Sekjen PDIP Ulas Teori Geopolitik Soekarno yang Relevan bagi Ketahanan Negara

Merdeka.com - Merdeka.com - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengulas teori geopolitik Soekarno yang dinilai relevan bagi ketahanan dan pertahanan nasional saat ini. Pemikiran Soekarno itu dituangkan dalam disertasi doktoralnya di Universitas Pertahanan.

Hasto menjelaskan, disertasinya mengandung semangat bagaimana bangsa Indonesia dengan kesadaran geopolitik membentuk kultur strategis yang khas Indonesia dan bertujuan membangun spirit kepemimpinan Indonesia bagi dunia. Pemikiran geopolitik Soekarno memiliki kerangka Pancasila dalam impelementasinya.

"Pemikiran geopolitik Soekarno yang kerangkanya adalah Pancasila, dikonstruksikan dalam body of knowledge, disertai posisi teoritiknya terhadap geopolitik Barat hingga geopolitik kontemporer. Teorinya yang disebut sebagai Progressive Geopolitical Coexistence, termasuk Wawasan Nusantara, bukanlah pemikiran abstrak, rumit dan kering sebagaimana dikatakan Dino," ujar Hasto dalam keterangannya, Jumat (10/6).

Hasto menjelaskan, geopolitik Indonesia bertujuan untuk merombak tata dunia yang tidak adil. Teori geopolitik Soekarno menyebut dunia akan damai bila bebas dari berbagai bentuk penjajahan.

"Geopolitik khas Indonesia bertujuan merombak tata dunia yang tidak adil. Postulat teori geopolitik Soekarno jelas, bahwa dunia hanya akan damai apabila terbebas dari berbagai bentuk penjajahan," jelasnya.

Dia memaparkan, Progressive Geopolitical Coexistence bermakna pendekatan geopolitik yang bertujuan agar negara-negara di dunia damai dan bisa hidup berdampingan. Dalam geopolitik Soekarno, kekuatan diplomasi luar negeri dan pertahanan bukanlah demi agresi menjajah atau merampok kekayaan alam negara lain, namun justru untuk memastikan dunia bebas dari penjajahan dan hidup berdampingan dengan damai.

Maka itu, Hasto menuturkan, sesuai disertasinya, Soekarno mengedepankan supremasi sains dan teknologi untuk Indonesia, dengan pengaruh yang sangat signifikan sebagai salah satu variabel geopolitik Soekarno.

"Alhasil, Progressive Geopolitical Coexsistence menjadi alternative of view bagi dunia atas pertarungan hegemoni yang terjadi saat ini," tegas Hasto.

Pengamat pertahanan dan militer Connie Rahakundini Bakrie menyinggung disertasi Hasto Kristiyanto berjudul Diskursus Pemikiran Geopolitik Soekarno dan Relevansinya terhadap Ketahanan Pertahanan Negara.

Menurut dia, ini bisa dimaknai bahwa negeri ini seharusnya sadar tidak bisa menjalankan politik luar negeri dan pertahanan kelas medioker atau biasa saja, yang lahir tanpa visi misi.

Connie, geopolitik Soekarno terarah bagi kepentingan NKRI kini dan erat dengan isu geopolitik regional dan internasional. Dibuktikan dengan pembebasan Irian Barat, peta jalan koridor pembangunan, pelembagaan pertahanan negara, hingga koridor kepentingan nasional dan pengaruhnya terhadap dunia. Bukan hanya itu saja, bahkan bisa menempatkan Pancasila sebagai garis kehidupan bagi dunia baru.

"Meliputi proyeksi Pasifik sebagai pivot (poros) dunia, Pancasila sebagai life line (garis kehidupan) dunia baru, Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non-Blok sebagai inspirasi kemerdekaan bangsa-bangsa Asia Afrika, serta tata dunia baru tanpa imperialisme dan kolonialisme," kata Connie, Kamis (9/6).

Menurut Connie, kita harus memahami dan mampu mendalami kembali pemikiran geopolitik Soekarno karena telah terbukti berpengaruh pada tingginya indeks pertahanan, kemandirian pertahanan negara, dan misi perdamaian dunia.

"Dari sisi relevansinya, pemikiran geopolitik Soekarno menjadi landasan kebijakan kita," ungkap Connie.

Bukan itu saja, disertasi Hasto dengan jelas menggambarkan bahwa Pancasila itu bukan suatu konsep yang abstrak.

"Justru dari enggak abstrak itulah, maka kita sangat konkrit, kita bisa melahirkan geopolitik yang berbeda," pungkas Connie. [ray]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel