Sejarah Panjang Lahirnya PSSI: Sumpah Pemuda, Soeratin, dan Perlawanan Lewat Sepak Bola

·Bacaan 6 menit

Bola.com, Jakarta - Hari ini, PSSI menginjak usia yang ke-92 tahun, Senin (19/4/2022). Begitu panjang cerita perjalanan dari induk organisasi sepak bola Indonesia, bahkan sebelum negara ini merdeka.

Sejarah sepak bola Indonesia tak bisa dilepaskan dari pergerakan Sumpah Pemuda. Dorongan mendirikan PSSI berasal dari anak-anak muda yang terlibat dalam deklarasi Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

PSSI resmi berdiri 19 April 1930 di Yogyakarta dengan nama Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia. Di awal berdirinya organisasi olahraga yang satu ini dijadikan wadah bagi pemuda-pemuda seantero Tanah Air untuk melakukan perlawanan menghadapi penjajah Belanda lewat medium sepak bola.

Tokoh muda, Ir Soeratin Sosrosoegondo, berperan besar di awal masa berdirinya PSSI. Sebagai pemuda yang gemar bermain sepak bola, Soeratin melihat bahwa organisasi sepak bola menjadi medium yang pas untuk mendorong pergerakan Sumpah Pemuda yang dideklarasikan pada 28 Oktober 1928. Bal-balan menjadi olahraga yang amat populer saat itu. Banyak pemuda memainkannya.

Soeratin yang dikenal sebagai pribadi yang kritis intens mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh sepak bola di Solo, Yogyakarta, dan Bandung. Pertemuan dilakukan secara rahasia untuk menghindari sergapan Polisi Belanda.

Pertemuan Rahasia

Patung Soeratin, pendiri PSSI di depan Balai Persis Solo, tempat digelarnya Kongres PSSI pertama periode 1930-1940. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)
Patung Soeratin, pendiri PSSI di depan Balai Persis Solo, tempat digelarnya Kongres PSSI pertama periode 1930-1940. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Sebuah pertemuan di hotel kecil Binnenhof di Jalan Kramat 17, Jakarta, Soeri, ketua VIJ (Voetbalbond Indonesische Jakarta), dan juga pengurus lainnya, mencapai kata sepakat perlunya dibentuk sebuah organisasi sepak bola nasional.

Selanjutnya, pematangan gagasan tersebut dilakukan kembali di Bandung, Yogyakarta, dan Solo yang dilakukan dengan beberapa tokoh pergerakan nasional, seperti Daslam Hadiwasito, Amir Notopratomo, A. Hamid, dan Soekarno.

Sementara itu, untuk kota-kota lainnya, pematangan dilakukan dengan cara kontak pribadi atau melalui kurir, seperti dengan Soediro yang menjadi Ketua Asosiasi Muda Magelang.

Ending-nya Soeratin beserta sejumlah tokoh muda menggelar pertemuan pada tanggal 19 April 1930.

Pertemuan ini dihadiri wakil dari VIJ (Sjamsoedin, mahasiswa RHS), BIVB - Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (Gatot), PSM - Persatuan sepak bola Mataram Yogyakarta (Daslam Hadiwasito, A. Hamid, dan M. Amir Notopratomo), VVB - Vortenlandsche Voetbal Bond Solo (Soekarno), MVB - Madioensche Voetbal Bond (Kartodarmoedjo), IVBM - Indonesische Voetbal Bond Magelang (E.A. Mangindaan), dan SIVB - Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (Pamoedji).

Dari rapat tersebut, mencuat kesepakatan bersama untuk mendirikan PSSI, singkatan dari Persatoean Sepak Raga Seloeroeh Indonesia.

Nama PSSI lalu diubah dalam kongres organisasi yang dihelat di Solo pada tahun 1930 menjadi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia sekaligus menetapkan Soeratin sebagai ketua umumnya.

Ngotot Ikut Piala Dunia 1938

Timnas Indonesia dengan sebutan Hindia Belanda saat Piala Dunia 1938 di Prancis. (AFC)
Timnas Indonesia dengan sebutan Hindia Belanda saat Piala Dunia 1938 di Prancis. (AFC)

Berdirinya PSSI langsung diikuti dengan keikut sertaan Indonesia ikut berpartisipasi di Piala Dunia 1938 Prancis. Keinginan untuk terlibat di perhelatan akbar sepak bola dunia ini menyisakan kontroversi, mengingat kala itu Indonesia masih menjadi negara jajahan Belanda. Republik Indonesia belum berdiri.

Indonesia berlaga di turnamen ini dengan nama Dutch East Indies (Hindia Belanda) setelah lolos dari babak kualifikasi tanpa harus bertanding. Kualifikasi Zona Asia hanya diwakili oleh Indonesia dan Jepang, nama terakhir mengundurkan diri karena sedang berada dalam situasi perang dengan Cina.

Sesuai yang dikutip dari situs stay4liv diceritakan pengiriman kesebelasan Hindia Belanda bukannya tanpa hambatan. NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie) atau Organisasi Sepak Bola Hindia-Belanda di Batavia bersitegang dengan PSSI (Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia) yang telah berdiri 19 April 1930.

PSSI yang diketuai Soeratin Sosrosoegondo, ingin pemain mereka yang dikirimkan. NIVU dan PSSI kemudian membuat kesepakatan pada 5 Januari 1937, salah satu butirnya yakni dilakukan pertandingan antara tim bentukan NIVU melawan tim bentukan PSSI sebelum diberangkatkan ke Piala Dunia atau semacam seleksi tim.

Sayang, NIVU melanggar perjanjian dan memberangkatkan tim bentukannya. Konon, NIVU melakukannya karena tak mau kehilangan muka, karena PSSI masa itu memiliki tim yang kuat, termasuk kipernya yaitu R. Maladi.

Soeratin marah besar atas hal ini. PSSI lantas membatalkan secara sepihak perjanjian dengan NIVU saat Kongres PSSI di Solo pada 1938.

Ditangani pelatih Johannes van Mastenbroek, pemain kesebelasan Hindia-Belanda adalah mereka yang bekerja di perusahaan-perusahaan Belanda.

Sulit untuk mengetahui secara pasti daftar susunan pemain Hindia-Belanda yang ikut bertanding, mengingat ketika itu Tim Hindia-Belanda hanya melakukan satu kali pertandingan dan juga minimnya pencatatan informasi pada masa itu.

Namun yang resmi tercatat oleh FIFA adalah sebagai berikut: Mo Heng Tan (penjaga gawang), Achmad Nawir (kapten), Hong Djien Tan, Frans Meeng, Tjaak Pattiwael, Hans Taihuttu, Suvarte Soedarmadji, Anwar Sutan, Henk Sommers, Frans Hukon, dan Jack Samuels.

Sementara itu di bangku cadangan pemain-pemain yang ikut ambil bagian antara lain: J. Harting (kiper), Mo Heng Bing, Dorst, Teilherber, G. Faulhaber, R. Telwe, See Han Tan, dan G. Van den Burgh.

Berangkat dengan Kapal Laut

Kesebelasan Hindia Belanda (NIVU) saat tampil di Piala Dunia 1938. (Istimewa)
Kesebelasan Hindia Belanda (NIVU) saat tampil di Piala Dunia 1938. (Istimewa)

Skuat Hindia Belanda berangkat pada tanggal 18 Maret 1938 menggunakan Kapal MS Johan van Oldenbarnevelt dari Tandjong Priok, Batavia menuju Belanda.

Tim Hindia-Belanda pun akhirnya tiba di Pelabuhan Rotterdam setelah terombang-ambing oleh badai petir selama 3 bulan. Untuk memulihkan kondisi fisik dan mental, mereka melakukan beberapa pertandingan uji coba. Surat kabar Sin Po (yang selalu menyebut NIVU sebagai Tim Indonesia) intens melaporkan perjalanan NIVU ke Eropa.

Sin Po edisi 26 Mei 1938 memberitakan van Bommel dari NIVU telah menghadap Menteri Urusan Tanah Jajahan yang akan menerima Tim Indonesia pada 31 Mei.

Sin Po 27 Mei 1938 memberitakan hasil pertandingan Indonesia melawan HBS, skor 2-2. Edisi 28 Mei 1938, dilaporkan bahwa Mo Heng (kiper) cedera sehingga diragukan bisa tampil di Prancis, juga bahwa Tim Indonesia menyaksikan pertandingan Liga Belanda antara Heracles melawan Feyenoord.

Selanjutnya Sin Po 2 Juni 1938 melansir, Indonesia menang atas klub Haarlem dengan skor 5-3. Mereka bermain dengan formasi 2-2-6, sebuah strategi yang berorientasi menyerang.

Strategi inilah yang telah mereka siapkan untuk melawan Hongaria, lawan pertama mereka, yang begitu dijagokan di Piala Dunia 1938. Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju Paris dengan kereta api diiringi oleh yel-yel dari sekelompok suporter, antara lain nyanyian “Kora kora, nee” yang mirip dengan nyanyian “Ole, ole, ole” yang populer sekarang ini.

5 Juni 1938, pukul 17.00 waktu setempat, tibalah saatnya pertandingan antara Hongaria dan Hindia-Belanda. Pertandingan berlangsung di Velodrome Municipal di kota Reims, 129 km dari Paris, dihadiri oleh sekitar 9.000 penonton dan wartawan dari 27 negara berbeda.

Sebelum kick-off, para pemain Hindia-Belanda lupa melakukan kegiatan ritual mereka, seperti Mo sang kiper yang lupa menepuk-nepuk kedua tiang gawang, dan si gelandang kidal “Boedie,” yang melupakan kebiasaannya membulat-bulatkan rumput lapangan dengan jarinya terus menerus sampai berair, dan menghirupnya.

Mereka pun bermain dengan formasi menyerang 2-2-6, namun tak bisa berbuat banyak. Baru 13 menit permainan berjalan, gawang Mo Heng sudah berhasil dibobol penyerang Hongaria Vilmos Kohut. Disusul gol-gol lainnya di menit 15, 28, dan 35.

Babak pertama berakhir 4-0, namun dua gol lagi berhasil disarangkan pemain Hongaria ke gawang Hindia-Belanda yang menjadikan skor akhir 6-0. Tim NIVU harus menyudahi petualangan di World Cup lebih dini, karena turnamen akbar garapan FIFA kala itu menggunakan sistem format knock-out.

Momen Piala Dunia 1938 jadi bukti kongkrit perlawanan anak-anak muda bangsa lewat corong PSSI untuk mendorong kemerdekaan bangsa kita. Selamat Sumpah Pemuda!

*) Tulisan pernah dimuat di Bola.com pada 19 April 2017 dengan judul 5 Peristiwa Fenomenal Sepanjang 87 Tahun Usia PSSI

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel