Selain Evergrande, Tiga Perusahaan Properti China Hadapi Krisis Utang

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Krisis real estate China bergulir bak bola panas dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Pengembang properti terbesar kedua di China Evergrande dengan kemelut utang guncang pasar global pada September. Ini karena perusahaan gagal membayar utangnya yang besar.

Sejak saat itu, bermunculan pengakuan serupa kepada publik dari pengembang China lainnya. Akhirnya membuat investor takut dan memiliki kekhawatiran tinggi terjadi perluasan penularan di seluruh sektor.

Tidak jelas cara apa yang dipilih untuk menyelesaikan krisis. Perusahaan bisa memulai dengan mencoba merestrukturisasi utang dan menyelesaikan masalah dengan para pemberi pinjaman.

Bisa juga dengan berupaya mencari dana talangan dari pemerintah China. Sejauh ini, Beijing tidak banyak bicara tentang masalah Evergrande. Janjinya hanya untuk melindungi konsumen.

Opsi terakhir dan paling buruk dari pengembang China ini adalah diterpa serangkaian default yang tidak teratur. Yang mana dapat mengirimkan gelombang pukulan bagi perekonomian China bahkan berpotensi meluas.

Setidaknya sudah ada empat pengembang telah mengalami krisis utang. Sebelumnya industri real estat China sangat menggeliat hingga kini di ujung tanduk, seperti dikutip dari CNN, Rabu (13/10/2021).

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

1. Evergrande

Orang-orang berjalan melewati sebuah indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Bursa saham Asia turun setelah Korea Utara (Korut) melepaskan rudalnya ke Samudera Pasifik. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)
Orang-orang berjalan melewati sebuah indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Bursa saham Asia turun setelah Korea Utara (Korut) melepaskan rudalnya ke Samudera Pasifik. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Pergolakan dimulai September dengan adanya peringatan terhadap Evergrande. Lantas memicu kekhawatiran oleh bank dan investor di seluruh dunia karena memungkinkan terkena imbas utang perusahaan yang menumpuk.

Dengan total kewajiban sekitar USD 300 miliar atau setara Rp 4.263,9 triliun (estimasi kurs Rp 14.213 terhadap dolar AS) termasuk USD 20 miliar atau Rp 284,2 triliun obligasi global. Melihat kondisi itu,

Evergrande menjadi perusahaan real estat China yang paling banyak memiliki utang. Akhir September, Evergrande Group mampu mengumpulkan USD 1,5 miliar uang tunai atau setara Rp 21,3 triliun) hasil menjual sebagian sahamnya di bank China (Shanghai Bank).

Pekan ini, dikutip dari laman CNN, Rabu (13/10/2021), perusahaan dilaporkan gagal memenuhi untuk pembayaran bunga obligasi berdenominasi dolar AS senilai USD 148 juta atau setara Rp 2,1 triliun. Ini adalah pembayaran ketiga yang tampaknya akan diabaikan oleh kolongmerat properti China selama beberapa minggu.

Kegagalan pembayaran biasanya memiliki tenggang waktu. Dalam kasus ini, Evergrande memiliki 30 hari sejak Kamis, 23 September 2021. Meskipun demikian, waktu akan cepat berlalu hingga akhirnya waktu itu tiba.

Saham Evergrande turun sekitar 80 persen tahun ini. Valuasi pasar turun menjadi 39 miliar Hong Kong atau USD 5 miliar. Jumlah itu setara Rp 71,06 triliun).

Pada pekan lalu, saham Evergrande disetop dan tidak lagi diperdagangkan di bursa. Sambil menunggu laporan terkait pengembang saingan ingin membeli bisnis manajemen properti perusahaan.

2.Fantasia

Orang-orang berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Orang-orang berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Pengembang apartemen mewah, Fantasia Holdings juga tertatih-tatih. Perusahaan yang berbasis di Shenzhen itu mungkin akan gagal membayar utang kepada pemberi pinjaman sejumlah USD 315 juta atau Rp 4,57 triliun pada minggu ini.

Utang tersebut terdiri dari USD 206 juta atau setara Rp 2,92 triliun pembayaran obligasi dan 700 juta Yuan atau USD 109 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun dari unit Country Garden

“Fantasia mengungkapkan kondisi ini berpotensi akan default pada utang luar negeri,” ujar Country Garden, dilansir dari laman CNN, Rabu, 13 Oktober 2021.

Agensi pemeringkat S&P dan Moody memberi peringkat kredit default pada Fantasia. Andai kata dan tidak membayar pokok utang potensial akan menjerumuskan perusahaan gagal bayar pada obligasi yang tersisa. Saham Fantasia turun hampir 60 persen pada 2021.

Saham Fantasia memiliki valuasi pasar 3,2 miliar dolar Hong Kong atau USD 420 juta. Jumlah itu setara Rp 5,96 triliun.

3.Modern Land

Seorang pria berjalan melewati indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Rudal tersebut menuju wilayah Tohoku dekat negara Jepang. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)
Seorang pria berjalan melewati indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Rudal tersebut menuju wilayah Tohoku dekat negara Jepang. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Perusahaan properti Modern Land berpusat di Beijing turut berjuang membayar utang tepat waktu. Pada Senin, 11 Oktober 2021, perusahaan meminta kepada investor agar memberikan waktu tambahan untuk membayar kembali (repayment) obligasi senilai USD 250 juta atau setara Rp 3,55 triliun. Seharusnya obligasi jatuh tempo pada Senin, 25 Oktober 2021.

Ketika Modern Land mengelola keuangannya, Chairman Zhang Lei dan Presiden Zhan Peng merogoh kocek pribadi untuk menutupi dan dukung perusahaan tetap hidup. Keduanya akan meminjamkan 800 juta Yuan atau USD 124 juta (setara Rp 1,7 triliun) kepada perusahaan.

Saham pengembang tergelincir hampir 50 persen pada 2021. Diikuti penurunan valuasi pasar hanya tersisa 1,2 miliar dolar Hong Kong atau USD 160 juta (Rp 2,27 triliun).

4.Sinic Holdings

Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Homebuilder Sinic Holdings merupakan pengembang teranyar terjerumus ke dalam krisis utang. Pada Senin, 11 Oktober 2021, Sinic Holdings memiliki beberapa pembayaran obligasi senilai USD 250 juta atau Rp 3,55 triliun.

Pokok dan bunga obigasi akan jatuh tempo pada Senin, 18 Oktober 2021. Senasib dengan Evergrande, Fantasia, dan Modern Land, Sinic Holding pun dibayangi default.

Pekan lalu, lembaga pemeringkat Fitch menurunkan peringkat Sinic menjadi seri C. Hanya satu tingkat di atas restrictive default. Kelas bagi sebuah perusahaan yang gagal membayar tetapi belum memulai proses resmi kebangkrutan atau likuidasi.

Saham Sinic paling tertekan dari empat pengembang tahun ini. Saham Sinic turun hampir 90 persen

dengan valuasi pasar perusahaan sekitar mencapai 1,8 miliar dolar Hong Kong atau USD 230 juta. Valuasi itu setara Rp 3,26 triliun.

Reporter: Ayesha Puri

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel