korea Utara mengungkapkan terima kasih yang dalam terhadap pelaut AS dan tenaga medis.

USS James E. Williams mengantar orang Korea Utara yang terluka itu ke kapal Dai Hong Dan sebelum kembali berlayar. Demikian dikutip dari laman NK News, Rabu (2/11).

Kapal Korea Utara itu lalu berada di Yaman selama beberapa hari. Menurut awak kapal, Dai Hong Dan sedang menuju Pelabuhan Mogadishu ketika dihadang perompak yang mengaku personel keamanan. Setelah berlayar sekitar 16 kilometer, para perompak mengeluarkan senapan M16 dan memerintahkan kru kapal menuju pangkalan mereka di Harardhere, 12 jam dari pesisir Mogadishu.

Saat di tengah laut, dua awak Dai Hong Dan mematikan mesin dan menghentikan kapal. Dua perompak lalu memeriksa kapal dan awak Korea Utara mengaku mesin kapal rusak. Saat perhatian perompak teralihkan, orang Korea Utara itu menyerang para perompak, mengalahkan mereka dan merebut senjata mereka. Selama 3,5 jam setelahnya, awak kapal dan perompak terlibat baku tembak. Ketika bantuan dari Amerika tiba di TKP, orang Korea Utara mengatakan mereka hampir bisa mengendalikan situasi.

Walaupun kru kapal mengatakan militer AS membantu di akhir pertarungan, Kantor Berita Korea Utara (KCNA) mengatakan para perompak menjatuhkan senjata mereka dan menyerah setelah helikopter AS muncul dan mengeluarkan peringatan melalui radio.

Media pemerintah itu juga menyebut masalah perompakan itu sebagai "simbol kerjasama Korea Utara-AS dalam berjuang menumpas terorisme," dan menambahkan Korea Utara akan terus melawan terorisme di masa depan.

Apa yang terjadi di tengah laut itu merupakan kejadian langka. Bahkan musuh bebuyutan pun bisa saling bekerja sama. [pan]