Selain Bisnis Rokok, Gudang Garam Juga Bikin Perusahaan Jalan Tol

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Produsen rokok ternama PT Gudang Garam Tbk kini merambah bisnis jalan tol. Hal ini terungkap dengan dibukanya perusahaan baru cucu Gudang Garam, PT Surya Kertaagung Toll (SKT).

Mengutip Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (12/11/2020), perusahaan ini sudah didikan sejak 6 November 2020. Surya Kertaagung Toll merupakan anak usaha PT Surya Kerta Agung (SKA).

Disebutkan, pendirian SKT ini telah dituangkan dalam Akta Pendirian Nomor 09 tanggal 6 November 2020 yang dibuat oleh Notaris Danny Rachman Hakim dan telah mendapatkan pengesahan oleh Menteri Hukum dan Hak Aasai Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-0057932.AH.01.01 Tahun 2020 tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perseroan Terbatas PT Surta Kertaagung Toll.

Secara struktur modal, SKT memiliki modal dasar sebesar Rp 1,2 triliun, modal ditempatkan dan disetor sebesar Rp 300 miliar atau sebanyak 300.000 saham dengan nilai nominal Rp 1 juta per saham.

Untuk struktur kepemilkan saham, SKA mengambil bagian saham sebanyak 299.999 saham ataur stara dengan Rp 299,999 miliar. Sementara Heru Budiman mengambil bagian saham sebanyak 1 saham atau setara dengan Rp 1 juta.

Disebutkan oleh Corporate Secretary Gudang Garam Heru Budiman, maksud dan tujuan dari pendirian SKT ialah untuk mengembangkan usaha dalam bidang pembangunan, peningkatan, pemeliharaan dan perbaikan jalan, jalan raya dan jalan tol, jembatan dan jalan layang, termasuk juga kegiatan pembangunan, peningkatan, pemeliharaan, penunjang, pelengkap dan perlengakapn jalan, jembatan dan jalan layang.

"Seperti pagar atau tembok penahan, drainase jalan, marka jalan dan rambu-rambu serta pemasangan bangunan prafabrikasi yang utamanya memiliki bahan baku dari beton untuk konstruksi jalan dan jalan rel sebagai bagian dari pekerjaan yang tercakup dalam konstruksi bangunan sipil dan biasanya dikerjakan atas dasar subkontrak," ujarnya.

Dijelaskan juga, pendirikan SKT tidak memiliki dampak terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan atau kelangsungan usaha Gudang Garam.

Sejumput Kisah Perjalanan Bisnis Gudang Garam

Susilo Wonowidjojo adalah pendiri perusahaan besar di Indonesia yang bernama Gudang Garam. Salah satu tokoh pebisnis terkenal ini menempati urutan kedua orang terkaya di Indonesia dengan jumlah kekayaan senilai USD 5,5 miliar/Rp 74 triliun. (forbes.com)
Susilo Wonowidjojo adalah pendiri perusahaan besar di Indonesia yang bernama Gudang Garam. Salah satu tokoh pebisnis terkenal ini menempati urutan kedua orang terkaya di Indonesia dengan jumlah kekayaan senilai USD 5,5 miliar/Rp 74 triliun. (forbes.com)

PT Gudang Garam Tbk saat ini dipimpin oleh putra Tan Siok Tjien, Susilo Wonowidjojo. Ia diangkat menjadi Presiden Direktur pada 20 Juni 2009. Per 2 Desember 2019 tercatat total kekayaan mencapai USD 6,6 miliar.

Mengutip laman PT Gudang Garam Tbk, perseroan berawal dari industri rumahan yang didirikan pada 1958 di Kota Kediri, Jawa Timur. Produk kretek yang diproduksi pertama kali adalah sigaret kretek klobot (SKL) dan sigaret kretek linting-tangan (SKT).

Perusahaan ini semula bernama PT Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam Kediri (PT Gudang Garam), demikian mengutip dari laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan merupakan kelanjutan dari perusahaan perorangan yang didirikan dan mulai operasi komersial pada 1958.

Mengutip Forbes, Surya Wonowidjojo semula bekerja di bisnis tembakau pamannya, dan mendirikan PT Gudang Garam Tbk pada 1958. Kakaknya Rachman Halim kemudian mengambilalih seperampat abad kemudian, hingga kematiannya pada 2008.

Surya Wonowidjojo tutup usia pada 28 Agustus 1985 dengan meninggalkan kesan mendalam bukan hanya di mata karyawan, tetapi juga masyarakat Kediri dan sekitarnya.

"Apa yang dicapai Gudang Garam saat ini tentu tidak terlepas dari peran penting sang pendiri, Surya Wonowidjojo. Beliau adalah seorang wirausahawan sejati yang dimatangkan oleh pengalaman dan naluri bisnis,” demikian seperti dikutip dari laman PT Gudang Garam Tbk.

Pada 1969, perseroan berubah status menjadi firma dan pada 1971 menjadi perseroan terbatas. Perseroan pun mencatatkan saham perdana pada 27 Agustus 1990.

Perusahaan kini dikenal luas baik dalam negeri dan luar negeri yang hasilkan produk dalam berbagai variasi. Produknya mulai dari sigaret kretek klobot (SKL), sigaret kretek linting tangan (SKT) hingga sigaret kretek linting mesin (SKM).

Selain itu, perseroan juga mendirikan PT Surya Madistrindo pada 2002. Perusahaan ini untuk menjalankan distribusi produk-produk sigaret Gudang Garam bersama dengan tiga perusahaan distribusi lainnya.

Pada 2009, PT Surya Madistrindo ditunjuk sebagai distributor tunggal yang memegang kendali strategi distribusi dan field marketing untuk seluruh wilayah Indonesia. PT Surya Madistrindo juga didukung oleh sumber daya manusia mencapai lebih dari 14 ribu orang tersebar pada 12 kantor perwakilan regional dan lebih dari 180 kantor perwakilan area di Indonesia.

Pabrik

PT Gudang Garam Tbk memiliki pabrik di Kediri, Gempol, Karanganyar dan Sumenep, Jawa Timur. Perseroan memiliki jumlah karyawan mencapai 32.028 pada akhir Juni 2020.

Hingga 30 Juni 2020, PT Gudang Garam Tbk mencatatkan laba Rp 3,82 triliun. Laba tersebut turun 19,74 persen dari periode 30 Juni 2019 yang mencapai Rp 4,28 triliun.

Perseroan mencatatkan pendapatan naik tipis 1,72 persen dari Rp 52,74 triliun pada 30 Juni 2019 menjadi Rp 53,65 triliun.

Aset PT Gudang Garam Tbk naik menjadi Rp 79,15 triliun pada 30 Juni 2020 dari periode 31 Desember 2019 sebesar Rp 78,64 triliun. Perseroan mengantongi kas sebesar Rp 8,25 triliun pada 30 Juni 2020.

Pemegang saham terbesar perseroan antara lain PT Suryaduta Investama sebesar 69,29 persen, masyarakat sebesar 24,45 persen, dan PT Suryamitra Kusuma sebesar 6,26 persen.