Sekilas Cerita Kampung-Kampung di Surabaya yang Bernilai Sejarah

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah lokasi atau wilayah pasti bisa saja mendapatkan bahkan juga memiliki nama atau 'julukan' yang unik, bisa saja karena sejarah, keseragaman penduduknya, arsitektur bangunan, atau bisa juga karena upaya dari warga yang ingin membuat ciri khas untuk wilayahnya.

Salah satu wilayah di Indonesia memiliki segudang sejarah dan budaya di dalamnya yaitu Surabaya, Jawa Timur. Kota Pahlawan ini juga memiliki sejumlah nama kampung yang khas.

Sejarah kampung di Surabaya tidak lepas dari peraturan Wijkenstelsel yang dibuat oleh kolonial Belanda, mengharuskan setiap etnis harus mempunyai kampung sesuai etnisnya dan harus mendiami kampung masing-masing.

Sampai akhirnya tercipta kampung Eropa, kampung Arab, Kampung Pecinan dan kampung Bumiputera. Bahkan juga ada kampung-kampung yang juga memiliki julukan tersendiri karena sejarah dari lokasinya.

Berikut sejumlah kampung-kampung di Surabaya yang dikutip dari berbagai sumber antara lain instagram @suroboyo.ku, lovesuroboyo, dan lainnya, ditulis Jumat, (30/10/2020):

1.Kampung Surabayan

Berada di Jalan Surabaya, Kelurahan Kedungdoro, Tegalsari. Merupakan kampung yang sudah ada sejak zaman Majapahit. Bahkan, kampung Surabayan disebut sebagai cikal bakal kota Surabaya.

Kampung Surabayan tercatat sebagai kampung tertua di Surabaya. Namanya termaktub dalam dua kitab, yaitu kitab Sutasoma dan Negarakertagama zaman Kerajaan Majapahit.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Kampung Ningrat

Kampung tua Botoputih Surabaya yang berada di Jalan Pegirian, sebelah timur Kampung Ampel ini dulunya merupakan kampung hunian para ningrat. Disebut sebagai Kampung Ningrat karena keberadaannya sangat bersinggungan dengan sejarah Keraton Kerajaan Surabaya.

Di kampung inilah, terdapat Pesarean Sentono Botoputih kebanyakan yang dimakamkan di sini adalah para pemilik darah biru. Mulai dari kyai, Bupati Surabaya zaman dulu, hingga sultan.

Kampung Pecinan

Salah satunya ialah klenteng tertua yang ada di Surabaya. Klenteng ini bernama Hong Tiek Hian yang terletak di  terletak di Jl. Dukuh, di Surabaya Utara, di daerah Pecinan. Selain sebagai tempat ibadah klenteng ini pun menjadi tempat menyelenggarakan pertunjukan wayang. (Liputan6.com/IG/@surabaya)
Salah satunya ialah klenteng tertua yang ada di Surabaya. Klenteng ini bernama Hong Tiek Hian yang terletak di terletak di Jl. Dukuh, di Surabaya Utara, di daerah Pecinan. Selain sebagai tempat ibadah klenteng ini pun menjadi tempat menyelenggarakan pertunjukan wayang. (Liputan6.com/IG/@surabaya)

Pecinan atau Kampung Cina merujuk kepada sebuah wilayah kota yang mayoritas penghuninya adalah orang keturunan Tionghoa. Kampung Pecinan di Surabaya tersebar di empat kawasan, yaitu Karet, Kapasan, Tambak Bayan, kya kya atau Kembang Jepun, tetapi yang lebih terkenal sebagai kawasan Chinatownnya Surabaya adalah kawasan Kembang Jepun.

Kampung-kampung pecinan di Surabaya tersebut mempunyai keunikan dan kekhasan masing-masing. Sehingga berkembang menjadi tempat wisata terkenal yang kental dengan nuansa Tiongkok.

Kampung Arab

(Dhimas Prasaja/Liputan6.com)
(Dhimas Prasaja/Liputan6.com)

Kampung Ampel berada di sebuah kawasan dulunya bernama Kampemenstraat, sebelum diubah menjadi jalan KH. Mansyur. Kampung ini termasuk salah satu kampung tua yang ada di Surabaya.

Kampung ini juga menjadi saksi sejarah penyebaran agama Islam oleh Sunan Ampel di Pulau Jawa dan menjadikan Ampel sebagai pusat penyebaran agama Islam di Surabaya dan Jawa Timur.

Mayoritas penduduknya keturunan Arab dari Hadramaut (Yaman Selatan) yang melakukan migrasi besar-besaran ke Surabaya pada awal tahun 1900an.

Kampung Eropa

Potret Keindahan Surabaya Bak di Eropa (sumber: instagram/surabayasparkling)
Potret Keindahan Surabaya Bak di Eropa (sumber: instagram/surabayasparkling)

Kawasan kampung Eropa di Surabaya pada meliputi Jalan Rajawali (Heerenstraat), Jalan Jembatan Merah (Willemstraat) dan Jalan Veteran (Societeitstraat).

Di kampung tersebut tidak akan lagi ditemukan satu kampung lengkap dengan warga keturunan Eropa di dalamnya. Yang tersisa hanyalah bangunan-bangunan tua bergaya Eropa.

Kampung Peneleh

Kampung Peneleh terletak di kawasan Jalan Peneleh, Surabaya, merupakan salah satu perkampungan tertua yang ada di Kota Pahlawan.

Kampung Peneleh masih dikenal hingga sekarang karena memiliki berbagai jenis daya tarik. Mulai dari keberadaan rumah tinggal Hadji Oemar Said Tjokroaminoto dan juga ada Masjid Jami' Peneleh yang merupakan peninggalan Sunan Ampel. Di kampung ini juga terdapat makam-makam di tengah pemukiman warga.

Kampung Keraton

Kekuasaan Keraton Surabaya resmi berakhir pada 1743. Setelah saat Pakubuwono II menandatangani perjanjian dengan Belanda. Keraton Surabaya berkuasa selama 375 tahun.

Di Surabaya, hampir tidak dijumpai lagi bangunan-bangunan bekas Keraton Surabaya. Dikarenakan dulu Belanda menghancurkan bangunan-bangunan Keraton dan menggantinya dengan bangunan-bangunan bercorak kolonial.

Kampung Keraton berlokasi di Jalan Kramat Gantung Gang Keraton II. Di kampung ini terdapat sisa-sisa bangunan Keraton meskipun tidak banyak. Kampung Keraton juga sudah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya di Surabaya.

Kampung Dinoyo

Kampung Dinoyo terletak di pertengahan pusat kota Surabaya merupakan salah satu kampung tua di Surabaya. Sebagai kampung tua sejak zaman kolonial Belanda 1920 kampung Dinoyo hingga kini masih berdiri sebagai bukti sejarah.

Kampung Dinoyo berdekatan dengan Keputran yang dulu merupakan tempat tinggal puteri-puteri kerajaan atau keraton “Keputren”. Beberapa situs di kampung Dinoyo yang masih ada hingga saat ini, seperti makam Mbah Djojo Prawiro (sesepuh Dinoyo), Balai Rakyat hingga Ponten zaman Belanda.

Kampung Lawas

Kampung Lawas Maspati berlokasi di dekat Tugu Pahlawan. Kawasan ini dulunya merupakan tempat tinggal para punggawa keraton. Meskipun saat ini telah dikelilingi beberapa bangunan modern, akan tetapi nilai budayanya masih melekat.

Dalam kampung tersebut berdiri rumah milik Raden Soemomihardjo, yang merupakan seorang tokoh Keraton Surakarta yang pernah menjadi ndoro mantri alias mantri kesehatan bagi warga Maspati.

Ada juga Ongko Loro, yaitu bangunan bekas Sekolah Rakyat pada zaman Belanda, atau Rumah 1907 yang dulunya digunakan para pemuda Surabaya untuk menyusun strategi dalam pertempuran 10 November 1945.

(Ihsan Risniawan-FIS UNY)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini