Sekutu-sekutu AS anggap Putin bisa isi kekosongan strategi di Timur Tengah

Paris (AP) - Ia adalah pemimpin di panggung dunia, mengunjungi pasukan yang ditugaskan di sebuah zona perang nun jauh di sana pada hari libur, mendukung persekutuan dan kesepakatan ekonomi di Timur Tengah, minta bertemu dengan kanselir Jerman di ibu kota negaranya, menggambarkan dirinya dan negaranya sebagai mitra tepercaya di dunia yang semakin diliputi ketidakpastian.

Presiden Rusia Vladimir Putin selama ini menjalani pekan yang sibuk, masuk ke dalam situasi pasca serangan pesawat nirawak Amerika, yang membunuh jenderal Iran Qassem Soleimani. Kunjungan Putin pada Selasa ke Suriah merupakan simbol kenyataan yang dalam bulan-bulan terakhir ini tidak lagi menarik: posisi strategis AS di Timur Tengah adalah misteri bagi banyak sekutunya, dan Rusia lebih dari siap untuk mengisi kekosongan itu.

Pergeseran itu, dalam banyak hal, telah membuat sekutu-sekutu AS merasa serba salah -- atau berpaling kepada Rusia untuk mencari mitra.

Putin merupakan pemimpin dunia pertama yang berbicara dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, tak lama setelah serangan drone terjadi pada Jumat. Kanselir Jerman Angela Merkel, sementara itu, berangkat ke Kremlin untuk membahas krisis di Timur Tengah.

Kanada, Denmark dan Jerman memindahkan pasukan mereka di Irak atas kepentingan keselamatan, begitu juga dengan NATO yang menempatkan pasukan di sana sebagai bagian dari koalisi internasional untuk memerangi kelompok ISIS. Tidak ada tanda-tanda bahwa di antara mereka ada yang diberi peringatan oleh pemerintahan Trump soal serangan drone itu. Kegiatan koalisi terhenti, dan sekretaris jenderal NATO menggambarkan pembunuhan itu sebagai "keputusan AS. Ini bukan keputusan yang diambil oleh koalisi global ataupun NATO. Tapi semua sekutu khawatir soal aksi-aksi Iran yang mengganggu stabilitas di kawasan ini."

Pangkalan yang diincar untuk diserang di Irak utara dipenuhi dengan tentara koalisi.

Putin menawarkan alternatif untuk menangani kekacauan yang dirasakan itu.

"Sayangnya, situasi di kawasan tempat kita berada itu cenderung meningkat. Tapi Turki dan Rusia sedang memperlihatkan contoh berbeda --contoh kerja sama demi bangsa-bangsa kita dan seluruh Eropa," katanya di Turki pada Rabu (8/1).

Israel, yang mengkritik kesepakatan nuklir tahun 2015 dengan Iran, selama ini bungkam soal serangan drone. Hanya ada pernyataan singkat berisi pujian dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang tampaknya segan untuk meningkatkan situasi, yang sudah bergolak, antara sekutu terdekatnya dan musuh beratnya.

Pertemuan pertama Trump secara langsung dengan sekutu terjadi pada Senin (6/1), yaitu dengan wakil menteri pertahanan Saudi Khalid bin Salman. Tapi, dia tidak membenarkan ada pertemuan tersebut sampai satu hari kemudian, setelah sang pangeran mengungkapkannya dalam cuitan.