Sekolah Farmasi ITB dorong riset terkait produk tembakau alternatif

Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) mendorong riset terkait produk tembakau alternatif yang saat ini banyak ditemui di pasaran.

“Kami mendorong agar semakin banyak riset terkait produk tembakau alternatif yang sudah banyak ragamnya di pasaran. Sayangnya, riset terkait produk tersebut masih sedikit di Tanah Air,” ujar anggota Tim Pengkaji dari Sekolah Farmasi ITB, Prof Dr rer nat Rahmana Emran Kartasasmita MSi, dalam diskusi terpumpun di Jakarta, Rabu.

Dia menjelaskan minimnya riset terkait produk tembakau alternatif seperti tembakau yang dipanaskan, dapat menimbulkan informasi yang tidak akurat dan perdebatan yang berkepanjangan.

Menurut dia, perlu dukungan baik dari para peneliti dan akademisi maupun organisasi untuk memperkaya kajian ilmiah tentang produk tembakau alternatif. Hasil penelitian tersebut, dapat digunakan sebagai materi pengayaan naskah akademik, peneliti lain, masyarakat hingga pengambil kebijakan.

“Kami mengajak pemerintah dan pemangku kepentingan terkait lainnya untuk turut mengkaji produk tembakau alternatif dengan menggandeng para peneliti, akademisi, pelaku industri, asosiasi, hingga konsumen," katanya.

Baca juga: Tiga fakta soal nikotin yang perlu Anda ketahui
Baca juga: Kajian ITB sebut produk tembakau yang dipanaskan lebih rendah risiko

Ia mengatakan, hasil dari penelitian tersebut akan semakin memperkuat fakta-fakta yang sudah ada tentang produk tembakau alternatif sehingga menjadi referensi terpercaya dalam menyebarkan informasi kepada publik.

"Saat ini masih banyak informasi yang simpang siur mengenai produk tembakau alternatif di publik. Hasil kajian ilmiah ini nantinya dapat menjadi informasi yang komprehensif bagi publik, terutama perokok dewasa," katanya.

Hasil kajian dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukkan produk tembakau yang dipanaskan memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan rokok konvensional atau tembakau.

Baca juga: Restoran jadi tempat paparan asap rokok tertinggi pada perokok pasif
Baca juga: Kemenkes: Kebijakan KTR efektif jika pengawasan kuat
Baca juga: GATS: Pengguna rokok elektrik di Indonesia naik signifikan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel