Sejarah Rokok Kretek Pernah Jadi Alat Diplomasi Indonesia Lobi Pangeran Philip

Merdeka.com - Merdeka.com - Tembakau dari dulu sudah menjadi salah satu ciri khas dari identitas kebudayaan nusantara. Tak hanya komoditas semata, tembakau lekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari menjadi bagian ritual tertentu, hingga sebagai alat diplomasi sejumlah pahlawan nasional yaitu Soekarno dan Agus Salim.

Budayawan dan pengkaji filsafat, Irfan Afifi menyebut bahwa tembakau membentuk tradisi kedaulatan nasional.

"Kretek yang merupakan campuran dari tembakau dengan cengkih itu khas Indonesia. Sejak dahulu, sudah ada catatannya. Bahkan, rokok sudah ada sejak zaman Sultan Agung. Ini artinya produksi tembakau memang sudah ada. Perjalanannya sampai kini yang salah satunya membentuk tradisi kedaulatan nasional," ungkapnya dikutip Rabu (9/11).

Sejak dahulu, tembakau dan produk turunannya seperti kretek merupakan hasil kebudayaan orisinal dari masyarakat Indonesia. Sebab, menurut Irfan, penanaman tembakau sejak dahulu memang merupakan manifestasi dari manusia-manusia Indonesia itu sendiri sehingga menciptakan relasi kebudayaan yang sakral.

Irfan mencontohkan di beberapa wilayah, misalnya di daerah Temanggung, hingga kini masih terdapat beberapa ritual kebudayaan yang merepresentasikan penanaman tembakau sebagai sarana mendidik manusia penanamnya. Nilai-nilai ini yang tercermin dari para petani tembakau dan masih menjadi tradisi hingga kini.

Identitas tersebut turut pula diejawantahkan oleh sejumlah pahlawan-pahlawan nasional sekaligus pendiri bangsa seperti Soekarno dan Agus Salim. Mereka kerap menjadikan kretek sebagai alat diplomasi yang menegaskan posisi Indonesia sebagai negara merdeka dan berdaulat.

Agus Salim bahkan pernah memamerkan kretek kepada Pangeran Philip menjelang penobatan mendiang Ratu Elizabeth sebagai pemegang tahta Britania Raya pada tahun 1953.

"Makanya tembakau juga menjadi bahan diplomasi yang menunjukan bahwa Indonesia memiliki produk yang berbeda dengan yang lain, ada kretek sendiri," sambung Irfan.

Kini Identitas Mulai Terkikis

Meski demikian, Irfan mengakui dalam perjalanannya hingga kini, identitas sekaligus tradisi kedaulatan dari tembakau memang mulai terkikis. Komodifikasi tembakau makin menguat yang sangat disayangkan bahkan kedaulatan ekonomi dari tembakau tak dapat dilindungi akibat gencarnya intervensi-intervensi lembaga asing yang berupaya menghancurkan seluruh ekosistem atas nama nilai-nilai mulia.

Imbasnya, petani tembakau makin terhimpit dan tertekan yang justru menciptakan gaya penjajahan baru. Makin gencarnya kampanye-kampanye anti-tembakau yang didanai dan didorong oleh lembaga-lembaga internasional justru jadi rujukan bagi pemerintah yang tanpa disadari dapat mematikan petani-petani tembakau kecil.

"Tembakau sudah teruji merupakan tanaman yang berguna dan memiliki nilai ekonomi tinggi., Ekosistem tembakau adalah salah satu kontributor ekonomi yang harapannya bisa menjadi salah satu sektor paling berdaulat dibandingkan sektor-sektor lainnya. Sayangnya, perlindungan oleh negara justru maju mundur untuk dilakukan. Kita memiliki keunggulan di salah sektor tembakau, tapi malah mau dibunuh," lanjutnya.

Menyikapi hal ini, Irfan menyarankan agar pemerintah dapat terus dapat mempertahankan kedaulatannya pada level politik agar dapat menentukan kebijakan ekonomi dan kebudayaannya secara mandiri.

Kedaulatan untuk komoditas yang menjadi mata pencaharian 6 juta rakyat harus diutamakan. Sebab, tanpa kedaulatan, arah pertumbuhan negara dan masyarakat Indonesia akan selalu memiliki ketergantungan atas kepentingan-kepentingan yang bukan merupakan tujuan nasional.

Sumber: Liputan6.com [idr]