Sejumput Kisah Perjalanan Bisnis Gudang Garam

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kabar duka menyelimuti dari keluarga pebisnis di Indonesia. Tan Siok Tjien, istri pendiri PT Gudang Garam Tbk Surya Wonowidjojo tutup usia.

Tan Siok Tjien wafat pada Minggu, 25 Oktober 2020, pukul 05.50 WIB di Kediri, Jawa Timur dalam usia 91 tahun.

Jenazah telah dimakamkan di makam keluarga, kompleks pabrik PT Gudang Garam Tbk, Selasa, 27 Oktober 2020, pukul 11.00 WIB.

"Sepanjang hidup, almarhumah telah memberikan teladan terbaik tentang nilai-nilai perusahaan yang terus dilestarikan hingga kini. Sebagaimana yang telah dicontohkan pula oleh pendiri perusahaan Bapak Surya Wonowidjojo,” dikutip dari keterangan resmi keluarga, Rabu, (28/10/2020).

"Karena itu, segenap pimpinan dan karyawan PT Gudang Garam Tbk akan terus melanjutkan nilai-nilai tersebut. Yaitu, dengan senantiasa bekerja keras demi kemajuan perusahaan serta kesejahteraan bersama,” tulis keterangan tersebut.

PT Gudang Garam Tbk dipimpin oleh putra Tan Siok Tjien, Susilo Wonowidjojo. Ia diangkat menjadi Presiden Direktur pada 20 Juni 2009. Per 2 Desember 2019 tercatat total kekayaan mencapai USD 6,6 miliar.

Lalu bagaimana perjalanan bisnis perusahaan rokok besar di Indonesia ini? Berikut rangkumannya ditulis Rabu, (28/10/2020):

Berawal dari Industri Rumahan

Mengutip laman PT Gudang Garam Tbk, perseroan berawal dari industri rumahan yang didirikan pada 1958 di Kota Kediri, Jawa Timur. Produk kretek yang diproduksi pertama kali adalah sigaret kretek klobot (SKL) dan sigaret kretek linting-tangan (SKT).

Perusahaan ini semula bernama PT Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam Kediri (PT Gudang Garam), demikian mengutip dari laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan merupakan kelanjutan dari perusahaan perorangan yang didirikan dan mulai operasi komersial pada 1958.

Mengutip Forbes, Surya Wonowidjojo semula bekerja di bisnis tembakau pamannya, dan mendirikan PT Gudang Garam Tbk pada 1958. Kakaknya Rachman Halim kemudian mengambilalih seperampat abad kemudian, hingga kematiannya pada 2008.

Surya Wonowidjojo tutup usia pada 28 Agustus 1985 dengan meninggalkan kesan mendalam bukan hanya di mata karyawan, tetapi juga masyarakat Kediri dan sekitarnya.

"Apa yang dicapai Gudang Garam saat ini tentu tidak terlepas dari peran penting sang pendiri, Surya Wonowidjojo. Beliau adalah seorang wirausahawan sejati yang dimatangkan oleh pengalaman dan naluri bisnis,” demikian seperti dikutip dari laman PT Gudang Garam Tbk.

Pada 1969, perseroan berubah status menjadi firma dan pada 1971 menjadi perseroan terbatas. Perseroan pun mencatatkan saham perdana pada 27 Agustus 1990.

Perusahaan kini dikenal luas baik dalam negeri dan luar negeri yang hasilkan produk dalam berbagai variasi. Produknya mulai dari sigaret kretek klobot (SKL), sigaret kretek linting tangan (SKT) hingga sigaret kretek linting mesin (SKM).

Selain itu, perseroan juga mendirikan PT Surya Madistrindo pada 2002. Perusahaan ini untuk menjalankan distribusi produk-produk sigaret Gudang Garam bersama dengan tiga perusahaan distribusi lainnya.

Pada 2009, PT Surya Madistrindo ditunjuk sebagai distributor tunggal yang memegang kendali strategi distribusi dan field marketing untuk seluruh wilayah Indonesia. PT Surya Madistrindo juga didukung oleh sumber daya manusia mencapai lebih dari 14 ribu orang tersebar pada 12 kantor perwakilan regional dan lebih dari 180 kantor perwakilan area di Indonesia.

PT Gudang Garam Tbk memiliki pabrik di Kediri, Gempol, Karanganyar dan Sumenep, Jawa Timur. Perseroan memiliki jumlah karyawan mencapai 32.028 pada akhir Juni 2020.

Hingga 30 Juni 2020, PT Gudang Garam Tbk mencatatkan laba Rp 3,82 triliun. Laba tersebut turun 19,74 persen dari periode 30 Juni 2019 yang mencapai Rp 4,28 triliun.

Perseroan mencatatkan pendapatan naik tipis 1,72 persen dari Rp 52,74 triliun pada 30 Juni 2019 menjadi Rp 53,65 triliun.

Aset PT Gudang Garam Tbk naik menjadi Rp 79,15 triliun pada 30 Juni 2020 dari periode 31 Desember 2019 sebesar Rp 78,64 triliun. Perseroan mengantongi kas sebesar Rp 8,25 triliun pada 30 Juni 2020.

Pemegang saham terbesar perseroan antara lain PT Suryaduta Investama sebesar 69,29 persen, masyarakat sebesar 24,45 persen, dan PT Suryamitra Kusuma sebesar 6,26 persen.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini