Selain Iran, 3 Negara Ini Tengah Meneliti Obat Untuk Virus Corona COVID-19

Liputan6.com, Teheran - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Iran mengklaim telah menemukan obat yang bisa menyembuhkan pasien terpapar Virus Corona atau COVID-19.

Kemenkes Iran mengumumkan, pengujian obat buatan dalam negeri telah berhasil mengobati gejala pada sejumlah kasus Virus Corona COVID-19 dengan kondisi parah.

Pengujian obat imunomodulator yang disebut Actemra terhadap para pasien yang terinfeksi Virus Corona berhasil memulihkan mereka secara parsial, kata Kepala Hubungan Masyarakat dan Pusat Informasi Kementerian Kesehatan dan Pendidikan Kedokteran Iran, Kianush Jahanpur, seperti dilaporkan harian Tehran Times, yang dilansir Xinhua.

Gejala-gejala tersebut menurun 48 jam setelah pasien Virus Corona mengonsumsi Actemra, lanjut Jahanpur, seraya menambahkan bahwa hasil itu ditemukan dalam proses pemindaian.

Meski pemerintah Iran menyebut itu masih dalam tahap awal, namun sejumlah negara selain Iran juga tengah meneliti obat apa yang mampu menyembuhkan Corona.

Seperti dikutip dari berbagai sumber, Kamis (12/3/2020) berikut ini sejumlah negara yang tengah meneliti obat dari Virus Corona:

 

1. China

Dokter memeriksa kondisi pasien kritis virus corona atau COVID-19 di Rumah Sakit Jinyintan, Wuhan, Provinsi Hubei, China, Kamis (13/2/2020). China melaporkan 254 kematian baru dan lonjakan kasus virus corona sebanyak 15.152. (Chinatopix Via AP)

Para peneliti di China masih berupaya menemukan obat yang tepat untuk menyembuhkan pasien yang terinfeksi Virus Corona jenis baru bernama COVID-19. Sejumlah obat antivirus kini sudah digunakan dalam uji klinis terhadap penyakit akibat Virus Corona.

Beberapa obat yang diuji sebagai anti-Virus Corona telah menunjukkan efektivitas yang cukup baik.

Menurut Direktur Pusat Pengembangan Bioteknologi Nasional China, Zhang Xinmin, para peneliti mempersempit fokus mereka pada beberapa obat yang sudah tersedia, termasuk Chloroquine Phosphate, Favipiravir dan Remdesivir, usai melakukan beberapa tahap penyaringan.

"Para peneliti memeriksa lebih dari 70.000 obat atau senyawa melalui simulasi komputer dan uji aktivitas enzim in vitro, lalu memilih 5.000 kandidat obat yang berpotensi efektif," ujarnya.

Zhang menyatakan, obat-obat itu kemudian diuji pada tingkat sel terhadap infeksi Virus Corona dan sekitar 100 obat terpilih untuk menjalani eksperimen lanjutan, yang membantu menentukan beberapa obat terakhir untuk uji klinis.

 

2. Rusia

Aktivitas tim medis saat menangani pasien dalam pengawasan (PDP) virus corona atau COVID-19 di ruang isolasi Gedung Pinere, RSUP Persahabatan, Jakarta Timur, Rabu (4/3/2020). Sebanyak 10 dari 31 pasien yang dipantau dan diawasi RSUP Persahabatan merupakan pasien rujukan. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)

Upaya yang dilakukan Rusia tak sendiri. Mereka berkolaborasi dengan China. Para ahli China dan Rusia melaporkan kemajuan dalam pengembangan obat-obatan dan vaksin untuk Virus Corona COVID-19, yang terus berdampak pada China dan dunia.

Zhang Hanhui, Duta Besar China untuk Rusia, mengatakan Moskow mengirim tim ahli ke China pada awal bulan Maret untuk bekerja sama dengan rekan-rekan mereka di Tiongkok mengembangkan obat-obatan untuk virus tersebut. Pekerjaan itu dikatakan "membuat kemajuan awal".

3. Israel

Karyawan diukur suhu badannya di sebuah perusahaan di Changxing, Huzhou, Provinsi Zhejiang, China, Rabu (12/2/2020). Di bawah arahan dan dukungan otoritas setempat, banyak perusahaan di Zhejiang kembali beroperasi setelah melakukan pencegahan dan pengendalian wabah virus corona. (Xinhua/Xu Yu)

Para ilmuwan dunia kini tengah berjuang mengembangkan vaksin Virus Corona, termasuk di Israel. Bahkan sebuah kelompok peneliti mengatakan bahwa vaksin tersebut akan rampung dalam tiga minggu dan siap digunakan dalam 90 hari.

Para ilmuwan di Galilee Research Institute, yang dikenal sebagai MIGAL, sedang mencoba vaksin virus bronchitis menular avian coronavirus, atau IBV, untuk bereaksi menghambat coronavirus baru yang dikenal sebagai COVID-19, seperti dilaporkan Jerusalem Post.

“Selamat kepada MIGAL atas terobosan yang menarik ini. Saya yakin akan ada kemajuan lebih lanjut yang cepat, memungkinkan kami untuk memberikan tanggapan yang diperlukan terhadap ancaman global COVID-19, ” kata Ofir Akunis, Menteri Sains dan Teknologi Israel.

Akunis mengatakan dia telah menginstruksikan direktur jenderal kementeriannya untuk mempercepat semua proses persetujuan. Karena menurutnya vaksin oral harus melalui proses regulasi, termasuk uji klinis.