Sektor otomotif dan farmasi India belum siap lepas ketergantungan pada China

Oleh Aditi Shah, Neha Arora dan Zeba Siddiqui

NEW DELHI (Reuters) - Beberapa hari setelah bentrokan perbatasan dengan China bulan ini di mana 20 tentara India terbunuh, New Delhi mengatakan kepada perusahaan-perusahaan untuk menemukan cara guna memangkas impor dari China. Tetapi dua industri besar, otomotif dan farmasi, mengatakan ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Seperti banyak negara, India tergantung kepada China untuk produk-produk seperti komponen elektronik dan bahan obat karena tidak dapat mereka buat atau mereka peroleh dari sumber lain dengan murah, kata tokoh perusahaan dan industri.

Jadi setiap langkah membatasi impor atau membuatnya lebih mahal tanpa mengembangkan alternatif akan merugikan bisnis lokal.

"Kami tidak mengimpor karena kami ingin, tetapi karena kami tidak punya pilihan," kata R.C. Bhargava, ketua Maruti Suzuki India Ltd, produsen mobil terbesar di negara ini.

"Untuk menarik perusahaan agar berproduksi secara lokal, kita harus lebih kompetitif dan menurunkan biaya-biaya dibandingkan dengan negara lain."

India mengimpor sekitar 70,3 miliar dolar AS barang dari China pada tahun fiskal hingga Maret 2019, dan mengekspor hanya 16,7 miliar dolar AS, yang merupakan defisit perdagangan terbesarnya dengan negara mana pun.

Pemerintah sekarang berkonsultasi dengan perusahaan-perusahaan tentang pengetatan pembatasan pada 1.173 produk yang tidak penting, kata seorang pejabat badan perdagangan yang meminta disebut anonim. Produk-produk itu termasuk mainan, plastik, barang baja, elektronik dan komponen-komponen mobil tertentu - yang memasok pabrikan kendaraan.

Ini di atas rencana untuk meningkatkan hambatan perdagangan dan bea impor pada sekitar 300 produk dari China dan di tempat lain, sebagai bagian dari kampanye kemandirian dari Perdana Menteri Narendra Modi.

Pada April, India juga memperketat aturan investasi dari negara-negara tetangga, termasuk China, guna mencegah pengambilalihan oportunistik setelah pandemi.

"Jika segalanya meningkat, maka India akan kehilangan lebih banyak daripada China," kata kepala strategi perusahaan di salah satu dari 10 produsen obat terkemuka di India. "Kami tidak mampu menghasilkan ini."

"TIDAK ADA REAKSI SPONTAN"

Lebih dari seperempat impor suku cadang mobil India - 4,2 miliar dolar AS - berasal dari China pada 2019, termasuk bagian-bagian mesin dan transmisi, menurut data dari Asosiasi Produsen Komponen Otomatif India (ACMA).

Beberapa komponen ini sangat penting dan sulit cepat didapatkan di tempat-tempat lain, kata Vinnie Mehta, direktur jenderal ACMA, yang anggotanya termasuk perusahaan seperti Bosch, Valeo dan Minda Industries.

"Kami tidak dapat bereaksi spontan, terutama ketika kami baru bangkit dari gangguan yang disebabkan oleh pandemi," kata dia.

Pasokan China juga menjadi faktor kunci dalam industri obat yang sedang booming di India, yang mengekspor obat-obatan generik murah.

Beberapa perusahaan obat terbesar di India, seperti Sun Pharmaceutical Industries, Lupin dan IPCA Labs, mengandalkan China, dan India secara keseluruhan mendapat sekitar 70 persen dari pasokan bahan farmasi aktif (API)-nya dari sana, kata pejabat industri.

"Dalam waktu dekat, kami akan terus tergantung kepada China," kata Sudarshan Jain, sekretaris jenderal Aliansi Farmasi India, yang mewakili pembuat obat-obatan utama, meskipun dia yakin hanya ada "kemungkinan yang sangat rendah" dari pasokan API yang dipotong.

Namun, ini masih membuat produsen tergantung kepada harga murah dari China untuk bisa memenuhi kontrol harga di pasar dalam negeri dan tetap kompetitif di luar negeri.

Bulan ini, China meningkatkan harga parasetamol pereda nyeri umum dan ciprofloxacin, antibiotik yang digunakan untuk melawan infeksi pernapasan, sebesar 25-27 persen, kata seorang eksekutif industri senior.

"Ini adalah obat antibakteri yang penting. Jika kita tidak membeli dari China, akan ada kekurangan," kata eksekutif itu. "Meningkatkan kapasitas di India adalah proses bertahap dan panjang."

(Laporan tambahan oleh Sumit Khanna di Ahmedabad dan Rupam Jain di Mumbai; Disunting oleh Alasdair Pal dan Kevin Liffey)