Sejarah Operasi Plastik, Diakselerasi Perang Dunia hingga Jadi Prosedur Kecantikan Mendunia

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Operasi plastik saat ini identik dengan prosedur kecantikan dan proses mendapatkan kulit awet muda, meskipun memiliki tingkat keberhasilan yang beragam. Bidang ini telah ada selama berabad-abad dan didorong oleh kebutuhan medis serta tidak ada hubungannya dengan plastik.

Kata plastik ini berasal dari Bahasa Yunani “plastikos” yang berarti membentuk atau memberi bentuk. Sementara, gagasan menyempurnakan diri melalui bedah plastik adalah fenomena yang relatif baru.

Prosedur bedah plastik muncul dalam teks medis Mesir Kuno yang disebut “Edwin Smith Papyrus”. Buku ini dianggap sebagai buku teks bedah trauma tahap awal dan dinamai sesuai nama ahli Mesir Kuno dari Amerika Serikat yang membelinya pada 1862.

Dilansir dari CNN, Rabu, 2 Juni 2021, teks tersebut berisi studi kasus terperinci untuk berbagai cedera. Selain menunjukkan cara orang Mesir merawat luka dan patah tulang, Papyrus juga mengungkapkan penyembuhan yang disarankan untuk cedera hidung dengan memanipulasi hidung ke posisi yang diinginkan menggunakan belat kayu, serat kain, penyeka dan sumbat linen.

Pada abad ke-6 SM, dokter di India bernama Sushruta Samhita melakukan prosedur yang tidak berbeda dengan rinoplasti kosmetik modern. Sebuah ringkasan menyebutkan Sushruta atau yang biasa disebut Bapak Bedah Plastik menguraikan teknik yang sangat canggih untuk cangkok kulit. Teknik Sushruta melibatkan pembuatan hidung baru menggunakan kulit dari tempat lain di wajah pasien. Kulit yang digunakan ini bisa berasal dari bagian dahi atau pipi.

Pada abad ke-4 di Tiongkok, seorang dokter berhasil menjalankan operasi untuk memperbaiki bibir sumbing untuk pertama kalinya. Sedangkan, Aulus Cornelius Celsus, seorang ensiklopedis di Roma telah mendokumentasikan prosedur di mana kelebihan kulit di sekitar mata pasien dapat diangkat melalui pembedahan.

Zaman dahulu, operasi plastik hanya dilakukan oleh seseorang untuk menggantikan sesuatu, bukan untuk meningkatkan daya tarik estetika mereka. Hal ini lantaran rasa sakit dan risiko yang tinggi serta tingkat keberhasilan yang masih rendah.

Awalnya Bukan untuk Estetika

Ilustrasi operasi plastik. (dok. Olga Guryanova/Unsplash.com)
Ilustrasi operasi plastik. (dok. Olga Guryanova/Unsplash.com)

Salah satu faktor yang mempercepat terjadinya inovasi operasi plastik adalah perang. Selama Perang Dunia I, banyak pasien yang memiliki cedera di wajah mereka ditambah dengan kemajuan dalam transfusi darah dan pengendalian infeksi yang memungkinkan dokter untuk bereksperimen dengan teknik operasi plastik baru yang lebih inovatif.

Saat itu, operasi plastik diprioritaskan kepada pasien militer dan sipil untuk meningkatkan fungsi seperti mengunyah atau bernafas agar menjadi lebih mudah. Hal ini lantaran selama perang banyak korban berjatuhan dengan luka pada wajah dan dada yang menyebabkan mereka sulit mengunyah serta bernafas.

Setelah masa perang berakhir, inovasi operasi plastik kian berkembang seiring peningkatan teknologi dan pengurangan risiko. Pada 1960-an, di AS banyak prosedur kecantikan yang dilakukan seperti pembesaran payudara, operasi hidung, dan pembentukan kembali wajah. Namun, sebagian besar pasien yang melakukan hal tersebut adalah mereka yang pernah menderita kanker atau cacat.

Pada 1990-an, prosedur operasi plastik di AS tumbuh sepuluh kali lipat, sedangkan menurut data dari American Society of Plastic Surgeons peningkatan operasi plastik terjadi sebanyak dua puluh kali lipat. Hal ini didorong oleh banyaknya selebriti yang mencoba untuk melakukan bedah plastik.

Peningkatan ini juga terjadi karena pemikiran pasca-feminis, di mana banyak perempuan yang ingin merebut kembali seksualitas mereka. Banyak wanita Amerika saat itu yang menjalani operasi plastik untuk menekankan semua bagian tubuh yang banyak dierotiskan, seperti paha dan lekuk payudara dengan tujuan memamerkan feminitas.

Negara Paman Sam ini ternyata adalah negara dengan operasi plastik terbanyak di dunia. Sebanyak 1.492.283 juta tindakan bedah plastik telah dilakukan selama 2019 lalu, baik untuk alasan kesehatan maupun kecantikan. Sedangkan, total tindakan bedah dan nonbedah mencapai 4.361.867 juta atau 18,7% dari seluruh tindakan operasi plastik di seluruh dunia.

Akhir-akhir ini, operasi plastik untuk pembesaran payudara di AS turun sebesar 33 persen dan pengangkatan bokong turun 27 persen. Sedangkan, operasi plastik berupa sedot lemak pada bagian leher, pengencangan wajah bagian bawah, dan filler di bawah mata meningkat.(Dinda Rizky Amalia Siregar)

Fenomena Operasi Plastik

Infografis Fenomena Operasi Plastik (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Fenomena Operasi Plastik (Liputan6.com/Triyasni)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel