Sekda Denpasar pantau penanganan sampah setelah Galungan

Sekretaris Daerah Kota Denpasar IB Alit Wiradana memantau upaya penanganan sampah yang meningkat setelah Hari Suci Galungan pada 8 Juni 2022 di sejumlah tempat penampungan sementara di Ibu Kota Provinsi Bali itu.

"Kami melaksanakan pemantauan untuk memastikan optimalisasi penanganan, sehingga tidak terjadi penumpukan sampah di tempat penampungan sementara (TPS). Astungkara (syukurlah) bisa tertangani," kata Wiradana di Denpasar, Kamis.

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar, rata-rata volume sampah di Kota Denpasar mencapai 800-950 ton per hari.

Baca juga: Mangku Pastika: Perlu "dirigen" tangani persoalan sampah di Bali

Namun, Kadis DLHK Kota Denpasar IB Putra Wirabawa menyampaikan bahwa volume sampah di Kota Denpasar setelah Galungan meningkat berkisar 20-30 persen.

Menurut dia, secara umum DLHK Kota Denpasar setiap menyambut hari besar keagamaan senantiasa selalu bersiaga. Hal ini lantaran lonjakan volume sampah cenderung meningkat saat hari besar keagamaan.

"Kami tetap bersiaga kapanpun untuk memastikan kebersihan Kota Denpasar," ucap pria yang biasa disapa Gustra ini.

Antisipasi terhadap penanganan lonjakan sampah ini dilaksanakan dengan mengintensifkan seluruh personel. Terdapat sedikitnya 13 TPS dan 1.420 tenaga kebersihan yang bertugas dengan 40 armada truk yang dibantu moci di masing-masing kecamatan dan desa/kelurahan.

Baca juga: Kemendagri dukung daur ulang untuk atasi masalah sampah di Bali

"Walaupun untuk Galungan kali ini volume sampah mengalami peningkatan, kami tetap bersinergi dengan semua elemen hingga desa/kelurahan guna menangani sampah hari besar keagamaan yakni Galungan dan Kuningan ini," ujar Gustra

Ia menyampaikan bahwa lonjakan sampah tersebut didominasi bahan organik yang sebagian besar disebabkan oleh sampah sisa upacara dari rangkaian janur.

Gustra juga mengimbau masyarakat untuk turut andil meminimalisir jumlah sampah saat hari raya. Hal ini dapat dilakukan dengan pemilahan sampah organik dan anorganik sebelum dibuang.

Menurut dia, hal tersebut guna memberikan kemudahan dalam penanganan lanjutan. Seperti halnya pengolahan sampah organik menjadi kompos di TPS3R.

"Kami mengajak masyarakat untuk andil dalam menjaga kebersihan dengan memilah sampah dan membuang sampah sesuai dengan jam yang ditentukan oleh swakelola sampah" ujarnya.

Baca juga: Anggota DPD: Pemerintah desa di Bali dukung usaha pengelolaan sampah

Dengan demikian, kata Gustra, sampah tidak menumpuk di pinggir jalan dan kerja sama ini sangat penting menuju Kota Denpasar yang bersih dan asri.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel