Sejumlah Rumah Warga Retak-Retak, Diduga Imbas Aktivitas Blasting PT AMNT

Liputan6.com, Sumbawa Barat - Warga di banyak desa di Kecamatan Sekongkang, Sumbawa Barat, NTB, resah mendapati rumah mereka retak-retak. Warga menduga aktivitas blasting atau peledakan di area pertambangan milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) menjadi biang keroknya.  

Getaran dirasakan oleh sejumlah warga, terutama warga di Desa Talonang Baru, Desa Tongo, Desa Ai Kangkung, dan Desa Tatar, seluruhnya berada di Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat.

Salah seorang warga Desa Aik Kangkung, Lalu Baharudin, kepada Liputan6.com, Selasa (4/12/2019) mengaku, aktivitas blasting PT AMNT membawa dampak yang tak baik bagi perumahan yang di tempati saat ini. Meski korporasi kerap berkelit jarak aktivitas blasting dengan perumahan warga sangat jauh.

"Jika saja BMKG bisa mendeteksi kekuatan itu kemungkinan setara dengan goyangan gempa 6 hingga 8 Skala Richter," katanya.

Adapun dampak yang timbulkan akibat aktivitas blasting ini, kata dia, menyebabkan sejumlah bangunan rumah menjadi retak dan ketakutan bagi warga karena khawatir rumah mereka akan roboh.

"Kalau lama-kelamaan digoncang seperti ini, semua bangunan kami akan hancur," keluhnya.

Baharudin menjelaskan, kerusakan akibat getaran blasting tersebut, rata-rata terjadi pada bagian dinding rumah. Semua kerusakan sama berupa retakan seperti dampak gempa.

Atas peristiwa tersebut, warga mengancam akan segera melaporkan pihak PT AMNT. Mereka berharap ada ganti rugi dari perusahaan tambang emas dan tembaga tersebut.

"Kita akan meminta ganti rugi kepada pihak perusahaan. Bayangkan, bangunan di sekitar semua retak. Kalau saja ada pemberitahuan dari perusahaan sejak awal maka kami tidak akan berada di dalam rumah," katanya.

Perusahaan, katanya, harusnya melakukan deteksi terhadap dampak dari aktivitas blasting hingga mendeteksi sejauh mana radius akibat aktivitas tersebut.

"Jika memang akan dilakukan pengeboman minimal ada pemberitahuan kepada masyarakat agar tidak berada didalam rumah pada saat melakukan blasting. Kami minta pihak PT AMNT untuk segera turun mengatasi masalah ini," katanya menambahkan.

Camat Sekongkang Syarifuddin membenarkan adanya aktivitas blasting tersebut, hanya saja dia membantah jika getaran yang ditimbulkan seperti gempa 8 SR.

"Ini sangat disayangkan, karena tidak sesuai dengan fakta. Jika getaran mencapai 8 SR maka tidak tidak akan ada bangunan yang tersisa lagi. Yang bersangkutan sudah kami panggil, namun hingga saat ini belum datang," jelasnya.

Sementara itu, pihak PT AMNT saat dikonfirmas Liputan6.com belum bisa memberikan keterangan apapun terkait aktivitas blasting yang diduga menyebabkan kerusakan pada rumah warga.

Simak juga video pilihan berikut ini: