Sektor Perdagangan Internasional Indonesia Jalan di Tempat

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) Poppy Ismalina memberikan catatan khusus kepada Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait sektor perdagangan internasional. Sektor ini sangat tidak berkembang dan bisa dikatakan jalan di tempat.

Hal ini tentu saja sangat berkebalikan dengan janji-janji dari pemerintah yang menargetkan menjadi pemain dunia. Produk-produk nasional bakal bisa menguasai pasar dunia. Berdasarkan catatan Poppy, justru produk domestik tidak berperan besar di kancah internasioal.

"Tetapi data data statistik pegakuan internasional tidak menjunjukan bahwa upaya tersebut tidak menunjukan kemajuan signifikan bahkan bisa kita katakan ini bejalan di tempat," kata dia dalam diskusi virtual di Jakarta, Kamis (13/11/2020).

Dia pun meminta agar Presiden Jokowi mengevaluasi beberapa kementerian di bawahnya kususnya di sektor perdagangan. Baik di Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, serta kementerian terkait lainnya.

"Ada paling tidak beberapa indikator bisa menjadi evaluasi yaitu bagaimana kemudian kita bisa selesaikan persoalan ini," katanya.

Dia mencatat, kontribusi ekspor barang dan jasa dalam aktivitas perdagangan internasional hanya 20 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) saja. Sementara sebanyak 80 persen masih mengandalkan perdagangan domestik.

"Artinya tidak terlalu pada dinamika global. Refleksi hanya sebuah definisi tapi sudah ada banyak mitigasi kita tidak tergantung kepada perekonomian global tetapi kalau tidak terjadi krisis ini justru menjadi persoalan," kata dia.

Kemudaian fakta lain juga menunjukan bahwa produk Indonesia di perdagangan internasional atau pasar global juga masih sangat rendah. Itu tercermin berdasarkan data 2017, di mana prosentase total ekspor dan ekspor produk manufaktur Indonesia terhadap transaksi global hanya 0,8 persen dan 0,5 persen.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Neraca Perdagangan Surplus 5 Bulan Berturut-turut,

Aktivitas bongkar muat kontainer di dermaga ekspor impor Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (5/8/2020). Menurut BPS, pandemi COVID-19 mengkibatkan ekspor barang dan jasa kuartal II/2020 kontraksi 11,66 persen secara yoy dibandingkan kuartal II/2019 sebesar -1,73. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Aktivitas bongkar muat kontainer di dermaga ekspor impor Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (5/8/2020). Menurut BPS, pandemi COVID-19 mengkibatkan ekspor barang dan jasa kuartal II/2020 kontraksi 11,66 persen secara yoy dibandingkan kuartal II/2019 sebesar -1,73. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Sebelumnya, ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal memberikan apresiasi kepada para menteri bidang ekonomi. Hal ini menyusul surplus neraca perdagangan Indonesia yang terjadi pada September 2020 sebesar USD 2,44 miliar.

Surplus neraca perdagangan pada September 2020 ini merupakan surplus bulanan ketujuh kalinya sepanjang tahun 2020 dan melanjutkan tren surplus lima bulan berturut-turut sejak bulan Mei 2020

"Ini sebuah prestasi, kalau saya lihat Pak Agus Suparmanto penyebutannya jarang di media tapi kerjanya bagus. No talk, action only," kata Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal di Jakarta, pada Kamis 22 Oktober 2020.

Menurut dia, surplusnya neraca dagang Indonesia karena ada peningkatan kinerja perdagangan, dan hal ini bisa menjadi sinyal pulihnya perekonomian nasional.

Selain itu, kinerja Menteri Keuangan Srimuyani Indrawati dan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita juga layak mendapat apresiasi. Di mana Srimulyani secara cepat mengeluarkan kebijakan fiskal di tengah pandemi COVID-19.

"Sri Mulyani Karena cepat responnya terhadap fiskal, stimulus meskipun PR-nya pencairannya. Agus Gumiwang mampu menjaga PMI (Purchasing Managers’ Index Indonesia)," kata dia.

Menurut dia, peningkatan surplus perdagangan yang disebabkan surplus nonmigas menjadi USD2,91 miliar bukan tiba-tiba saja. Melainkan hasil dari kinerja menteri-menteri ekonomi Jokowi.

Dimana secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia pada Januari–September 2020 tercatat surplus USD 13,51 miliar. Surplus tersebut bahkan telah melampaui surplus neraca perdagangan tahun 2017 yang mencapai USD 11,84 miliar, yang merupakan nilai surplus tertinggi dalam lima tahun terakhir (2015–2019).

"Kalau dibilang prestasi ini adalah prestasi utama dari pemerintahan Jokowi karena neraca dagang surplus. mungkin ada peran pandemi untuk tren impor yang melemah, tetapi kalau kita lihat tren impor bahan baku dan barang modal secara bulanan menunjukan tanda-tanda perbaikan," kata dia.

Saksikan video pilihan berikut ini: