Sejarah Perayaan Halloween, Dari Ritual Menakuti Roh Jahat hingga Jadi Pesta Kostum

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Halloween merupakan arti dari All Hallows 'Eve yang selalu dirayakan pada malam sebelum All Saints 31 Oktober. Perayaan tersebut merupakan tanda hari dari pesta Kristen Barat All Saints untuk memulai musim Allhallowtide yang berlangsung selama tiga hari.

Untuk disebagian besar wilayah Eropa dan mayoritas di Amerika Utara perayaan Halloween merupakan kegiatan yang non-religius.

Dilansir dari Britannica, Jumat (30/10/2020), awal mulanya Halloween merupakan festival dari Samhain pada 1 November. Menurut kalender kontemporer, tanggal tersebut dianggap sebagai awal periode musim dingin, tanggal kembalinya ternak dari padang rumput, dan kepemilkian tanah yang diperbarui.

Maka selama festival Samhain, jiwa mereka yang telah meninggal diyakini akan kembali mengunjungi rumah mereka dan mereka yang meninggal selama tahun itu diyakini melakukan perjalanannya ke dunia lain.

Dipuncak bukit, orang-orang akan menyalakan api unggun untuk menakuti roh-roh jahat dan menyalakan kembali perapian milik mereka selama musim dingin, terkadang mereka juga menggunakan topeng dan penyamaran untuk menakut-nakuti roh jahat agar tidak dikenali hantu yang berada di sekitar situ. Dikarenakan cara itulah makhluk seperti penyihir, hobgoblin, peri, dan iblis dikaitkan pada hari itu, periode itu juga dianggap menguntungkan untuk ramalan pada hal-hal tertentu.

Pada abad ke-7 M, Paus Boniface IV menetapkan Hari Semua Orang Kudus, yang diawali pada 13 Mei yang kemudian dipindahkan ke 1 November, yaitu malam sebelum hari All Saints. Perayaan Halloween sebagian besar dilarang pada penjajah Amerika awal, walaupun pada 1800-an berkembang untuk menandai panen dan kemudian memasukan unsur elemen Halloween.

Perayaan yang Diikuti Anak-Anak

Dekorasi Halloween terlihat di sebuah rumah di New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat, pada 10 Oktober 2020. Tiga pekan sebelum perayaan Halloween, warga New Orleans mulai mendekorasi rumah mereka untuk menyambut festival tersebut. (Xinhua/Lan Wei)
Dekorasi Halloween terlihat di sebuah rumah di New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat, pada 10 Oktober 2020. Tiga pekan sebelum perayaan Halloween, warga New Orleans mulai mendekorasi rumah mereka untuk menyambut festival tersebut. (Xinhua/Lan Wei)

Kemudian pada abad ke-19, imigran Amerika membawa kebiasaan kegiatan Halloween. Pada abad ke-20 kegiatan itu menjadi salah satu hari libur utama di Amerika, khususnya anak-anak.

Halloween selain menjadi hari libur sekuler, kegiatan perayaan itu juga menjadi salah satu praktik menarik untuk mengekspresikan lelucon yang biasanya tidak berbahaya.

Biasanya dari selebriti pun ikut mengenakan topeng dan kostum untuk pesta dan untuk Trick-or-treaters yang dianggapkan sebagai praktik Inggris yang mengizinkan orang miskin untuk meminta makanan disebut juga soul cakes atau kue jiwa.

Trick-or-treaters adalah salah satu ucapan untuk seseorang yang akan pergi ke rumah rumah dengan ancaman bahwa mereka akan melakukan trick jika mereka tidak menerima hadiah, biasanya orang-orang akan memberikan mereka sebuah permen.

Banyak acara yang disertakan dalam pesta Halloween, salah satunya adalah mengayunkan apel yang mungkin berasal dari perayaan romawi Pomona. Kemudian adanya kerangka dan kucing hitam yang dijuluki sebagai hantu, penyihir, dan vampir pada kegiatan itu.

Simbol lainnya juga seperti Jack-o’-Lantern, yaitu sebuah labu yang berlubang kemudian diukir berupa gambar dan dihidupkan menggunakan sebuah lilin di dalamnya, lalu pada pertengahan abad ke-20 Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-bangsa (UNICEF) telah mengumpulkan uang untuk sebagian programnya dalam bagian dari perayaan Halloween.

Reporter: Romanauli Debora

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: