Sejumlah Anak Mengidap Peradangan Langka Terkait COVID-19

Daurina Lestari, BBC Indonesia

 

File photo dated 13/10/15 of a child with a carer.

 

Sejumlah anak di Inggris dan Amerika Serikat mengidap penyakit peradangan langka yang terkait dengan virus corona.

Di beberapa tempat lainnya di Eropa, sejumlah anak lainnya juga didiagnosa mengalami penyakit serupa yang gejalanya serupa dengan Sindrom TS atau toxic shock syndrome.

Setidaknya 100 anak di Inggris telah mengidap penyakit tersebut. Beberapa di antara mereka memerlukan perawatan intensif, lainnya pulih dengan cepat.

 

 

Pada April, para dokter layanan kesehatan Inggris (NHS) diminta untuk memantau penyakit langka dan berbahaya pada anak-anak.

Hal ini mengemuka setelah delapan anak jatuh sakit di London, termasuk bocah berusia 14 tahun yang kemudian meninggal dunia.

Menurut para dokter, kedelapan anak tersebut mengalami gejala yang mirip ketika diopname di Rumah Sakit Anak Evelina, London, termasuk demam tinggi, ruam kulit, mata merah, bengkak, dan nyeri.

Sebagian besar anak tidak punya masalah pernapasan atau paru-paru, namun tujuh di antara mereka dipasangi ventilator untuk membantu menangani masalah jantung dan sirkulasi.

 

Beijing

 

Para dokter menyebutnya "fenomena baru" mirip sindrom Kawasaki – kondisi langka yang utamanya menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun. Gejala-gejalanya mencakup ruam kulit, pembengkakan kelenjar pada leher, serta bibir pecah-pecah.

Namun, sindrom baru ini juga berdampak pada anak-anak yang usianya lebih tua hingga 16 tahun. Sebagian kecil dari mereka mengalami komplikasi serius.

Dr Liz Whittaker, dosen klinis di bidang penyakit menular pada anak-anak dan imunologi, di Imperial College London, mengatakan bahwa ada keterkaitan antara sindrom tersebut dan pandemi Covid-19.

"Ada pandemi Covid-19, kemudian tiga atau empat pekan kemudian kita menyaksikan puncak fenomena baru ini yang membuat kami berpikir bahwa ini adalah fenomena pascapenularan," ujarnya.

Itu artinya sindrom tersebut kemungkinan berkaitan dengan pembangunan antibodi setelah infeksi.

 

`Sangat langka`

 

Prof Russell Viner, selaku rektor Royal College of Paediatrics and Child Health, mengatakan mayoritas anak yang mengalami keadaan tersebut telah merespons perawatan dan semakin baik sehingga bisa kembali ke rumah.

Sindrom ini "sangat langka", katanya.

"Hal ini seharusnya tidak menghentikan para orang tua membiarkan anak-anak mereka keluar dari lockdown," tambah Prof Viner.

Menurutnya, pemahaman lebih lanjut mengenai penyakit peradangan "mungkin menjelaskan mengapa beberapa anak menjadi sangat sakit akibat Covid-19, sementara mayoritas tidak terdampak atau tidak menunjukkan gejala".

 

 

Anak-anak diperkirakan berjumlah 1% hingga 2% dari semua kasus positif virus corona atau kurang dari 500 pasien di rumah sakit.

 

China

 

Michael Levin, profesor kedokteran spesialis anak dan kesehatan anak internasional di Imperial College London, menjelaskan bahwa kebanyakan anak-anak teruji negatif virus corona, namun teruji positif untuk pendeteksian antibodi.

"Dengan demikian kami berpikir bahwa biologi penyakit entah bagaimana melibatkan respons imun yang tidak biasa terhadap virus," katanya.

Bagaimanapun, Profesor Levin menegaskan "ada banyak yang harus dipelajari" mengenai reaksi tersebut, yang baru diketahui dua hingga tiga pekan.

Anak-anak tampak terdampak hingga enam pekan setelah tertular virus, yang mungkin bisa menjelaskan penampakan sindrom baru beberapa pekan setelah kasus-kasus virus corona di Inggris mencapai puncak.

 

Bagaimana situasi di tempat lain?

 

Kasus-kasus serupa terjadi di Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Prancis, dan Belanda.

Setidaknya 15 negara bagian di AS kini tengah mencermati kondisi yang langka ini, menurut Gubernur New York, Andrew Cuomo.

Dari 83 kasus yang didiagnosa dengan sindrom peradangan di New York, 53 anak teruji positif atau memiliki antibodi Covid-19.

Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) di AS hendak mengeluarkan peringatan dan memutakhirkan definisi sindrom tersebut kepada penyedia layanan kesehatan pekan ini.

Sementara itu, berdasarkan kajian sejumlah dokter di Italia utara, 10 anak terdampak penyakit ini.

Ke-10 anak dalam kajian tersebut dimasukkan ke sebuah rumah sakit di Bergamo—pusat wabah di Italia—antara pertengahan Februari dan pertengahan April. Semuanya pulih.

Anak-anak yang berusia sekitar tujuh tahun tersebut, cenderung mengalami gejala parah seperti komplikasi jantung dan tanda-tanda Sindrom TS atau toxic shock syndrome. Mereka juga memerlukan perawatan tambahan dengan pemberian steroid.

Dalam tes antibodi, delapan anak tampak telah mengidap virus corona. Adapun dua lainnya tidak.

Namun, tes swab diyakini tidak berguna karena reaksinya cenderung terjadi beberapa pekan setelah infeksi.

Dr Lucio Verdoni, penulis kajian ini yang berprofesi sebagai dokter di Rumah Sakit Papa Giovanni XXIII di Bergamo, mengatakan: "Meski komplikasi ini sangat langka, kajian kami menyediakan bukti tambahan mengenai cara virus ini mempengaruhi anak-anak."

Sejumlah pakar kesehatan anak di Inggris mengatakan kondisi ini mungkin tidak hanya berdampak terhadap anak-anak.

Mereka kini tengah bekerja sama dengan para peneliti di AS dan Eropa guna mencari tahu lebih banyak mengenai apa yang mereka sebut sindrom peradangan multisistem pediatrik (paediatric inflammatory multisystem syndrome/PIMS-TS).