Sejumlah Mahasiswa Sengaja Terinfeksi COVID-19 Demi Dapat Uang

Adinda Permatasari
·Bacaan 1 menit

VIVA – Universitas Brigham Young Idaho melakukan investigasi terhadap klaim bahwa beberapa mahasiswanya secara sengaja terinfeksi virus corona SARS-CoV-2, dengan tujuan menjual plasma antibodi mereka.

Para petugas di universitas yang dimiliki oleh The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints itu mengutuk keras dugaan perilaku para mahasiswanya tersebut dan mengumumkan keputusannya untuk menskors siapapun yang tertangkap mencoba tertular COVID-19 dengan sengaja.

Baca juga: Cerita Penyintas COVID-19 Alami Perbedaan Kondisi Paru-paru

Dikutip laman Oddity Central, universitas itu kini tengah menyelidiki insiden tersebut di kampus. Mereka juga meminta para mahasiswa untuk tidak membahayakan diri maupun orang lain demi uang, karena risikonya tidak sebanding dengan uang yang didapat.

"Penularan dan penyebaran COVID-19 bukan hal yang sepele. Tindakan ceroboh atas kesehatan dan keselamatan akan menimbulkan penyakit lain dan kehilangan nyawa di komunitas kita. Jika mahasiswa sedang kesulitan, BYU-Idaho siap membantu. Tidak pernah ada kebutuhan untuk mengizinkan perilaku yang membahayakan kesehatan atau keselamatan demi mendapat uang," demikian pernyataan universitas.

Sejumlah media di Idaho, Amerika Serikat, telah mengidentifikasi beberapa pusat donasi yang membeli plasma antibodi, termasuk satu yang dekat dengan universitas yang mengklaim membayar penyintas COVID-19 sebesar USD100 per kunjungan. Uang itu diberikan sebagai 'ucapan terima kasih' karena menyelamatkan nyawa dalam masa pandemi.

Lokasi lainnya dikabarkan memberikan bayaran sebesar USD200 kepada pendonor untuk setiap kunjungan pertama atau kedua mereka.

Baca juga: Vaksin COVID-19, IDI: Semua Negara Tak Berani Pastikan Akan Berhasil

Menurut badan obat dan makanan Amerika Serikat, FDA, plasma dari orang yang sembuh COVID-19 kemungkinan efektif mengobati penyakit tersebut dan pengetahuan dan potensi manfaat dari produk itu lebih penting dari potensi risiko dari produk tersebut.

Hingga Selasa lalu, Universitas Brigham Young mengonfirmasi 119 mahasiswa aktif dan 20 pegawai yang positif COVID-19.