Sektor Properti Melambat Pengaruhi Kinerja Industri Turunannya

Fikri Halim, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 2 menit

VIVA – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia (DPP REI), Paulus Totok Lusida, mengatakan, efek domino dari sektor properti memiliki peran yang cukup signifikan bagi perekonomian nasional. Perlambatan kinerja sektor properti saat pandemi COVID-19 dinilai juga memberi dampak turunan bagi industri lainnya.

Berdasarkan data REI, terdapat sekitar 175 sektor industri turunan serta ratusan UMKM, yang pasti terlibat dalam sebuah proyek pembangunan di sektor properti.

"Ada 175 industri ikutan lainnya dan juga ada lebih dari 350 UMKM, yang terlibat di dalam pembangunan properti," kata Totok dalam telekonferensi, Rabu 25 November 2020.

Baca juga: Anies Resmikan PLTS Hybrid Terbesar di Jakarta

Totok pun mengambil contoh properti yang dibangun dengan nilai Rp1 miliar. Dari nilai itu, kebutuhan proses produksi rumah atau huniannya saja bisa mencapai sekitar 64 persen atau Rp640 juta. Selain itu, lanjut Totok, ada juga aspek pajak yang harus dibayar oleh pihak pengembang, dengan besaran sekitar 23 persen atau Rp230 juta.

Kemudian untuk biaya pengembangan, dengan upaya penyediaan fasilitas di perumahan tersebut, memerlukan biaya 13 persen atau sekitar Rp130 juta.

"Sehingga efek domino yang kita berikan kepada pemerintah saat kita membangun suatu properti itu sangat besar dan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi makro Indonesia," ujarnya.

Namun, akibat pandemi COVID-19, Totok mengakui bahwa hal itu membawa dampak yang cukup besar bagi sektor properti. Hal itu dapat dilihat dari penurunan sekitar 30 persen pada capaian target pembangunan rumah, yang tengah dikejar DPP REI pada 2020.

"Ada 35 DPD REI yang menargetkan pembangunan 239 ribu unit rumah sederhana di 2020. Tapi kenyataannya sampai hari ini justru turun 30-40 persen," kata Totok.

Dia memastikan, umumnya para calon end user yang sudah siap membeli properti kembali memutuskan menunda, guna menyiasati berbagai dampak ekonomi akibat pandemi COVID-19 ini.

"Karena mereka (calon end user) sekarang ini ada yang 'work from home', ada yang dulunya kerja sekarang hanya kerja 20 persennya saja, atau bahkan sudah tidak bekerja sehingga pendapatan yang diterima sangat berkurang," tuturnya. (art)