Sekolah Diwajibkan Tatap Muka, tapi Orangtua Masih Diberi Pilihan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim resmi mewajibkan sekolah yang tenaga pendidik telah divaksin untuk membuka pembelajaran tatap muka. Kendati begitu, keputusan bagi siswa untuk mengikuti pembelajaran tatap muka ada di tangan para orangtua siswa.

"Yang terpenting adalah orangtua atau wali murid boleh memilih, berhak dan bebas memilih bagi anaknya apakah mau melakukan pembelajaran tatap muka terbatas atau tatap melaksanakan pembelajaran jarak jauh," ucap Nadiem dalam konferensi pers secara daring pada Selasa (30/3/2021).

Untuk itu, Nadiem menekankan agar sekolah juga tetap memberikan pilihan pembelajaran jarak jauh. Selain untuk mengakomodasi pilihan orangtua yang belum mau memberikan anaknya sekolah tatap muka, opsi ini juga demi memenuhi tuntutan protokol kesehatan. Di mana pembelajaran tatap muka di masa pandemi hanya diizinkan 50 persen dari daya tampung ruangan.

"Jadi mau tidak mau walaupun sudah selesai vaksinasi dan diwajibkan untuk memberikan tatap muka terbatas, tapi harus melalui sistem rotasi. Sehingga harusnya menyediakan dua-dua opsinya, tatap muka dan juga pembelajaran jarak jauh," ujarnya.

Banyak Dampak Negatif PJJ

Mantan Bos Gojek Indonesia itu mengungkapkan kekhawatirannya jika sekolah tak kunjung menggelar pembelajaran secara tatap muka. Menurutnya banyak sekali dampak negatif yang ditimbulkan lantaran pembelajaran jarak jauh.

"Kita melihat trand-trand yang sangat mengkhawatirkan, trand anak-anak yang putus sekolah. Kita melihat penurunan capaian pembelajaran, apalagi di daerah-daerah di mana akses dan kualitas itu tidak tercapai. Jadinya kesenjangan ekonomi menjadi lebih besar ya," terang Nadiem.

Pembelajaran jarak jauh, lanjut Nadiem juga terpotret sebabkan orangtua menarik anaknya keluar dari sekolah. Hal ini lantaran mereka tak melihat peranan sekolah selama menggelar pembelajaran secara jarak jauh.

"Dan ada berbagai macam isu-isu kekerasan domestik yang terjadi dalam keluarga yang tidak terdeteksi. Jadi risiko dari sisi bukan hanya pembelajaran, tapi risiko dari masa depan murid itu dan risiko psikososial atau kesehatan mental dan emosional anak-anak itu, ini semuanya sangat rentan," ujarnya.

"Jadi kita harus mengambil tindakan tegas untuk menghindari agar ini tidak menjadi dampak yang permanen dan satu generasi menjadi terbelakang," ujarnya.

Saksikan video pilihan di bawah ini: