Sejarawan Ungkap Ternyata Bukan Perang Nuklir yang Bisa Musnahkan Peradaban

Merdeka.com - Merdeka.com - Belakangan ini muncul kekhawatiran sejumlah pihak, khususnya Barat, bahwa Rusia akan menggunakan senjata nuklir di Ukraina. Saat awal invasi di Ukraina pada Februari lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan pasukan nuklir Rusia siaga tinggi. Dari situlah akar ketakutan itu bermula.

Namun pada Mei, pejabat Rusia mengatakan pihaknya tidak akan menggunakan senjata nuklir di Ukraina. Apakah senjata atau perang nuklir itu satu-satunya ancaman yang paling menakutkan yang dapat memusnahkan peradaban di Bumi?

Ternyata menurut salah seorang sejarawan, jawabannya adalah bukan perang nuklir, melainkan wabah yang sengaja diciptakan di laboratorium atau senjata biologis.

"Wabah, tentu saja, karena ia secara teoretis bisa memusnahkan ras manusia sedangkan perang nuklir besar-besaran kemungkinan tidak bisa," jelas sejarawan ternama Kanada, Gwynne Dyer, dalam artikelnya di South China Morning Post.

"Perang nuklir tidak mungkin melakukannya (memusnahkan seluruh manusia). Bahkan walaupun (perang nuklir) menyebabkan musim dingin nuklir jangka panjang, berlangsung bertahun-tahun dan membuat sebagian besar umat manusia kelaparan," jelasnya.

Karena, lanjutnya, jika masih ada beberapa pasangan manusia yang bisa berkembang biak, manusia pasti akan bisa bertahan.

Dia juga menjelaskan, iklim di planet ini telah melalui berbagai tahap ekstrem dalam riwayatnya yang panjang dan kehidupan masih tetap bertahan.

"Di atas planet seperti planet kita ini, selalu ada beberapa tempat yang cukup hangat atau cukup dingin untuk ditempati selama masa-masa ekstrem," jelasnya.

Dyer juga memaparkan, ancaman yang benar-benar ada adalah ancaman yang mungkin kita ciptakan sendiri, seperti kecerdasan buatan atau AI yang tidak terkendali atau virus pembunuh rekayasa khusus.

"Tapi itu perangkat lunak, atau "wetware", dan hanya sedikit orang yang menganggapnya serius."

Namun menurutnya selama ini hanya sedikit anggaran yang digelontorkan badan internasional untuk penelitian keamanan AI, mengutip Toby Ord, filsuf Universiats Oxford yang menyatakan: "Badan internasional yang bertanggung jawab atas pelarangan senjata biologis (Konvensi Senjata Biologis) yang berkelanjutan memiliki anggaran tahunan hanya USD1,4 juta – kurang dari rata-rata restoran McDonald."

Dyer menulis, anggaran untuk penelitian keamanan AI ini hanya beberapa puluh juta, dibandingkan dengan miliaran dalam penelitian AI secara umum.

"Jadi jika kita terus melempar dadu, suatu saat dalam beberapa abad mendatang kita pasti akan mengalami kiamat dengan satu atau lain cara. Tetapi prediksi Ord, meskipun akurat, didasarkan pada asumsi bahwa kita terus berjalan dengan ceroboh dan tidak pernah mengembangkan perspektif jangka panjang yang memungkinkan kita untuk mengurangi risiko," tulisnya.

"Kita mencoba mengubah seluruh ekonomi kita untuk mencegah bencana perubahan iklim. Kita bahkan bereksperimen dengan cara mengalihkan asteroid agar tidak menabrak Bumi. Hampir tidak cukup, tetapi tidak buruk jika Anda mempertimbangkan bahwa, 500 tahun yang lalu, banyak orang bahkan tidak tahu bahwa Bumi itu bulat." [pan]