Sekolah di Pelosok Paling Merasakan Dampak PJJ

·Bacaan 2 menit

VIVA – Kasus positif COVID-19 yang belum menunjukkan adanya penurunan, membuat rencana pembelajaran tatap muka terpaksa diurungkan. Akibatnya, pelajar kembali harus melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau belajar secara daring di rumah.

Meski cara ini dapat menyelamatkan anak dari risiko tertular COVID-19, tetapi tidak dipungkiri, PJJ turut membawa dampak negatif. Mendikbud Nadiem Makariem, bahkan pernah mengatakan, banyak daerah yang kesulitan melakukan belajar secara daring.

"Setelah kita mengevaluasi belajar jarak jauh ini, dampak negatifnya pada anak adalah sesuatu yang nyata," kata Nadiem secara virtual.

Jika sistem PJJ ini terus dilakukan, menurut Nadiem, risiko yang dirasakan anak akan semakin meningkat atau bahkan bisa permanen. Mulai dari risiko putus sekolah, kesenjangan antar daerah atau sekolah yang terus meningkat, hingga dampak stres yang dirasakan, tidak hanya pada anak tapi juga orangtua yang mendampingi.

Belum lagi, sekolah-sekolah di pelosok yang sulit mendapatkan akses internet, adalah kelompok yang paling sulit untuk menerapkan proses pembelajaran jarak jauh ini. Salah satu sekolah yang merasakan betapa sulitnya belajar secara daring adalah SDN Persiapan di Kampung Miri, Boven Digoel, Papua.

Salah seorang guru di SDN Persiapan Miri, Teda Gembenop, mengatakan, keterbatasan jaringan internet adalah alasan mengapa penerapan proses pembelajaran jarak jauh begitu sulit dilakukan.

"Dampaknya, kegiatan proses belajar mengajar sempat terhenti beberapa waktu," kata dia dalam keterangannya, Rabu 4 Agustus 2021.

Melihat kondisi tersebut, Tunas Sawa Erma (TSE) Group, turut memberikan dukungan dengan memberikan alat tulis, berupa buku tulis dan gambar, pensil berwarna, penghapus serta penggaris, dengan harapan anak-anak bisa bersemangat walaupun harus belajar dari rumah.

Tidak hanya SDN Persiapan Miri, bantuan tersebut juga diberikan kepada siswa-siswi di berbagai level pendidikan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Papua.

Pimpinan Divisi Humas TSE Group, Chinguk Cheong, menuturkan, bantuan alat tulis dapat membantu peningkatan kapasitas pendidikan masyarakat, khususnya bagi warga yang memiliki keterbatasan secara finansial untuk memberikan perlengkapan sekolah bagi anak-anak mereka.

"Kami berharap sumbangan ini mampu meningkatkan semangat belajar siswa-siswi di masa pandemi COVID-19 yang membuat aktivitas belajar hanya bisa dilakukan dari rumah. Semoga dengan alat tulis baru, anak-anak bisa semakin antusias menuntut ilmu," ucapnya.

Chinguk Cheong menambahkan, mereka menyalurkan alat tulis ke 4.500 murid yang tersebar di 36 sekolah di Merauke dan Boven Digoel, Papua, pada Juli 2021 lalu.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel