Sektor nonmigas Jatim dorong kenaikan ekspor pada Desember 2019

Ahmad Buchori

Positifnya kinerja ekspor nonmigas pada Desember 2019 mendorong kenaikan ekspor Jawa Timur selama bulan itu yang mencapai 1,72 miliar dolar AS, atau naik sebesar 1,23 persen dibandingkan November 2019 yang mencapai 1,70 miliar dolar AS, sesuai catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim.

Kepala Bidang Distribusi Statistik BPS Jatim, Satrio Wibowo di Surabaya, Rabu mengatakan sektor nonmigas apabila dibanding November 2019, kinerjanya naik sebesar 4,97 persen, yaitu dari 1,58 miliar dolar AS menjadi 1,65 miliar dolar AS.

"Nilai eskpor nonmigas menyumbang sebesar 96,22 persen dari total ekspor bulan ini. Dibandingkan Desember 2018, nilai ekspor nonmigas juga mengalami kenaikan sebesar 11,30 persen," katanya.

Sebaliknya, kata Satrio, untuk komoditas migas malah turun sebesar 46,91 persen dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu dari 122,34 juta dolar AS menjadi 64,95 juta dolar AS pada bulan Desember.

"Komoditas migas hanya menyumbang 3,78 persen dari total ekspor Jawa Timur, dibandingkan Desember 2018 nilai ekspor migas justru naik sebesar 62,34 persen," katanya.

Satrio menyebut, komoditas sektor nonmigas yang mendominasi ekspor adalah golongan perhiasan/permata (HS 71), dengan kontribusi sebesar 3,2 milliar dolar AS.

Kemudian, diikuti golongan Kayu, Barang dari Kayu (HS 44) dengan kontribusi sebesar 1,31 milliar dolar AS, dan golongan Lemak dan Minyak Hewan/ Nabati (HS 15) dengan kontribusi 1,30 milliar dolar AS.

Sementara itu, untuk negara tujuan ekspor nonmigas Jatim didominasi Jepang, yang mencapai 2.959,13 juta dolar AS (15,28 persen), disusul Amerika Serikat sebesar 2.634,43 juta dolar AS (13,60 persen).

Berikutnya, tujuan ekspor nonmigas Jatim adalah ke Tiongkok sebesar 2.299,36 juta dolar AS (11,87 persen), dan di kawasan ASEAN yang mencapai 3.654,17 juta dolar AS (18,87 persen), serta ke Uni Eropa 1.614,49 juta dolar AS (8,34 persen).

"Surplus sektor nonmigas ini perlu lebih ditingkatkan supaya bisa menekan atau mengurangi defisit dari sektor migas," kata Satrio kepada wartawan.


Baca juga: Ekspor nonmigas Jatim turun akibat lemahnya konsumsi

Baca juga: Industri manufaktur dan kecil di Jatim tumbuh 5,23 persen