Sektor Industri Indonesia Mengalami Kemunduran

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sektor industri Indonesia masih belum bergairah bahkan mengalami kemunduran. Sektor ini tidak lagi menjadi penggerak perekonomian dan tergantikan dengan sektor konsumsi.

"Ada sedikit kemunduran, yang dulunya kita di-lead (sektor) industri tapi sekarang oleh sektor konsumsi," kata Direktur Data Core Benny Handhoni, dalam Webinar Strategi Membangkitkan Kembali Sektor Industri di Indonesia, Jakarta, Kamis (29/4/2021).

Dalam sebuah sistem terdapat tiga siklus yakni input, proses dan output. Namun, setelah diamati, kata Benny, masalah utama yang sering dilupakan saat yakni adanya proses.

Era sebelum reformasi, pemerintah memberikan perhatian besar kepada pengusaha dalam negeri dan para pribumi. Tahun 1995 Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan membuat program yang membatasi produk impor yang masuk ke Indonesia.

Pemerintah mengedepankan penggunaan produk anak bangsa untuk digunakan sendiri. Produk impor yang masuk hanya sebatas bahan material yang diperlukan dalam industri dalam negeri.

"Impor produk ini hanya untuk bahan material yang akan diproses di dalam negeri," kata dia.

Produk olahan tersebut kemudian digunakan di dalam negeri dan juga diekspor ke luar negeri. Sayangnya cara yang sama tidak bisa dikendalikan dengan baik.

Kemampuan Negara

Foto yang diambil pada 16 November 2015 memperlihatkan pekerja tengah menyelesaikan produksi All News Kijang Innova di Pabrik TMMIN Karawang. Mobil baru tersebut akan memberi warna baru pada perkembangan pasar MPV dalam negeri. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Foto yang diambil pada 16 November 2015 memperlihatkan pekerja tengah menyelesaikan produksi All News Kijang Innova di Pabrik TMMIN Karawang. Mobil baru tersebut akan memberi warna baru pada perkembangan pasar MPV dalam negeri. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Impor bahan baku masih terus dilakukan tanpa menggali kemampuan negara menciptakan sendiri. Bahkan tidak sedikit produk jadi diimpor untuk langsung dikonsumsi masyarakat.

"Proses ini ditinggalkan, jadi hanya ada input dan output saja," kata dia.

Tak heran bila urusan ekspor-impor kini diatur oleh penguasa besar tanpa mementingkan keseimbangan produk dalam negeri. Mereka kata Benny, lebih banyak mengejar keuntungan belaka ketimbang mengedepankan aspek sosial ekonomi.

"Kuota ekspor impor ini diserahkan ke pengusaha besar yang dengan leluasa impor dan merek ini kan midle man saja jadi tujuannya buat rente saja," kata dia.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: