Selain Aglomerasi Jawa-Bali, Prioritas Vaksinasi Sasar Ibu Kota Provinsi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Tak hanya daerah aglomerasi Jawa-Bali, prioritas vaksinasi COVID-19 kini fokus menyasar ibu kota provinsi di Indonesia. Upaya tersebut melihat mobilitas penduduk di ibu kota provinsi terbilang tinggi, yang mana potensi penularan virus Corona tinggi.

"Memang prioritasnya sekarang sesudah aglomerasi Jawa-Bali sudah didorong, seluruh ibu kota provinsi akan prioritaskan untuk vaksinasi," ujar Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin saat Rapat Kerja Bersama Komisi IX DPR RI baru-baru ini.

"Karena di sana biasanya mobilitasnya tinggi, sehingga terjadi tingkat penularan tinggi. Keterisian rumah sakit dan angka kematian paling tinggi juga adanya di ibu kota provinsi," Budi menambahkan.

Upaya mendukung vaksinasi COVID-19, Kemenkes terus bekerja sama bilateral dan multilateral menyediakan stok vaksin. Pada September 2021, Indonesia kedatangan vaksin COVID-19 dalam jumlah banyak sebesar 82 juta dosis dari berbagai merek.

"Insha Allah, kita pada September ini kedatangan 82 juta dosis. Yang paling banyak datang itu pada minggu-minggu ini," ujar Budi Gunadi.

Budi lalu menambahkan,"Lalu minggu kedua, minggu ketiga, minggu keempat (September), kita akan kedatangan jumlah vaksin yang cukup banyak dan akan didistibusi ke daerah-daerah.".

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

#sudahdivaksintetap3m #vaksinmelindungikitasemua

Menuju 50 Juta Suntikan Berikutnya

Tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada warga saat vaksinasi keliling untuk warga Kelurahan Malaka Jaya di RPTRA Bunga Rampai, Jakarta, Jumat (9/7/2021). Pemprov DKI Jakarta memberikan pelayanan mobil vaksinasi COVID-19 keliling. (merdeka.com/Imam Buhori)
Tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada warga saat vaksinasi keliling untuk warga Kelurahan Malaka Jaya di RPTRA Bunga Rampai, Jakarta, Jumat (9/7/2021). Pemprov DKI Jakarta memberikan pelayanan mobil vaksinasi COVID-19 keliling. (merdeka.com/Imam Buhori)

Berdasarkan data per 12 September 2021, laju suntikan dosis pertama di Indonesia kian meningkat. Sejak vaksinasi COVID-19 dimulai pada 13 Januari 2021, Indonesia mencapai 50 juta suntikan pertama tanggal 8 Juni.

Selanjutnya, 50 juta suntikan kedua pada 31 Agustus 2021. Butuh waktu 36 minggu untuk sampai 50 juta pertama, kemudian 50 juta suntikan kedua bisa dicapai dalam waktu 7 minggu.

"Kita harapkan mudah-mudahan dalam waktu 5 minggu atau minggu pertama September 2021, kita lihat bisa mencapai 50 juta suntikan berikutnya," imbuh Budi Gunadi Sadikin.

Menurut Menkes Budi Gunadi, laju suntikan saat ini masih ada beberapa provinsi yang menjadi prioritas dan sudah cukup tinggi, seperti DKI Jakarta. Namun, ada juga beberapa daerah lain yang laju suntikan masih rendah.

"Sebenarnya DKI Jakarta (dosis pertama 122,68 persen) sudah melampaui target untuk suntik pertama. Sekarang, sedang mengejar suntik kedua. Beberapa daerah lain, misal Bali (95,26 persen), Kepulauan Riau (81,32 persen), Yogyakarta (68,56 persen) ikut menyusul," lanjutnya.

Provinsi dengan Vaksinasi COVID-19 Rendah

Tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada warga saat vaksinasi keliling untuk warga Kelurahan Malaka Jaya di RPTRA Bunga Rampai, Jakarta, Jumat (9/7/2021). Mobil vaksinasi COVID-19 keliling menargetkan 100 perserta melalui aplikasi JAKI. (merdeka.com/Imam Buhori)
Tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada warga saat vaksinasi keliling untuk warga Kelurahan Malaka Jaya di RPTRA Bunga Rampai, Jakarta, Jumat (9/7/2021). Mobil vaksinasi COVID-19 keliling menargetkan 100 perserta melalui aplikasi JAKI. (merdeka.com/Imam Buhori)

Perkembangan cakupan vaksinasi COVID-19 dosis pertama dilihat per provinsi hingga 12 September 2021, ada daerah dengan vaksinasi di bawah 34 persen. Kemenkes meminta ketercapaian target vaksinasi terus dikejar.

"Sekarang, kita juga akan konsentrasi ke berapa daerah yang (cakupan vaksinasi) masih di bawah 34 persen (dosis pertama) dari rata-rata nasional. Ini untuk mengingatkan mereka mengejar angka vaksinasi," jelas Budi Gunadi Sadikin.

"Fokusnya memang untuk daerah-daerah yang berisiko jumlah kasus masih tinggi, terutama wilayah aglomerasi Jawa-Bali dan di seluruh ibu kota provinsi. Kenapa? Karena memang kasus-kasus tinggi, rumah sakit keterisian, dan kematian tinggi biasanya terjadi di daerah metropolitan, yang bukan di daerah-daerah pedesaan."

Adapun provinsi dengan cakupan vaksinasi COVID-19 dosis pertama rendah, bahkan di bawah 20 persen, yakni Papua (19,35 persen), Maluku Utara (18,83 persen), Sumatera Barat (18,43 persen), dan Lampung (15,18 persen).

Infografis WFH Bukan Berarti Jalan-Jalan ke Luar Kota

Infografis WFH Bukan Berarti Jalan-Jalan ke Luar Kota (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis WFH Bukan Berarti Jalan-Jalan ke Luar Kota (Liputan6.com/Triyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel