Sektor Keuangan Indonesia Masih Dangkal, Kalah Jauh Dibanding Negara ASEAN

Merdeka.com - Merdeka.com - Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto mengatakan bahwa sektor keuangan Indonesia masih dihadapkan dengan berbagai tantangan besar. Hal itu terlihat dari perkembangan sektor perbankan, pasar modal bahkan non bank di dalam negeri masih tertinggal dibandingkan negara lain.

"Kita mengidentifikasi masih besarnya tantangan dari sektor keuangan kita, sektor keuangan kita masih sangat dangkal baik perbankan, pasar modal, dan non banking institution. Kalau kita bandingkan dengan peer group atau negara di ASEAN, sektor keuangan kita masih tertinggal," kata Suminto dalam Launching Sukuk Tabungan seri ST009, Jumat (11/11).

Menurutnya, hal itu terlihat dari berbagai indikator. Misalnya dari aset perbankan, kapitalisasi pasar modal, manajemen investasi, insurance, dan seterusnya masih jauh lebih rendah dibanding peer group di kawasan.

Di samping itu, kata Suminto, literasi terhadap sektor keuangan juga masih cukup rendah. Oleh karena itu, hingga kini masih banyak investasi bodong, pinjol ilegal, dan skema-skema ponzi yang lain termasuk kedok koperasi simpan pinjam.

"Ini menunjukkan masih rendahnya literasi dari masyarakat kita yang mudah tergiur dengan skema-skema investasi yang ilegal, dengan janji-janji return yang tinggi dan lainnya," ujarnya.

Demikian juga akses terhadap sektor keuangan masih sangat perlu ditingkatkan. Instrumen sektor keuangan Indonesia masih menghadapi tantangan terbatasnya instrumen keuangan, termasuk instrumen pengelolaan sukuk.

Terbatasnya instrumen keuangan ini juga menyebabkan banyak dari masyarakat Indonesia, khususnya yang memiliki kapasitas keuangan yang tinggi, mereka membawa uangnya untuk investasi di luar negeri. "Sebab di sana sudah berkembang instrumen-instrumen yang lebih variatif dan banyak yang bisa memenuhi karakteristik kebutuhan dari masyarakat kita,"katanya.

Tawarkan Sukuk Seri ST009

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan membuka masa penawaran Sukuk Tabungan (ST) seri ST009. ST009 merupakan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel keenam sekaligus seri terakhir yang diterbitkan pemerintah tahun ini.

"ST009 merupakan green sukuk, saya kira ini untuk dapat menyasar investor yang lebih luas. Tentu dari sisi ritelnya adalah individual investor, dari sisi sukuknya menyasar investor memiliki konsen terhadap syariah, dan dari sisi greennya bisa menyasar investor yang konsen pada pembangunan hijau," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto, dalam pembukaan penawaran ST009, Jumat (11/11).

Kupon atau imbal hasil Sukuk Tabungan seri ST009 sebesar 6,15 persen per tahun. Adapun kupon ST009 sifatnya imbalan mengambang, artinya besaran kupon SBR akan disesuaikan dengan perubahan BI 7 Day Reverse Repo Rate setiap tiga bulan sekali.

Kupon ST009 sifatnya juga imbalan Minimal, artinya tingkat imbalan pertama yang ditetapkan akan menjadi imbalan minimal yang berlaku sampai dengan jatuh tempo.

Bentuk Kupon ST009 adalah tanpa warkat, tidak dapat diperdagangkan, tidak dapat dialihkan, dan tidak dapat dicairkan sampai jatuh tempo kecuali periode early redemption.

ST009 adalah instrumen yang tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder, namun terdapat fasilitas Early Redemption. Early Redemption merupakan salah satu fasilitas yang memungkinkan investor menerima sebagian pelunasan pokok ST009 oleh Pemerintah sebelum jatuh tempo.

Fasilitas ini hanya dapat dimanfaatkan oleh investor dengan minimal kepemilikan Rp2 juta di setiap Mitra Distribusi dengan nominal pengajuan minimal Rp1 juta dan kelipatannya serta jumlah maksimal yang dapat diajukan untuk Early Redemption adalah 50 persen dari total kepemilikan investor.

Nilai Nominal per Unit adalah Rp1 juta, Maksimum Pemesanan Rp2 miliar, Minimum Pemesanan Rp1 juta, Setelmen/Penerbitan pada 7 Desember 2022, Tenor, Jatuh Tempo 10 November 2024, Akad Wakalah, Underlying Asset Barang Milik Negara dan Proyek dalam APBN 2022 (termasuk green asset).

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com [idr]