Sejarah Tsunami Dahsyat di Maluku dan Fakta Mengejutkan Palung Banda

Merdeka.com - Merdeka.com - Gempa bumi magnitudo 7,5 mengguncang Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, Selasa (10/1). Berdasarkan catatan sejarah, bukan kali ini saja wilayah kaya rempah-rempah tersebut diguncang lindu.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjabarkan, Maluku pernah diguncang gempa dahsyat hingga menyebabkan tsunami yang berdampak cukup luar biasa.

"Kalau kita lihat balik ke belakang tahun 1674 itu, ada tsunami yang mungkin tercatat paling tinggi di Indonesia hingga saat ini. Ukurannya mungkin antara 90 sampai 112 meter pada saat itu, dan itu cukup mengakibatkan banyak korban," kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari. Dikutip dari Antara.

Dilansir dari website BNPB, 349 tahun lalu gempa mengguncang Ambon dan sekitarnya pada malam tanggal 17 Februari 1674. Gempa disusul tsunami dari Laut Banda yang dicatat oleh Georg Everhard Rumphius (1627-1702) seorang ilmuwan Eropa yang pernah tinggal di Ambon. Gempa dan tsunami berdampak kerusakan rumah warga dan menelan korban jiwa yang dperkirakan mencapai 2.500 orang meninggal dunia.

Gempa terjadi pada antara pukul 19.30–20.00 waktu setempat, bertepatan dengan suasana perayaan Tahun Baru China yang berlangsung cukup meriah di sekitar pasar. Guncangan yang sangat keras melanda seluruh Pulau Ambon dan pulau-pulau di sekitarnya, mengakibatkan 86 orang meninggal dunia tertimpa runtuhan bangunan. Rumah-rumah yang terbuat dari batu mengalami banyak retakan sehingga tidak bisa digunakan lagi.

Segera sesudah terjadi gempa, gelombang pasang terjadi di seluruh pesisir Pulau Ambon. Pesisir Utara di Semenanjung Hitu menderita kerusakan yang paling parah, terutama di daerah Ceyt di antara Negeri Lima dan Hile. Di daerah ini air naik setinggi 40–50 toises atau sekitar 70–90 meter.

Rumphius menjadi salah satu saksi bencana besar yang melanda Ambon masa itu. Korban gempa dan tsunami tercatat diperkirakan mencapai lebih dari 2.500 jiwa, termasuk istri dan anak Rumphius. Catatan sang ilmuwan ini merupakan sebagian dari catatan sejarah gempa dan tsunami terkait bencana rapid onset yang pernah terjadi dan paling mematikan di Maluku serta sekitarnya.

Terkait potensi gempa di Maluku, BNPB menjelaskan hal tersebut tidak lepas dari keberadaan Palung Banda, yang menjadi bagian paling dalam di Indonesia hingga 6.000 meter di bawah permukaan laut.

"Ini setelah dari beberapa hasil riset dari para peneliti, juga berpotensi tsunami. Tidak hanya dari pergerakan subduksinya, tetapi juga dari longsoran," terang dia.

Artinya, lanjut Abdul, secara historis Maluku dan Maluku Utara adalah daerah dengan frekuensi kejadian tsunami paling tinggi sejarahnya di Indonesia.

Namun, menurut dia, hal itu bukan menjadi aspek yang kemudian membuat ketakutan pada masyarakat, tetapi menjadi aspek untuk kesiapsiagaan. Saat merasakan gempa di pinggir pantai, jika guncangan itu menerus selama lebih dari 20 detik, diharapkan masyarakat dapat mengevakuasi diri.

Dampak Gempa Tanimbar, 92 Rumah Rusak

BNPB melaporkan 92 rumah warga Kabupaten Kepulauan Tanimbar mengalami kerusakan, pascagempa magnitudo 7,5 pada Selasa dini hari.

Hingga kini belum ada laporan korban jiwa maupun jumlah warga yang mengungsi pascagempa. BPBD setempat masih melakukan pendataan di lokasi terdampak. Sementara itu, satu warga di Dusun Romnus, Kecamatan Wuarlabobar, Kecamatan Tanimbar Selatan, mengalami luka-luka.

Pusat gempa berada di 136 km barat laut Kepulauan Tanimbar dengan kedalaman 130 km. Berselang beberapa waktu kemudian, gempa susulan terjadi dengan magnitudo 5,5, tepatnya pukul 01.10 WIB atau 03.10 waktu setempat. Pusat gempa berada di 197 km barat laut Kepulauan Tanimbar dengan kedalaman 128 km. Pusat gempa berada di laut dan tidak berpotensi tsunami.

Jaringan Listrik kembali Pulih

PT PLN (Persero) berhasil memulihkan 100 persen sistem kelistrikan di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, pascagempa dengan magnitudo 7,5.

"PLN bergerak cepat dalam menormalkan kondisi sistem kelistrikan dan berhasil memulihkan tujuh gardu distribusi yang terdampak atau 100 persen dari sistem kelistrikan Kepulauan Tanimbar," kata Manajer PLN UP3 Saumlaki, Robert Leimena.

Ia mengatakan, seluruh gardu distribusi yang terkena dampak dan mengalami gangguan diakibatkan oleh pepohonan yang roboh menimpa gardu distribusi.

"Saat ini sebanyak 723 pelanggan yang terdampak sudah dapat kembali menikmati pelayanan kelistrikan," ujarnya.

PLN melakukan beberapa upaya perbaikan jaringan distribusi yang mengalami kerusakan, di antaranya perbaikan tiang Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) yang miring, perbaikan konstruksi SUTM yang patah hingga perbaikan isolator yang berjatuhan.

"Kami langsung bergerak cepat untuk melakukan pemulihan pascabencana. Untuk penyulang dalam kota sudah normal tadi pagi, hanya saja untuk penyulang ilngey yang menuju luar Kota Saumlaki baru bisa dinormalkan secara menyeluruh sejak Selasa malam," ujar Robert. [cob]